15 Minutes With Valbury: Bingung Memilih Saham untuk Investasi? Perhatikan Trik Ini

350
memilih saham

Halo Valbury, perkenalkan nama saya Angga, 27 tahun, karyawan swasta. Saya tertarik berinvestasi saham untuk memenuhi beberapa tujuan keuangan saya seperti dana pensiun dan rencana menikah dalam beberapa tahun mendatang. Namun, sejauh ini, saya masih bingung tentang cara memilih saham yang tepat sebagai instrumen investasi. Berikut beberapa hal yang ingin saya tanyakan:

1. Bagaimana cara memilih saham yang tepat untuk tujuan keuangan di atas lima tahun? Apa saja yang harus diperhatikan, apakah kinerja saham Big Cap selalu bagus?

2. Bagaimana strategi investasi yang tepat? Apakah benar strategi dollar-cost averaging (DCA) bisa meminimalkan risiko kerugian?

3.Bagaimana cara mengevaluasi kinerja investasi saham supaya bisa menguntungkan sesuai target?

 

Baca juga: Trading Saham atau Investasi Saham, Pilih Mana? 

Jawaban

Halo Angga, terima kasih atas pertanyaannya. Kamu sudah memahami pentingnya berinvestasi untuk memenuhi tujuan keuangan. Saham sejauh ini cukup layak menjadi pilihan investasi, terutama untuk tujuan keuangan jangka panjang.

Nah, sebelum membeli saham, kita perlu memahami apa sebenarnya yang dimaksud dengan saham? Saham adalah tanda penyertaan modal dalam suatu perusahaan. Kalau kamu membeli saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), artinya, kamu menjadi pemilik Bank Mandiri sesuai dengan jumlah saham yang kamu beli.

Harga saham dalam jangka panjang mencerminkan kinerja perusahaan. Saham yang berkinerja baik, harganya cenderung semakin naik. Dengan sendirinya, kapitalisasi pasar dari emiten juga kian besar ketika jumlah saham yang diperdagangkan bertambah banyak. Sebagai catatan, kapitalisasi pasar diperoleh dengan mengalikan jumlah saham dan harga saham.

Baca juga: Membandingkan Dampak Resesi 1998, 2008 dan 2020

Jadi, kapitalisasi pasar tidak ada sangkut-pautnya dengan kinerja perusahaan. Kinerja perusahaan dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal, dan pada akhirnya, kedua faktor ini mempengaruhi laba yang dihasilkan perusahaan. Di sisi lain, ekspektasi investor terhadap kinerja perusahaan turut mendorong aksi beli atau jual saham.

Jika kita ingin membeli saham sebagai instrumen investasi jangka panjang, maka kita harus bertindak seperti seseorang yang ingin menyertakan modal dalam suatu perusahaan.

Dengan mindset tersebut, kita lebih tergerak untuk memilih saham perusahaan yang berkinerja baik, dan memiliki pertumbuhan laba serta penjualan yang stabil. Kita juga harus memahami model bisnis perusahaan, termasuk sumber-sumber pendapatannya, jenis biaya yang dikeluarkan perusahaan, dan faktor eksternal-internal yang berdampak terhadap kinerja perusahaan.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Baca juga: Dampak Stock Split dan Reverse Stock Split Bagi Investor Saham

Untuk pertanyaan nomor dua, kamu bisa menjalankan strategi investasi saham dengan metode dollar cost averaging (DCA) agar tujuan keuangan kamu tercapai. Dalam strategi ini, ketika harga saham menurun, maka jumlah saham yang kamu peroleh semakin banyak. Soalnya, DCA mewajibkan kamu untuk menyisihkan dana dalam jumlah yang sama untuk membeli saham secara berkala.

Meski demikian, strategi DCA hanya bisa kamu terapkan untuk saham yang berkinerja baik dan berprospek bagus.

Jadi, sebagai investor jangka panjang, kamu harus rutin mengevaluasi laporan keuangan perusahaan yang terbit setiap triwulan. Kamu juga perlu mencermati rencana perusahaan ke depan dengan membaca laporan public expose di situs www.idx.co.id. Bila kinerja perusahaan ternyata tidak sesuai proyeksi dan banyak rencana perusahaan yang meleset, kamu sebaiknya menjual saham tersebut karena tak layak lagi untuk dijadikan investasi.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu