Memetik Peluang di Masa Pandemi, Agus Kholik Raup Ratusan Juta Rupiah dari Aglaonema

283
Agus Kholik

Tak selalu melemahkan sendi perekonomian, pandemi Covid-19 juga menyimpan peluang usaha yang melimpah. Salah seorang yang mampu memetik peluang di masa pandemi adalah Agus Kholik, pemilik Krokot Nursery. Dia meraup untung ratusan juta rupiah per bulan dari bisnis tanaman hias Aglaonema yang harganya melompat hingga lima kali lipat.

Pandemi memang berdampak sangat besar bagi bisnis tanaman hias Aglaonema di Sleman tersebut. Namun, sebenarnya, kesuksesan Agus tidak terjadi dalam waktu singkat. Dia sudah banyak melewati asam garam di dunia usaha sebelum bisa mengecap manisnya bisnis si raja daun.

Tak pernah melamar kerja

Sejak muda, Agus sudah bercita-cita menjadi pengusaha. Dia sama sekali tidak tergoda untuk melamar pekerjaan seperti anak muda lain. Padahal, Agus merupakan lulusan Magister Manajemen, STIE Widya Wiwaha, Yogyakarta.

“Setelah lulus, ijazah cuma saya lipat, dan saya tidak pernah melamar pekerjaan. Jadi, saya hidup dari bisnis,” tutur Agus.

Di sisi lain, perjalanan menjadi seorang pengusaha sukses tentu tidak mudah. Menurut Agus, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi jika seseorang ingin menjadi pengusaha sukses.

Pertama, kita harus punya niat yang teguh. Dengan niat yang teguh, kita merasa tidak perlu melamar pekerjaan. Kalau keputusan kita ternyata berbuah kegagalan, kita harus mencoba bisnis lain hingga akhirnya berhasil.

Kedua, jika ingin menjadi pengusaha, kita harus bermental tangguh. Jangan takut untuk mencoba dan jangan takut gagal. Modal bukanlah hal yang utama. Menurut Agus, hal penting dalam berbisnis adalah skill.

Baca juga: Yoshua Tanu: Bisnis Kopi Keliling untuk Mengedukasi dan Mendekatkan Konsumen

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Keahlian berbisnis bisa dipelajari. Dalam prosesnya, kita kadang menemui kegagalan. Kegagalan tersebut harus dianalisis, dan dicari solusinya. Dari sana, kita akan terus belajar.

Selanjutnya, kita harus memiliki fokus dalam berbisnis. Seperti orang yang berjalan, kita harus terus melaju ke tujuan tanpa perlu menengok ke kiri dan ke kanan. “Kalau ada rintangan, itu hal yang wajar, jangan tengok ke belakang lagi,” katanya.

Bisnis sutra yang merugi

Kisah Agus dalam dunia bisnis tak selalu mulus. Sebelum terjun ke bisnis Aglaonema, dia pernah menjajal berbagai macam bisnis, mulai dari bisnis serabut kelapa, sutra hingga server.

Agus juga pernah merasakan jatuh bangun ketika merintis usaha. Salah satunya, bisnis sutra yang dijalankan dari hulu hingga hilir. Bisnis sutra digarap secara terpadu, mulai menanam pohon murbei, memelihara ulat sutra, menenun, hingga memproduksi kain sutra.

Tak dinyana, peristiwa bom Bali meletus pada 2002 dan mengubah segalanya. Sebelum itu, Bali menjadi pasar utama bagi kain sutra yang diproduksi Agus. Setelah peristiwa bom Bali, permintaan sutra dari pulau wisata ternyata turun drastis. Para pelanggan tak lagi membeli sutra karena kunjungan turis asing terus merosot.

Kala itu, bisnis sutra yang dirintis Agus benar-benar hancur. Jalur sutra pun terputus dan terpaksa harus ditinggalkan. Bahkan, dia harus menanggung rugi sekitar Rp 300 juta.

Perjalanan dari Anthurium ke Aglaonema

Agus Kholik

Agus mulai mengenal tanaman hias pada 2004. Dia mulai menjajal bisnis berbagai jenis tanaman hias termasuk Anthurium, Philodendron, hingga Aglaonema.

Agus ikut merasakan masa keemasan tanaman hias Anthurium atau Gelombang Cinta. Saat booming, harga tanaman Gelombang Cinta melambung tinggi. Kendati demikian, popularitasnya tak berlangsung lama. Beberapa tahun setelahnya, permintaan tanaman hias ini nyaris nol.

Baca juga: Kebun Kumara: Ajak Kaum Urban untuk Hidup Berdampingan dengan Alam

Tanaman Anthurium tak laku lagi di pasaran. Banyak orang yang merugi karena sempat membeli tanaman hias ini ketika harganya selangit, dan telanjur menyimpannya saat harganya jatuh.

Belajar dari popularitas Anthurium yang berlangsung singkat, Agus melakukan riset dan kajian untuk mencari tanaman hias yang jenisnya banyak, tingkat permintaannya selalu ada, dan harganya cenderung stabil.

“Dari hasil kajian saya, yang pasarnya stabil itu aglaonema. Harganya memang naik-turun, tetapi yang penting, pasar dan permintaannya selalu ada,” kata Agus.

Koleksi 100 jenis Aglaonema

Setelah melihat prospek bisnis Aglaonema yang cerah, Agus mengawali bisnis Aglaonema dengan modal sekitar Rp 100 juta pada 2016. Dia mulai mengumpulkan berbagai jenis Aglaonema dari berbagai daerah terutama Yogyakarta, Bogor, Bandung dan Jakarta untuk dibudidayakan.

Belum puas dengan koleksi jenis aglaonema di dalam negeri, dia melirik jenis-jenis aglaonema baru dari luar negeri, terutama Thailand. Dari sejumlah importir tanaman hias, dia menemukan varian aglaonema baru nan langka.

Setahun kemudian, Agus mulai memasarkan aglonema hasil budidaya sendiri. Hingga saat ini, Krokot Nursery telah memiliki lebih dari 100 jenis aglaonema.

Jenis aglaonema langka yang dimilikinya antara lain Golden Hope yang harganya sekitar Rp 20 juta, Neo Juwita, sekitar Rp 15 juta, dan Putri Ayu yang mencapai Rp 70 juta.

Dia juga menjual Aglaonema yang bisa diproduksi massal, di antaranya Suksom dengan harga jual Rp 350.000 dan Anjamani senilai Rp 150 ribu. Jenis Aglaonema berwarna merah tersebut populer di kalangan pemula.

Peluang tak terduga dari pandemi

Agus Kholik

Aglaonema masih menjadi tanaman hias yang paling populer di Indonesia. Harganya pun melambung tinggi. Popularitas Aglaonema dimulai dari awal pandemi.

Saat pandemi, Agus mengatakan, banyak orang tinggal di rumah karena kebijakan work from home (WFH). Mereka mencari hobi untuk mengisi waktu luang. Aglonema dengan warna-warnanya yang bagus menjadi tanaman favorit untuk mengisi kekosongan hobi tersebut.

Baca juga: TaniHub: Dari Distribusi Hingga Permodalan untuk Petani

“Tidak semua ekonomi macet. Daya beli pegawai negeri dan pegawai swasta masih ada. Golongan ini banyak membeli Aglaonema,” ujar Agus.

Dengan permintaan yang tinggi, harga Aglaonema pun terkerek. Lihat saja, sebelum pandemi, harga Aglaonema Anjamani, varian yang paling banyak dicari, hanya Rp 30.000-Rp 35.000 per pot. Sekarang, harga rata-ratanya sudah sekitar Rp 150.000 per pot, atau melesat hingga lima kali lipat.

Lalu, Aglaonema Kansa sebelumnya dijual dengan harga rata-rata Rp 130.000 per pot. Kini, harganya sudah melambung hingga menjadi Rp 400.000 per pot atau naik tiga kali lipat.

Dari bisnis aglaonema, Agus kini bisa mengantongi omzet sekitar Rp 700 juta dalam sebulan, meningkat lebih dari tiga kali lipat dari tingkat harga sebelum pandemi, yakni Rp 200 juta. “Keuntungannya lumayan,” katanya.

Sebagai gambaran, biaya untuk mengembangkan anakan Aglaonema Anjamani hanya sekitar Rp 8.000 per pot. Dalam perhitungan bisnis normal sebelum pandemi, dia sudah meraup untung yang cukup besar dari harga penjualan Anjamani yang tadinya Rp 35.000 per pot. Apalagi, setelah pandemi, laba yang diperoleh menjadi berlipat ganda.

Agus meyakini, booming Aglaonema akan berlangsung lama, tidak seperti Anthurium. Alasannya, stok tanaman hias ini masih relatif terbatas. Di sisi lain, varian Aglaonema baru hasil persilangan terus bermunculan sehingga pasarnya tidak jenuh.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu