Checklist: Yakin Kamu Paham tentang Asuransi? Coba Jawab Dulu Empat Pertanyaan Ini!

1436
quiz asuransi

Meski berperan penting untuk melindungi seseorang dari risiko kerugian finansial, literasi asuransi di Indonesia ternyata masih rendah. Akibatnya, banyak salah kaprah yang terjadi ketika masyarakat membeli produk asuransi.

Berdasarkan Survei Nasional Literasi Keuangan Indonesia (SNLKI) 2019, indeks literasi asuransi hanya mencapai 19,4%. Angka ini lebih kecil ketimbang literasi perbankan, yakni 36,12%.

Literasi asuransi bukan soal sepele. Soalnya, kamu bakal kesulitan memahami detail fungsi dan manfaat dari produk asuransi. Apalagi, asuransi terdiri atas berbagai jenis produk, seperti asuransi kesehatan, jiwa, pendidikan, kendaraan, hingga produk yang lebih mutakhir seperti unit link.

Nah, berikut ada empat pertanyaan yang menguji pemahaman kamu tentang asuransi:

1. Apa perbedaan asuransi dengan investasi?

quiz asuransi

a. Asuransi dan investasi tidak berbeda karena tujuannya untuk masa depan

b. Asuransi menanggung risiko finansial yang tak terduga, sementara, investasi bertujuan untuk menjaga dan mengembangkan nilai uang yang dimiliki

c. Asuransi menjamin 100% kondisi keuangan di masa depan, sedangkan investasi memiliki risiko kerugian

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

d. Asuransi adalah dana untuk menanggung pengeluaran biaya kesehatan atau proteksi jiwa nasabah, sedangkan, investasi sama seperti menabung

Jawaban yang paling tepat adalah B

Asuransi dan investasi adalah dua hal yang berbeda meski tujuannya sama-sama untuk masa depan.

Asuransi adalah perjanjian tertulis antara pihak penanggung (perusahaan asuransi) dengan orang tertanggung (nasabah) untuk penggantian kerugian finansial yang diakibatkan peristiwa tertentu, misalnya jatuh sakit, cacat, meninggal dunia, kerusakan atau kehilangan harta benda, dan lain sebagainya.

BACA JUGA: Cermat Memilih Manfaat Asuransi Sesuai dengan Kebutuhanmu

Berbeda dengan asuransi, tujuan investasi adalah memupuk uang sebanyak-banyaknya demi mendatangkan imbal hasil agar nilai uang terjaga dan berkembang di masa depan. Biasanya, investasi dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dalam jangka waktu tertentu, seperti biaya menikah, pendidikan anak, atau dana pensiun.

Namun, setiap instrumen investasi selalu memiliki risiko. Seperti prinsip high risk, high return, jika kamu menginginkan imbal hasil yang besar, artinya, kamu harus siap dengan risiko yang besar pula. Bahkan, dana pokok kamu bisa tergerus kalau strategi investasi yang dijalankan tidak tepat atau kondisi pasar dan ekonomi tidak kondusif.

2. Apa yang dimaksud dengan unit link? 

a. Mirip dengan reksa dana

b. Asuransi yang memiliki fitur tabungan

c. Jenis asuransi yang mengombinasikan asuransi dengan produk investasi

d. Produk investasi yang menghasilkan keuntungan pasti dalam jangka panjang

Jawaban yang paling tepat adalah C

Membeli produk unit link ibarat menyelam sambil minum air. Dengan satu produk, kamu bisa mendapatkan dua manfaat sekaligus, yakni asuransi dan investasi. Kendati demikian, produk ini belum tentu ideal buat kamu.

Agar lebih jelas, berikut enam perbedaan antara asuransi unit link dengan asuransi tradisional.

Pertama, unit link menawarkan fasilitas nilai tunai yang bisa dicairkan nasabah setelah melewati periode tertentu. Nilai tunai ini berasal dari dana investasi yang dikelola. Sebaliknya, asuransi tradisional tidak menawarkan nilai tunai.

Kedua, premi asuransi unit link biasanya lebih mahal ketimbang asuransi tradisional. Alasannya, dana premi ditempatkan di dua keranjang, yakni asuransi dan investasi. Jadi, kamu harus mengeluarkan biaya-biaya yang lebih banyak ketimbang produk asuransi tradisional.

BACA JUGA: Mana yang Lebih Untung BPJS Kesehatan atau Asuransi Swasta?

Ketiga, manfaat unit link biasanya kurang optimal jika dibandingkan asuransi tradisional dengan nilai premi yang sama. Pasalnya, premi nasabah unit link tidak semuanya digunakan untuk fitur proteksi, melainkan juga investasi.

Keempat, masa kontrak asuransi. Kontrak asuransi tradisional hanya berlaku sampai jangka waktu tertentu, misalnya, hingga akhir dari masa produktif nasabah atau ketika nasabah memasuki masa pensiun. Namun, kontrak asuransi unit link bisa seumur hidup.

Kelima, cuti premi. Asuransi tradisional tidak mengenal istilah cuti premi atau tidak membayar biaya premi. Di sisi lain, asuransi unit link biasanya menawarkan fasilitas cuti premi. Saat cuti premi, dana untuk pembayaran premi diambil dari porsi investasi atau nilai tunai yang sudah dikumpulkan. Cuti premi dapat dimanfaatkan kalau nasabah mengalami kendala finansial atau tidak mampu membayar premi bulanan, namun masih menginginkan proteksi asuransi.

3. Apa perbedaan asuransi jiwa dan asuransi kesehatan?

quiz asuransi

a. Tidak ada perbedaan, keduanya memiliki fungsi yang sama

b. Asuransi kesehatan dibiayai oleh negara, sedangkan, asuransi jiwa tidak

c. Asuransi kesehatan menanggung kerugian finansial akibat gangguan kesehatan, sementara, asuransi jiwa hanya menanggung kerugian finansial yang terjadi dari risiko tutup usia

d. Asuransi kesehatan untuk anak muda, asuransi jiwa untuk orang tua

Jawaban yang paling tepat adalah C

Asuransi kesehatan memiliki fokus pertanggungan untuk pengeluaran finansial yang ditimbulkan gangguan kesehatan seperti biaya rawat jalan, cek laboratorium, obat-obatan, sampai rawat inap. Asuransi kesehatan umumnya juga memberikan uang santunan bila nasabah tutup usia ketika jatuh sakit. Namun, nilainya tak terlalu besar kalau dibandingkan dengan asuransi jiwa.

Di sisi lain, asuransi jiwa memiliki fokus pertanggungan terhadap kerugian finansial bila nasabah meninggal dunia atau mengalami cacat. Nantinya, uang pertanggungan bisa digunakan sebagai bekal hidup penerima manfaat atau ahli waris, misalnya, istri atau anak.

Lalu, mana yang lebih penting, asuransi kesehatan atau jiwa?

Keduanya sama-sama penting, tetapi kebutuhan orang untuk asuransi berbeda-beda. Misalnya, orang yang masih lajang bisa memilih asuransi jiwa unit link yang biasanya menanggung sejumlah penyakit kritis. Kelemahannya, penyakit ringan biasanya tidak ditanggung oleh asuransi tersebut secara maksimal.

Bagi yang sudah berkeluarga, asuransi kesehatan murni dan jiwa sama-sama dibutuhkan. Asuransi kesehatan berguna untuk menanggung pengeluaran saat pasangan atau anak jatuh sakit. Lalu, asuransi jiwa juga dibutuhkan ketika tulang punggung keluarga tutup usia atau cacat sehingga kehilangan sumber pendapatan utama. Nah, uang pertanggungan dari asuransi jiwa dapat menjadi bekal hidup ke depannya.

4.  Apa yang dimaksud dengan uang pertanggungan dalam asuransi jiwa?

a. Total dana yang bisa ditebus nasabah dalam periode tertentu meski tak mengalami risiko yang ditanggung asuransi

b. Sejumlah uang yang tercantum dalam polis dan merupakan hak pemegang polis serta penerima manfaatnya jika risiko terjadi sesuai dengan ketentuan polis asuransi

c. Total klaim yang bisa diajukan nasabah kepada perusahaan asuransi

d. Total premi yang harus dibayarkan oleh nasabah asuransi

Jawaban yang paling benar adalah B

Ada beberapa cara sederhana untuk menghitung uang pertanggungan yang kamu butuhkan dari produk asuransi jiwa.

Kamu bisa menghitung total pendapatan utama selama setahun. Lalu, nilainya dikalikan dengan waktu yang dibutuhkan anak-anak atau ahli waris hingga mereka bisa bekerja. Dari estimasi ini, keluarga memperoleh uang pertanggungan yang diperlukan jika kehilangan pendapatan utama.

Misalnya, pendapatan utama keluarga per bulan mencapai Rp 8 juta, atau sebesar Rp 96 juta per tahun. Lalu, ahli waris masih membutuhkan waktu selama 20 tahun lagi untuk bisa bekerja. Artinya, uang pertanggungan dari asuransi jiwa yang dibutuhkan keluarga adalah Rp 1,92 miliar.

Kalau kamu belum mampu membayar premi asuransi jiwa dengan fasilitas uang pertanggungan hingga Rp 1,92 miliar, masih ada metode lain untuk menghitung uang pertanggungan agar biaya premi lebih terjangkau.

Kamu dapat menggunakan total pengeluaran dalam satu tahun. Kemudian, nilainya dikalikan dengan waktu yang dibutuhkan anak-anak hingga mereka bisa bekerja.

BACA JUGA: Milenial Miliki Asuransi Bencana?

Contohnya, dari total pendapatan Rp 8 juta per bulan, ternyata jumlah pengeluaran keluarga mencapai Rp 5 juta per bulan atau Rp 60 juta per tahun.

Kalau ahli waris membutuhkan waktu 20 tahun lagi hingga mereka siap bekerja, maka total uang pertanggungan yang dibutuhkan mencapai Rp 1,2 miliar. Jadi, nilai ini lebih rendah Rp 700 juta ketimbang hasil penghitungan dengan metode sebelumnya. Alhasil, nilai premi yang dikeluarkan pun lebih terjangkau.

Dengan metode pertama dan kedua, ahli waris akan menerima uang pertanggungan sebagai bekal hidup hingga mereka bekerja dan memperoleh penghasilan sendiri.

Namun, ada alternatif ketiga untuk membuat estimasi uang pertanggungan, yakni skema income based value. Dalam skema ini, kebutuhan uang pertanggungan akan dihitung berdasarkan total dana investasi yang dibutuhkan untuk menghasilkan pendapatan pasif yang sanggup membiayai pengeluaran rutin.

Untuk mendatangkan pendapatan pasif dengan risiko paling rendah, kamu bisa memilih deposito bank. Apalagi, deposito masih dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dalam rentang suku bunga dan nominal tertentu.

Kalau pengeluaran kamu mencapai Rp 60 juta per tahun dan suku bunga deposito tenor 1 bulan tercatat sebesar 4% per tahun, artinya, kebutuhan uang pertanggungan kamu mencapai Rp 1,5 miliar. Dengan nilai ini, deposito berpotensi mendatangkan pendapatan pasif senilai Rp 5 juta per bulan (di luar pajak atas bunga deposito).

Metode ini lebih menguntungkan ahli waris karena uang pertanggungan bisa tetap utuh. Pasalnya, ahli waris akan memanfaatkan pendapatan pasif yang dihasilkan dari instrumen investasi.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu