Dampak Stock Split dan Reverse Stock Split bagi Investor Saham

4073
Dampak stock split

PT Sido Muncul Tbk baru saja melakukan stock split dengan rasio 1:2. Lalu, PT Bank Banten Tbk juga tengah berencana untuk menggelar reverse stock split. Apa sih dampak dari kedua aksi korporasi tersebut bagi investor saham?

Stock split adalah aksi korporasi untuk memecah nilai nominal saham dalam rasio tertentu. Tujuannya adalah meningkatkan volume transaksi saham setelah harganya lebih terjangkau investor ritel. Biasanya, stock split dilakukan pada saham yang harganya sudah terlampau tinggi.

Aksi stock split tidak akan memberikan dampak apapun terhadap pemegang saham yang lama, karena jumlah saham yang dimiliki pemegang saham lama juga akan bertambah sesuai dengan rasio pemecahan nilai saham.

BACA JUGA: Momentum Stock Split dan Peluang Cuan Bagi Investor

Di sisi lain, aksi stock split kerap memunculkan ekspektasi harga saham bisa melejit setelah aksi korporasi tersebut. Bahkan, harga sahamnya bisa melampaui harga sebelum stock split.

Dengan begitu, investor saham membayangkan keuntungan yang bisa dinikmati dari kenaikan harga saham tersebut.

Untuk membuktikan apakah teori harga saham setelah stock split bisa melejit atau tidak, berikut dua contoh menarik tentang nasib harga saham setelah stock split, yakni PT Multi Bintang Indonesia Tbk (MLBI) dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP).

Dampak Stock Split, Ini Fakta Nasib Harga Saham Setelah Dipecah

Dampak stock split

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Salah satu saham dengan harga tertinggi yang pernah mengalami stock split pada periode 2010-2020 adalah MLBI. Harga saham perusahaan dengan bisnis minuman beralkohol itu melejit hingga menembus Rp1,1 juta per saham pada periode 2014.

MLBI pun memutuskan untuk memecah nilai nominal saham dengan rasio 1:100 pada 2014. Artinya, 1 saham akan dipecah menjadi 100 saham. Dengan begitu, harga saham MLBI setelah stock split menjadi Rp11.000 per saham.

Setelah stock split, harga saham MLBI sempat melejit hingga Rp20.550 per saham pada 31 Mei 2019. Sayangnya, harga saham MLBI terus merosot hingga saat ini. Sampai penutupan perdagangan pada 24 September 2020, harga saham MLBI ditutup senilai Rp8.250 per saham.

Selain MLBI, salah satu saham big cap di sektor konsumer ICBP juga melakukan stock split dengan rasio 1:2 pada 2016. Harga saham ICBP sebelum stock split ialah Rp17.375 per saham. Jadi, ketika satu lembar saham ICBP dipecah menjadi dua lembar, harga saham salah satu emiten Grup Salim ini menjadi Rp8.687 per saham.

BACA JUGA: Beli Saham IPO, Perhatikan Untung-ruginya Di Sini

Setelah pemecahan nilai nominal saham, harga saham ICBP cenderung bergerak naik. Level tertinggi yang pernah tercapai adalah Rp12.225 per saham pada 4 Oktober 2019. Sampai penutupan perdagangan 24 September 2020, harga saham ICBP tercatat senilai Rp10.100 per saham.

Dari sini, kita bisa menyimpulkan, aksi stock split belum tentu membuat harga saham melejit hingga menembus posisi harga sebelum aksi pemecahan saham dilakukan. Perkembangan harga saham setelah stock split akan disesuaikan dengan kondisi fundamental perseroan hingga kondisi ekonomi negara maupun global.

Lalu, Bagaimana Dampak Reverse Stock Split bagi Investor?

Kalau stock split adalah aksi pemecahan saham, sedangkan, reverse stock split adalah kebalikannya, yakni penggabungan saham.

Aksi korporasi ini kurang disukai di Indonesia. Alasannya, emiten yang memutuskan untuk menjalankan reverse stock split biasanya tengah terbelit masalah keuangan.

Investor merasa dirugikan karena jumlah saham yang dimiliki menjadi berkurang, sementara, tidak ada kepastian harga saham akan naik lebih tinggi. Pasalnya, fundamental keuangan emiten tengah kesulitan.

Salah satu contohnya, PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk (UNSP) yang melakukan reverse stock split pada 2017. Kala itu, UNSP mengambil langkah reverse stock split dengan rasio 10:1. Dengan begitu, harga saham perseroan mencapai Rp50 per saham naik menjadi Rp500 per saham.

Setelah aksi reverse stock split, harga saham UNSP sempat naik menjadi Rp750 per saham, tetapi setelahnya harga saham langsung melorot, bahkan sempat anjlok dan kembali menjadi Rp50 per saham.

Sampai penutupan perdagangan 24 September 2020, harga saham UNSP ditutup senilai Rp80 per saham.

Reverse Stock Split, Strategi “Saham Gocap” untuk Rights Issue

Dampak stock split

Selain itu, aksi reverse stock split kerap dilakukan oleh emiten yang ingin menerbitkan saham baru, namun harga saham baru ini diterbitkan di bawah ketentuan BEI.

Menurut ketentuan BEI, harga pelaksanaan untuk pencatatan saham baru lewat hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) setidaknya mencapai Rp50 per saham. Jika ada emiten yang ingin menerbitkan saham baru, tetapi harganya di bawah ketentuan BEI, reverse stock split dapat menjadi solusinya.

Kondisi ini terjadi dalam kasus PT Bank Banten Tbk (BEKS) yang ingin melakukan rights issue. Akan tetapi, perseroan harus melakukan reverse stock split terlebih dulu sebelum memperoleh suntikan dana dari penerbitan saham baru.

Saat ini, harga saham BEKS memang berada di level terendah, yakni Rp50 per saham. Namun, sesuai hasil RUPS Luar Biasa perseroan pada Februari 2020, saham C yang menjadi saham baru yang akan diterbitkan memiliki nominal Rp8 per saham.

Untuk itu, perseroan berencana melakukan reverse stock split dengan rasio 10:1. Dengan demikian, harga nominal saham A BEKS akan menjadi Rp1.000 dari Rp100 per saham, sedangkan, harga nominal saham B BEKS akan menjadi Rp180 dari Rp18 per saham.

BACA JUGA: Investasi Saham Jangka Panjang ala Sleeping Investor

Selain BEKS, PT Sierad Produce Tbk (SIPD) juga pernah melakukan hal serupa pada 2015. Kala itu, rencana SIPD untuk menerbitkan saham baru terhalang oleh aturan harga teoretis dalam pelaksanaan rights issue minimal Rp100 per saham.

Untuk itu, SIPD harus melakukan reverse stock split terlebih dulu agar bisa mendongkrak harga sahamnya. Kala itu, harga saham SIPD tercatat senilai Rp52 per saham.

Akhirnya, SIPD melakukan reverse stock split dengan rasio 10:1 sehingga harga sahamnya naik menjadi Rp520 per saham. Setelah reverse stock split, SIPD terlebih dulu melakukan private placement untuk menggenapkan jumlah saham yang bakal digabungkan.

SIPD baru bisa melakukan rights issue setahun kemudian pada 2016 dengan harga penawaran Rp1.000 per saham. Sampai penutupan perdagangan pada 24 September 2020, harga saham SIPD tercatat senilai Rp1.120 per saham, atau lebih tinggi dari sebelumnya.

Kenaikan harga saham SIPD didorong oleh masuknya investor baru saat perseroan melakukan rights issue setelah reverse stock split. Pemegang saham barunya adalah Gunung Sewu Grup melalui PT Great Giant Pinneapple.

Sampai 2019, kinerja bottom line perseroan memang moncer setelah mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 207,61% hingga nilainya menjadi Rp79,77 miliar jika dibandingkan dengan laba bersih pada 2018 sebesar Rp25,93 miliar .

Namun, kinerja laba bersih perseroan sampai Kuartal II-2020 merosot 66,42% menjadi Rp10,4 miliar dari nilai laba bersih pada Kuartal II-2019 yang tercatat sebesar Rp31,03 miliar. Penurunan itu disebabkan oleh lemahnya daya beli masyarakat saat pandemi Covid-19.

Melihat kisah historis itu, aksi reverse stock split bisa saja menjadi penyelamat emiten yang membutuhkan tambahan modal. Namun, pemegang sahamnya harus rela menerima risiko bahwa jumlah saham yang dimiliki menyusut, sementara, tidak ada jaminan harga saham akan naik lebih tinggi.

Itulah dampak stock split dan reverse stock split bagi investor.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu