Beli Saham IPO, Perhatikan Untung-Ruginya Di Sini

171
beli saham ipo

Sebelum beli Saham IPO (initial public offering), kamu wajib memperhatikan untung-ruginya. Memang, saham IPO begitu memikat karena harganya kerap melejit saat pertama kali diperdagangkan. Saham IPO bahkan bisa terkena auto rejection akibat kenaikan harga yang kelewat tinggi.

Saham IPO adalah saham perusahaan yang baru tercatat di bursa efek melalui mekanisme penawaran umum saham perdana. Sebelum resmi melantai di bursa, perusahaan akan menerbitkan prospektus tentang kinerja keuangan selama tiga tahun terakhir, dan informasi rinci mengenai pemegang sahamnya. Lalu, perusahaan juga wajib melakukan paparan publik untuk bertemu dengan calon investor.

Namun, investor kawakan Warren Buffett justru tidak pernah membeli saham IPO. Bahkan, Uber, startup bervaluasi paling tinggi sebelum tercatat di bursa saham, tak mampu menarik perhatian Buffett. 

Buffett menjelaskan, bertransaksi saham IPO itu ibarat ikut lotre, tak ada yang tahu bagaimana arahnya. Buffett menilai saham IPO belum teruji di pasar saham, karena investor sulit melihat kinerja fundamental yang sesungguhnya. 

BACA JUGA: Tips Memilih Saham IPO untuk Pemula

Cerita Buffett yang ogah bertransaksi saham IPO mencuat sewaktu Uber ingin melantai di bursa efek. Saat itu, Buffett berkata bahwa dirinya harus memiliki alasan yang cukup kuat jika ingin berinvestasi pada sebuah saham.

“Saya harus menulis kenapa saya harus membeli suatu saham. Saya akan berinvestasi saham itu jika menemukan alasannya, jika tidak untuk apa kita serahkan uang yang ditabung bertahun-tahun kepada sesuatu yang tidak jelas alasannya,” ujar seperti dikutip dari CNBC

Buffett mengingatkan, investasi jangan sekadar mengikuti tren tanpa ada dasar analisis fundamental keuangan. 

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Lalu, apakah semua saham IPO itu buruk? Tentu tidak. Buffett hanya ingin wait and see ketika ada perusahaan yang baru melantai di bursa. Tujuannya, mempelajari bagaimana kerja perusahaan yang sesungguhnya. 

Keuntungan Membeli Saham IPO

beli saham ipo

Ada beberapa keuntungan dari bertranaksi saham IPO, yakni mendapatkan harga saham sejak awal melantai di bursa. Dengan begitu, kamu bisa meraih capital gain alias keuntungan dari kenaikan harga ke depannya. 

Dari data OJK, BEI menyambut 37 saham IPO pada Januari-Agustus 2020. Sepuluh dari 37 saham IPO itu harganya langsung melejit di atas 100% pada hari pertama perdagangan. Namun, lonjakan harga itu tidak berkelanjutan karena terlalu drastis. 

BACA JUGA: Tertarik Punya Saham IPO, Pelajari Kiatnya

Buktinya, satu dari lima saham yang menguat paling tinggi justru menjadi saham gocap alias Rp50 per saham, harga terendah di pasar reguler BEI. 

PT Agro Yasa Lestari Tbk (AYLS), misalnya, sempat menawarkan harga saham perdana senilai Rp100 per saham pada 11 Februari 2020. Pada hari pertama melantai di BEI, harga saham AYLS melesat 184% menjadi Rp284 per saham. Sayangnya, harga saham AYLS saat ini terjebak pada level terendah, yakni Rp50 per saham. 

Sementara, empat saham IPO lain yang mengalami lonjakan harga pada hari pertama perdagangan mampu bertahan di atas harga IPO. Artinya, tidak semua saham IPO bagus, tetapi tidak semua juga jelek.

Untuk itu, investor harus jeli membaca prospektus dan mencermati paparan publik calon emiten agar tidak salah langkah. Berikut tips menyeleksi saham IPO yang punya prospek cerah:

Memburu Saham Calon Big Caps

Supaya meraup keuntungan dari saham IPO, kamu bisa memperkirakan saham mana yang berpotensi menjadi Big Caps alias saham dengan kapitalisasi pasar yang besar. Misalnya, ketika berburu saham IPO PT Indofood CBP Tbk (ICBP) pada 2010 silam. 

Kini, ICBP termasuk salah satu saham Big Caps. Per 7 September 2020, harga saham ICBP memiliki kapitalisasi pasar senilai Rp120,41 triliun. 

BACA JUGA: Stimulus Bergulir, Bursa Saham Pun Semringah

Saat IPO, ICBP melakukan penawaran perdana dengan harga saham perdana Rp5.395 per saham. Lantas, ICBP melakukan stock split atau pemecahan nilai nominal saham dengan rasio 1:2 pada 2016. Artinya, jika kamu membeli 1 lot saham ICBP atau sebanyak 500 lembar pada 2010, kini jumlahnya sudah menjadi 1.000 lembar saham. 

Dengan begitu, total keuntungan membeli saham ICBP sejak IPO hingga penutupan 7 September 2020 tercatat sebesar 282,76%, dan nilainya menjadi Rp10,32 juta jika dibandingkan dengan Rp2,69 juta sebagai modal awal investasi di saham tersebut. 

Memilih Saham yang Model Bisnisnya Berkelanjutan

beli saham ipo

Jika persaingan memperebutkan saham IPO yang berkapitalisasi pasar besar cukup ketat, saham berkapitalisasi pasar kecil dan menengah juga lumayan menarik. Syaratnya, kamu harus memilih emiten yang memiliki model bisnis berkelanjutan. 

Model bisnis berkelanjutan artinya memiliki prospek konsumen yang bagus. Produknya selalu dibutuhkan sehingga kinerja keuangannya akan terjaga dalam jangka panjang. 

Sebagai contoh, saham PT Buyung Poetra Sembada Tbk (HOKI) yang memproduksi beras merek Topi Koki. Dari sisi model bisnis, produk yang dijual HOKI adalah kebutuhan pokok masyarakat Indonesia. 

HOKI melantai di bursa pada 2017, dan saat itu perseroan menawarkan harga saham perdana senilai Rp310 per saham. Sampai penutupan perdagangan pada 7 September 2020, harga saham HOKI naik 2,03% menjadi Rp755 per saham. 

Jika investor membeli 1 lot atau 100 lembar saham HOKI saat IPO, artinya, potensi keuntungan pada 7 September lalu bisa mencapai 143,54%. 

Kelemahan Bertransaksi Saham IPO

Bagi investor ritel, persaingan membeli saham IPO sangat ketat. Pasalnya, demi mendapatkan saham IPO, investor ritel harus bersaing dengan investor institusi. Padahal, jatah saham IPO terbatas. Bahkan, jika investor ritel mampu dapat 1 lot saja sudah dianggap sebuah prestasi besar.

Selain itu, kelemahan lain dari membeli saham IPO ialah jejak perusahaan yang belum jelas, terutama untuk perusahaan yang baru berdiri kurang dari 10 tahun, namun ingin melantai di bursa.

Salah satunya, PT Capri Nusa Satu Properti Tbk (CPRI). Perusahaan ini terbentuk pada 2011 dan melantai di BEI pada 11 April 2019. 

Saat itu, CPRI menawarkan harga saham perdana senilai Rp125 per saham. Harga saham CPRI pun langsung melejit 69,6% menjadi Rp212 per saham pada perdagangan hari pertama. Dari aksi IPO ini, CPRI meraih dana segar sekitar Rp85,42 miliar. 

CPRI menyebutkan, dana hasil IPO akan digunakan untuk membangun resor dan gedung pertemuan guna mendongkrak kinerja keuangan.  

Namun, perkembangan CPRI di lantai bursa tak semulus rencana awal. Hanya dalam tujuh bulan setelah listing, harga saham perseroan amblas menjadi Rp50 per saham hingga saat ini. 

Banyak yang memprediksi, anjloknya harga saham properti yang baru IPO seperti CPRI, disebabkan oleh timing atau penentuan waktu yang kurang tepat untuk melantai di bursa, notabene, saat pasar properti belum pulih. 

Cara Memiliki Saham IPO

Sebelum membeli saham IPO, pastikan bahwa kamu telah memiliki rekening dana nasabah (RDN). Soalnya, RDN diperlukan untuk melakukan transaksi saham. Setelah itu, calon investor saham juga harus menjadi nasabah di salah satu sekuritas yang ada di Indonesia seperti, Valbury Sekuritas Indonesia.

Setelah itu, pantau saham yang akan IPO beserta penjamin emisinya. Nanti, calon investor saham IPO harus mengisi formulir pemesanan pembelian saham yang bisa didapatkan di penjamin emisi. 

Setelah itu, calon investor saham IPO bisa menunggu keputusan penjatahan saham IPO. Biasanya, investor institusi memang lebih diprioritaskan ketimbang investor ritel. 

Kabar baiknya, OJK lagi merampungkan regulasi rencana e-IPO pada pertengahan tahun ini. Kabar ini menjadi harapan bagi para investor ritel karena memberikan ruang yang lebih besar untuk mendapatkan jatah saham IPO. 

Siap memiliki

saham IPO?

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu