Membandingkan Dampak Resesi 1998, 2008 dan 2020 terhadap Pasar Saham

488
resesi

Indonesia dipastikan mengalami resesi ketika pertumbuhan ekonomi pada Kuartal III-2020 kembali terkoreksi. Resesi berdampak besar terhadap banyak sektor termasuk pasar saham domestik. Mari kita cermati resesi yang pernah terjadi dan gejolak yang ditimbulkannya bagi pasar saham lokal.

Apa itu resesi?

Secara umum, resesi dialami sebuah negara kalau pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) tercatat negatif selama dua kuartal berturut-turut atau lebih dalam satu tahun.

Hingga awal Oktober, perekonomian Indonesia memang belum mengalami resesi. Namun, jika kita melihat pertumbuhan ekonomi pada Kuartal II-2020 yang minus 5,32% dan proyeksi negatif pada Kuartal III-2020, Indonesia dipastikan terkena resesi.

Dalam berbagai kesempatan, Menteri Keuangan RI Sri Mulyani meramalkan kontraksi ekonomi yang terjadi pada tahun ini. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi domestik pada Kuartal III-2020 akan berkisar -2,9% hingga -1%.

Bahkan, pertumbuhan ekonomi yang negatif akan berlanjut pada Kuartal IV. Dengan demikian, sepanjang 2020, pertumbuhan ekonomi domestik diperkirakan -1,7% hingga -0,6%.

Penyebaran Covid-19 yang semakin masif memang telah melemahkan sendi-sendi perekonomian. Maka, resesi yang ditimbulkan pandemi bukan lagi menjadi hal yang mengejutkan.

Penyebab resesi

Resesi ekonomi dapat terjadi karena sejumlah faktor seperti guncangan ekonomi yang tiba-tiba, utang yang berlebihan, gelembung aset, serta inflasi atau deflasi yang terlalu tajam. Akan tetapi, resesi yang terjadi pada 2020 tergolong unik, sebab berawal dari krisis kesehatan masyarakat lalu menjalar ke sektor ekonomi.

Sejak kemunculannya pada awal 2020, pandemi belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir. Sebaliknya, angka penularan virus yang pertama kali muncul di Wuhan, China, ini terus meningkat.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Baca juga: Risiko Ganda di Balik Utang untuk Investasi

Hingga 29 September 2020, jumlah kasus positif Covid-19 di Indonesia telah menembus 282.724. Sementara, jumlah pasien sembuh tercatat 210.437 orang dan kasus meninggal dunia mencapai 10.601 orang.

Demi mencegah penyebaran virus, pemerintah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Social distancing diterapkan selama PSBB, sejumlah bidang usaha dilarang beroperasi, jam kerja dan jumlah karyawan yang bekerja juga dibatasi.

Dampaknya, banyak industri yang gulung tikar, jutaan orang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sehingga pendapatan dan daya beli masyarakat menurun. Tekanan pandemi menghantam hampir semua sektor seperti pariwisata, hotel dan restoran, transportasi, manufaktur, properti, jasa dan lain-lain.

Dampak resesi terhadap pasar saham

resesi

Resesi global yang diikuti resesi di dalam negeri bukan pertama kali terjadi. Di sisi lain, setiap resesi hampir selalu berdampak terhadap pasar saham di dalam negeri, berikut ini ulasannya:

Resesi 1997-1998

Perekonomian Indonesia pernah mengalami masa kelam ketika resesi terjadi pada 1997-1998. Resesi berawal dari krisis finansial di Asia Timur dan segera menyebar ke Asia Tenggara.

Besarnya utang luar negeri Indonesia dalam bentuk valuta asing, baik utang pemerintah, BUMN, maupun perusahaan swasta memperparah kejatuhan ekonomi kala itu. Krisis ekonomi yang kian runyam bahkan ikut melengserkan rezim Soeharto yang telah berkuasa selama 32 tahun.

Baca juga: Resep Cespleng Investasi Aman Era Pandemi

Pada 1997, Indonesia mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang negatif selama enam bulan. Selanjutnya, pada 1998, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih tercatat negatif selama tiga kuartal. Alhasil, sepanjang 1998, pertumbuhan ekonomi anjlok menjadi -13,13%.

Semua sektor terpukul akibat resesi, termasuk pasar saham. Sewaktu 1997, IHSG sempat menyentuh level tertinggi sebesar 740,83 pada Juli. Namun, IHSG terjun bebas hingga ke level terendah pada Desember, yaitu 339,54 atau turun 54,17% dari level tertingginya. Di akhir 1997, IHSG mencapai 401,70 atau turun 36,98% dari akhir 1996.

Memasuki 1998, indeks pasar saham sempat merangkak ke level 554,11 pada Februari 1998. Sayangnya, IHSG kembali rontok hingga menyentuh level terendah yakni 256,83 pada September, atau turun 53,65% dari level tertingginya. Di akhir 1998, IHSG tercatat sebesar 398,03 atau turun tipis 0,91% dibandingkan akhir 1997.

Resesi 2007-2008

Resesi ekonomi global terjadi pada 2007-2008, dipicu krisis Subprime Mortgage di Amerika Serikat pada 2007. Dampaknya mulai menjalar ke sejumlah negara berkembang pada 2008.

Indonesia juga merasakan krisis ekonomi global ini, terutama pada akhir 2008. Setelah sukses membukukan pertumbuhan ekonomi di atas 6% selama tiga kuartal pertama pada 2008, pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat pada Kuartal IV-2008, yakni menjadi 5,2%.

Baca juga: Raih Cuan dari Trading Emas Online di Masa Pandemi

Pasar saham domestik juga dibayang-bayangi resesi global. Padahal, sepanjang 2007, IHSG masih mengalami tren bullish dengan level terendah yang mencapai 1.678,04 pada Januari. Di sisi lain, level tertinggi IHSG tercatat 2.810,96 pada Desember atau naik 67,51% dari level terendahnya. Pada akhir 2007, indeks mencapai 2.745,83, atau melesat 52,07% dibandingkan akhir 2006.

Memasuki 2008, resesi global menyebabkan kontraksi hebat di pasar saham domestik. Sepanjang 2008, IHSG sempat menyentuh level tertinggi, yaitu 2.830,26 pada Januari 2008. Akan tetapi, pada Oktober 2008, IHSG merosot ke level terendah, yakni 1.111,39 atau anjlok hingga 60,73% dari level tertingginya. IHSG terpaksa menutup 2008 dengan torehan 1.355,41, atau turun 50,64% dibandingkan akhir 2007.

Resesi 2020

resesi

Resesi akibat pandemi Covid-19 terjadi dalam skala global. Sejumlah negara maju sudah lebih dulu terjangkit resesi seperti Amerika Serikat, Jerman, Perancis, Italia, Korea Selatan, Jepang, Hong Kong, dan Singapura.

Indonesia juga dipastikan mengalami resesi pada Kuartal III-2020. Namun, tekanan terhadap pasar saham domestik sudah terasa sejak awal pandemi.

Pada awal tahun ini, IHSG sempat menyentuh level tertingginya yakni 6.325,41 pada Januari 2020. Kendati demikian, setelah pemerintah mengumumkan kasus positif Covid-19 yang pertama di Indonesia pada Maret, IHSG terbenam hingga menyentuh 3.937,63 pada bulan yang sama.

Berbagai paket kebijakan ekonomi yang dirilis pemerintah sempat mengangkat pergerakan IHSG. Perekonomian nasional juga kembali bergeliat seiring pemberlakuan New Normal. Alhasil, IHSG terkerek hingga mencapai 5.338,89 pada Agustus 2020.

Meski begitu, jumlah kasus positif Covid-19 di tingkat nasional terus bertambah. Era New Normal hanya menerapkan pembatasan aktivitas sosial secara longgar sehingga angka positif Covid-19 di Indonesia terus melonjak. Dus, indeks saham kembali tergelincir, dan per 30 September 2020, IHSG tercatat 4.870,04 atau turun 29,35% jika dibandingkan akhir 2019.

Belajar dari pengalaman resesi ekonomi yang sempat terjadi secara global atau nasional, dampaknya terhadap pasar saham domestik akan terasa selama satu hingga dua tahun. Investor saham harus mengantisipasi efek negatif yang bakal terjadi pada resesi ekonomi 2020 agar nilai portofolio investasi tetap terlindungi.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu