Panduan Lengkap untuk Memutus Mata Rantai “Generasi Sandwich”

1050
generasi sandwich

Enam bulan sudah dunia terbekap pandemi Covid-19 yang menyeret perekonomian global ke jurang resesi. Menurut catatan World Health Organization (WHO) hingga 9 September lalu, Covid-19 telah menginfeksi 27,41 juta orang di dunia, 894,24 ribu di antaranya telah meninggal dunia. Pandemi telah membenamkan lebih dari 20 negara ke dalam resesi ekonomi. Indonesia tak kalah terpuruk. Bappenas RI memperkirakan, angka pengangguran pada 2020 bakal menembus 11 juta orang. Apalagi, penurunan pendapatan dialami oleh jutaan pekerja karena perusahaan tempat mereka bekerja harus menempuh efisiensi agar bertahan melewati badai pandemi.

Baca juga: Anak Muda Ayo Mulai Persiapkan Dana Pensiun

Pandemi Covid-19 juga semakin membuat generasi sandwich merana. Hasil survei Jakpat pada April lalu mengungkapkan, sejak pandemi melanda, 70% generasi sandwich di Indonesia mulai memakai tabungan darurat mereka untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Bahkan, sebanyak 36% di antaranya mulai berutang demi memenuhi kebutuhan hidup.

Memutus mata rantai “generasi sandwich

“Sandwich generation” adalah istilah populer yang digunakan untuk menyebut mereka yang terjepit di antara dua tanggung jawab, yaitu menafkahi keluarga inti sekaligus menanggung keluarga besar seperti orang tua. Berada dalam rantai sandwich generation memang menjadi dilema bagi siapa pun.

Di satu sisi, kamu harus menafkahi keluarga sendiri, yaitu anak dan mungkin juga pasangan bila dia tak bekerja. Di sisi lain, sebagai anak, kamu belum bisa serta merta melepas tanggung jawab terhadap orang tua. Fenomena “generasi sandwich” bukan cuma terjadi di Indonesia yang memiliki tradisi kekeluargaan lebih kental. Di negara seperti Amerika Serikat yang nilai individualismenya kuat, isu sandwich generation juga mengemuka.

Fenomena “sandwich generation” umumnya dipicu oleh ketidakmapanan generasi terdahulu dalam menyiapkan kebutuhan finansial di masa pensiun atau masa tua. Imbasnya, si anak yang saat ini sudah berpenghasilan akhirnya menjadi sandaran finansial. Di saat yang sama, si anak sebenarnya juga sudah memiliki tanggungan keluarga inti.

Kondisi “terjepit” ini membuat sang anak akhirnya juga kesulitan menyiapkan persiapan dana pensiun. Akibatnya bisa ditebak, rantai sandwich generation pun berulang. Tanpa keberanian dan strategi jelas, mata rantai sandwich generation sulit terputus. Jika saat ini kamu juga melakoni peran sebagai sandwich generation dan tak ingin hal serupa dialami anak kamu, segeralah menjalankan strategi supaya mata rantai itu tidak berlanjut.

Berikut panduan lengkap strategi yang perlu kamu jalankan:

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

1. Tata niat dan pola pikir 

Menjadi penanggung jawab yang menafkahi orang tua di masa tua adalah kebaikan yang perlu disyukuri. Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk membalas cintanya kepada orang tua dengan cara itu. Jadi, langkah pertama penting yang perlu kamu lakukan ialah menata mindset tentang tanggung jawab sebagai anak terhadap orang tua. Dengan menerima dan mensyukuri kondisi yang ada, kamu lebih mudah untuk mengatur langkah selanjutnya.

Mindset yang tepat akan meringankan hati kamu untuk menjalani peran sebagai “generasi sandwich“. Menghidupi orang tua yang sudah lanjut usia dan tak lagi memiliki produktivitas finansial sebaiknya jangan dianggap sebagai beban, melainkan kepantasan seorang anak terhadap orang tua.

2. Buka komunikasi dengan keluarga

Sering kali, permasalahan finansial dalam keluarga berpangkal pada komunikasi yang kurang lancar. Dalam situasi “generasi sandwich“, kurangnya komunikasi antara kamu dan keluarga bisa mempersulit situasi. Maka, langkah berikutnya adalah membangun komunikasi yang terbuka dengan keluarga, baik keluarga inti maupun orang tua. Kepada pasangan misalnya, bicarakan secara terbuka tentang kondisi yang terkait dengan kewajiban finansial kamu terhadap orang tua. Dengan begitu, ketika keluarga kecil kamu menghadapi tantangan finansial, pasangan bisa mengerti dan merasa dihargai.

Di saat yang sama, kamu juga perlu berbicara terus terang kepada orang tua tentang kemampuan finansial kamu. Dengan cara yang baik, ungkapkan pos-pos pengeluaran mana saja yang mampu kamu tanggung dan mana yang tidak. Misalnya, kamu hanya fokus membiayai kebutuhan belanja dapur, biaya listrik, pengobatan, dan asuransi. Namun, kamu belum bisa mengeluarkan biaya untuk kebutuhan yang sifatnya rekreatif atau tersier, seperti jalan-jalan, biaya sosial dan sebagainya.

Mengapa perlu dibicarakan? Harapannya, kamu tidak memaksakan diri untuk menanggung kehidupan orang tua hingga melampaui kemampuan finansial yang dimiliki. Apalagi, kalau kamu sampai berutang dan membahayakan kesehatan keuangan. Orang tua juga perlu kamu ajak untuk menata ekspektasi sehingga komunikasi ke depan bisa lebih lancar.

3. Susun dengan cermat prioritas finansial

generasi sandwich

Dengan jumlah tanggungan yang banyak, pengelolaan finansial mau tidak mau harus lebih cermat dijalankan. Miliki prioritas finansial dengan mengutamakan pos pengeluaran yang paling penting. Contohnya, keperluan keluarga inti yang paling utama ialah pos kebutuhan belanja dapur dan operasional rumah tangga (listrik, air, internet, gas), pembayaran kewajiban utang atau cicilan, kebutuhan anak sekolah. Ada pula pos asuransi, dana darurat dan investasi dana pensiun.

Tempatkan pos pengeluaran untuk orang tua dalam kategori prioritas ini. Setelahnya, kamu baru bisa mengalokasikan penghasilan untuk pos yang sifatnya tersier atau rekreatif seperti kebutuhan entertainment, perawatan ke salon atau gym, dan lain sebagainya.

4. Kelola risiko keuangan dengan asuransi

“Generasi sandwich” bukan hanya bertanggung jawab kepada keluarga inti, namun juga kepada orang tua yang bergantung secara finansial. Seiring pertambahan usia, orang tua lebih rentan terserang penyakit. Bila tak diantisipasi dengan asuransi yang memadai, risiko ini sewaktu-waktu bisa mengguncang keuangan pribadi. Hindari hal tersebut dengan melengkapi kebutuhan proteksi.

Pastikan orang tua kamu menjadi peserta BPJS Kesehatan. Bila keuangan kamu cukup leluasa, kamu dapat menambahkan asuransi kesehatan komersial. Penuhi juga kebutuhan asuransi kesehatan keluarga inti. Sebagai pencari nafkah utama, pastikan kamu memiliki asuransi jiwa sehingga stabilitas finansial keluarga lebih terjaga.

5. Mulai investasi dana pensiun sebisanya

Daftar kebutuhan “sandwich generation” memang lebih panjang ketimbang mereka yang tidak memiliki tanggungan orang tua. Namun, demi memutus mata rantai “sandwich generation“, kamu perlu memulai tabungan dana pensiun pribadi. Di sinilah pentingnya pengelolaan keuangan yang cermat sehingga pendapatan kamu bisa dialokasikan secara tepat pada pos-pos prioritas, termasuk pos persiapan pensiun.

Kebutuhan dana pensiun bisa kamu cicil dengan cara berinvestasi dalam instrumen yang berpotensi tumbuh tinggi pada jangka panjang. Misalnya, saham, reksa dana saham, dan lain sebagainya. Kamu dapat pula mengikuti program Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) dengan mengaktifkan fitur autodebet setiap bulan. Yang terpenting, kamu memulainya dari sekarang meski dengan nilai investasi yang semampunya.

6. Cari side-hustle untuk menambah pendapatan rutin

Membiayai dua keluarga sekaligus memerlukan pendapatan yang lebih besar agar semua kebutuhan terpenuhi. Selagi masih muda dan produktif, sebaiknya kamu tidak berhenti pada satu sumber penghasilan saja. Memiliki side-hustle atau pendapatan sampingan sudah menjadi sebuah keharusan supaya keuangan pribadi lebih kuat. Jadi, cobalah untuk menemukan side-hustle yang bisa membantu kamu untuk menambah arus pendapatan rutin.

Apa saja yang bisa dijadikan side-hustle? Bila kamu hobi membuat kue, kamu bisa memulai usaha  dengan sistem pre-order. Atau, kamu suka menulis? Kamu bisa menjadi freelance writer. Beberapa orang bahkan sukses menjadikan akun media sosial mereka sebagai akun yang memberikan endorsement untuk usaha kuliner. Ada banyak ide side-hustle yang bisa kamu eksplorasi sesuai minat dan kebutuhan. Pilih yang paling kecil modalnya supaya bisa memberikan pendapatan yang optimal.

Dengan memiliki pendapatan dari banyak sumber, kamu bisa lebih leluasa dalam mengelola keuangan pribadi dan memastikan semua kebutuhan bisa terpenuhi sebagai “generasi sandwich“.

Baca juga: Tertarik Mencicil Emas? Pahami Dulu Plus Minusnya

7. Berhati-hati mengambil utang

Keluarga muda umumnya sulit menghindari beberapa jenis utang. Sebut saja, kredit pemilikan rumah (KPR), kredit kendaraan bermotor (KKB) dan lain sebagainya. Untuk beberapa hal, kamu memang tak bisa mengelak dari utang-utang tersebut, karena nilai pembelian kebutuhan tertentu secara tunai memerlukan dana yang sangat besar, seperti rumah.

Tanpa perhitungan cermat, keputusan berutang bisa menganggu keuangan. Salah satu indikator dari kondisi keuangan yang sehat adalah rasio utang maksimal sebesar 30% dari penghasilan kamu. Misalnya, pendapatan kamu mencapai Rp12 juta per bulan, maka besar cicilan utang, termasuk cicilan KPR dan jenis-jenis utang lain, maksimal sebesar Rp4 juta setiap bulan.

Maka, kamu wajib berhati-hati ketika  mengambil pinjaman. Selektiflah untuk menentukan utang mana yang layak diambil, dan pinjaman mana yang sebaiknya dihindari. Untuk pengajuan KPR, misalnya, upayakan untuk memperoleh suku bunga yang paling murah dan periode kredit yang tak terlalu lama, atau maksimal 10 tahun. Tenor pinjaman yang terlalu lama bisa mengganggu masa pensiun.

Apabila kamu telanjur mengambil KPR dengan tenor di atas 10 tahun, sebaiknya kamu menyiapkan rencana pelunasan lebih awal secara bertahap. Dengan begitu, saat masa pensiun sudah di depan mata pada usia kepala empat, kamu tidak lagi terbebani utang KPR.

Bagaimana dengan jenis utang lain seperti kartu kredit atau kredit tanpa agunan (KTA)? Perlakukan kartu kredit sebagai alat transaksi alih-alih berutang. Caranya, lunasi setiap tagihan 100% tepat waktu, dan menghindari pembayaran minimal agar kamu tidak terbebani bunga kartu kredit yang mahal. KTA sebaiknya dihindari, sebab bunganya sama mahalnya dengan kartu kredit.

Baca juga: Ingin Berinvestasi Namun Gaji UMR? Ini Triknya

8. Terapkan pengelolaan keuangan yang sehat

Pengelolaan keuangan yang sehat adalah kunci utama untuk menghindari permasalahan finansial sebagai “generasi sandwich“. Gampangnya, kamu wajib menerapkan prinsip “pasak tidak boleh lebih besar daripada tiang”, menghindari pengeluaran yang sifatnya semata-mata konsumtif, menjauhi utang, rajin menyisihkan pendapatan untuk saldo dana darurat, menerapkan trik sebagai smart spender dengan memanfaatkan berbagai program promo dan diskon setiap kali berbelanja, rutin mengevaluasi kesehatan keuangan pribadi, hingga disiplin menjalankan investasi untuk tujuan keuangan penting.

Upaya membangun kebiasaan keuangan yang positif dapat didukung teknologi, misalnya, fitur autodebet pada rekening untuk kebutuhan investasi rutin, mencatat arus keluar-masuk keuangan dengan aplikasi seluler, membayar cicilan tepat waktu demi menghindari bunga dan denda, dan lain sebagainya.

Kesimpulan

Menjalani peran sebagai “generasi sandwich” memang tidak mudah dan penuh tantangan. Namun, dengan delapan strategi di atas, semoga upaya kamu untuk memutus mata rantai “generasi sandwich” lebih mudah dilakukan. Tetap semangat dan optimis bahwa kamu bisa mewujudkannya .

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu