Bersiap Hadapi Resesi, Ini Strategi Keuangan Yang Harus Kamu Lakukan

211
strategi keuangan

Resesi akibat pandemi Covid-19 sulit dihindari. Meski pemerintah sudah menggelontorkan sederet insentif, Indonesia belum bisa mencegah perlambatan ekonomi. Yang bisa kita lakukan adalah bersiap sebaik mungkin untuk menghadapinya. Strategi keuangan yang tepat harus dipersiapkan agar kita mampu melewati resesi yang sudah di depan mata.

Secara resmi, Indonesia akan masuk ke jurang resesi jika pertumbuhan ekonomi pada Kuartal III-2020 kembali terkoreksi. Soalnya, pada kuartal II-2020, pertumbuhan ekonomi tercatat minus 5,32% secara tahunan (yoy).

Dampak resesi kali ini mungkin tak seburuk resesi pada 1997. Tapi, potensi sejumlah industri yang gulung tikar, pemutusan hubungan kerja (PHK), dan penurunan daya beli masyarakat tetap ada.

Saat menghadapi ketidakpastian ekonomi, kita perlu menyiapkan strategi keuangan yang berbeda. Berikut ini strategi keuangan yang bisa kamu terapkan agar bisa melewati resesi tanpa gangguan finansial.

Amankan sumber penghasilan

Dalam kondisi resesi, pelaku industri tidak akan ekspansif. Mereka cenderung membatasi pengeluaran termasuk gaji karyawan. Skenario terburuk, perusahaan akan memangkas jumlah karyawan.

Jika kamu seorang karyawan, sebaiknya amankan sumber penghasilan utamamu terlebih dahulu. Jangan tergiur untuk pindah pekerjaan sebelum ekonomi membaik. Bertahan dengan pekerjaan sekarang adalah pilihan yang paling bijak.

Sekalipun pekerjaan saat ini tidak sesuai passion kamu, jalani saja dengan sebaik-baiknya. Bersyukurlah bahwa kamu masih mempunyai pekerjaan. Di luar sana, jutaan orang kehilangan pekerjaan sejak awal pandemi hingga jelang resesi.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Baca juga: Mengenal Kakeibo, Cara Kelola Uang Ala Jepang

Sementara, bagi kamu yang memiliki usaha sendiri, jangan terburu-buru untuk melakukan ekspansi. Pertimbangkan kembali rencana bisnis ke depan sambil terus memantau perkembangan perekonomian nasional. Tak ada salahnya menunda ekspansi jika situasinya memang tidak memungkinkan.

Ketatkan ikat pinggang

strategi keuangan

Dalam situasi ekonomi yang penuh ketidakpastian, jor-joran dalam pengeluaran bukan strategi keuangan yang tepat. Sebaliknya, kamu perlu mengetatkan ikat pinggang alias berhemat agar memiliki dana tunai yang cukup. Dalam kondisi resesi, cash is the king. Memegang uang tunai di kala resesi akan memberikan keamanan finansial yang lebih baik.

Kendati demikian, belanja rutin tetap harus dilakukan guna memenuhi kebutuhan pokok. Coba periksa ulang daftar belanja bulanan yang biasa kamu lakukan. Jika memungkinkan, pangkaslah anggaran belanja yang tidak perlu. Misalnya, anggaran liburan, entertainment dan makan di restoran.

Baca juga: Jangan Jor-Joran, Ini Strategi Hemat Pengeluaran Saat Pandemi

Tunda pengajuan kredit baru

Kamu mungkin sudah merencanakan banyak hal pada tahun ini. Misalnya, rencana untuk mengambil kredit pembelian rumah atau kredit pembelian mobil. Coba pertimbangkan lagi rencana pengajuan kredit tersebut di tengah situasi ekonomi yang suram ini. Jika kebutuhan kamu tidak mendesak, tidak ada salahnya menunda pengajuan kredit baru.

Sejak masa pandemi, bank dan lembaga pembiayaan juga memperketat pemberian kredit. Profil keuangan nasabah yang mengajukan kredit benar-benar diperhatikan. Maklum, di tengah krisis, orang berpotensi kehilangan sumber pendapatan dan bisa berujung pada gagal bayar.

Baca juga: Risiko Ganda di Balik Utang untuk Investasi

Pertimbangkan risikonya jika uang muka atau down payment yang harus dibayar ternyata jauh lebih besar dibandingkan kondisi sebelum pandemi. Jangan sampai kamu membayar uang muka dengan dana cadangan. Soalnya, dana cadangan sangat dibutuhkan dalam situasi saat ini.

Siapkan dana darurat

Pandemi dan resesi menyadarkan orang tentang pentingnya dana darurat. Dengan dana darurat, kamu bisa mengantisipasi kondisi terburuk seperti kehilangan pekerjaan, pemotongan gaji, turunnya pendapatan usaha, dan lain-lain. Saat ada gangguan finansial, dana darurat bisa digunakan untuk menutupi biaya kebutuhan pokok.

Bagi kamu yang masih lajang, dana darurat yang perlu disiapkan minimal enam kali pengeluaran bulanan. Sementara, besaran dana darurat bagi seseorang yang sudah berkeluarga bisa mencapai 9-12 kali pengeluaran bulanan. Semakin banyak jumlah anak dalam keluarga, semakin besar pula dana darurat yang harus dipersiapkan.

Tabungan dana darurat bisa dikumpulkan secara bertahap setiap bulan. Kamu bisa mengalokasikan sekitar 10% dari gaji untuk tabungan dana darurat. Selain itu, tabungan dana darurat juga bisa diisi dari sisa uang belanja bulanan.

Cari pendapatan tambahan

Jika memiliki skill tertentu, kenapa tidak menggunakannya untuk mencari pendapatan tambahan? Sebagai contoh, kamu bisa menggunakan kemampuan fotografi dengan menawarkan jasa foto produk ke pelaku usaha toko online.

Jika hobi kamu membuat kue, kamu bisa memproduksi kue yang tengah diminati pasar dan menjualnya secara online. Kamu juga bisa mencari pendapatan tambahan dengan menjadi penulis lepas, menjalankan bisnis drop shipping, affiliate marketing, jasa titip dan lain-lain.

Uang dari hasil kerja sampingan bisa kamu tabung untuk menambah dana darurat. Jadi, target dana darurat yang ideal bisa tercapai lebih cepat.

Atur ulang portofolio investasi

strategi keuangan

Resesi tak boleh menjadi alasan untuk berhenti berinvestasi. Hanya saja, kamu perlu mengatur ulang portofolio investasi agar tetap bisa cuan. Jangan sampai resesi membuat dana investasi kamu ambles.

Coba tinjau kembali daftar investasi kamu seperti deposito, reksa dana, saham, obligasi, emas dan lain-lain. Lihat kinerjanya selama pandemi berlangsung. Kalau instrumen investasi kamu ada yang merugi, coba pikirkan cara untuk mengalihkannya ke instrumen lain yang masih menguntungkan.

Setiap investasi juga memiliki tingkat risiko yang berbeda-beda. Investasi emas dan deposito memiliki risiko yang rendah. Lalu, obligasi memiliki tingkat risiko investasi sedang.

Untuk reksa dana, tingkat risikonya berbeda-beda, tergantung jenisnya. Reksa dana pasar uang dan reksa dana pendapatan tetap berisiko rendah. Reksa dana campuran berisiko sedang dan reksa dana saham berisiko tinggi. Investasi langsung di instrumen saham juga memiliki risiko yang terbilang tinggi.

Jika belum memiliki pengetahuan investasi yang memadai, kamu tidak disarankan untuk menerapkan strategi investasi agresif di masa resesi. Untuk itu, kurangi investasi berisiko tinggi dan alihkan ke instrumen investasi yang berisiko rendah dan sedang.

Ketika perekonomian membaik, kamu bisa menambah kepemilikan pada instrumen berisiko tinggi. Dalam berinvestasi, semakin tinggi risiko instrumen investasi, semakin tinggi pula peluang imbal hasilnya. Tapi, saat resesi, kesampingkan dulu ambisi untuk mengejar return setinggi-tingginya. Sikap defensif dalam berinvestasi akan lebih aman.

Kamu tak perlu terlalu khawatir dengan situasi ekonomi saat ini. Dengan menjalankan strategi keuangan di atas, kamu diharapkan bisa melalui resesi tanpa gangguan finansial yang berarti. 

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu