Segera Tutup Kartu Kredit Jika Menemukan Hal-hal Berikut Ini

754
kartu kredit

Kepemilikan kartu kredit mirip seperti pisau bermata dua. Jika bisa mengambil sisi positifnya, maka kamu memperoleh manfaatnya. Namun, tidak jarang, pemakaiannya malah menjerumuskan orang dalam masalah keuangan.

Kehadiran kartu kredit seharusnya mempermudah kehidupan. Kepemilikannya bisa memperlancar berbagai transaksi keuangan. Katakanlah, kamu ingin membeli sebuah produk atau jasa. Kamu bisa melakukan pembayaran secara instan, aman, dan nyaman dengan credit card, baik di dalam atau luar negeri. 

Nilai belanja pun lebih terjangkau karena pelunasannya bisa dicicil sesuka hati. Apalagi, banyak gerai yang menawarkan diskon khusus bagi para pemegang kartu kredit.

Di balik manfaatnya yang menarik, kartu kredit justru bisa menjebloskan seseorang dalam masalah keuangan. Kemudahan pemakaiannya dapat menjadi awal masalah.

Hanya dengan menggesek kartu atau menginput sejumlah nomor, transaksi keuangan akan terselesaikan. Pemakai tidak akan melihat saldo rekening bank yang terdebit atau mengeluarkan uang dari dompet. Padahal, hal ini justru membuat orang menyepelekan penggunaan kartu kredit.

Tanpa disadari, saat memakai kartu kredit, orang hanya menunda pembayaran. Ketika jatuh tempo, mereka tetap harus menyisihkan pendapatannya untuk melunasi tagihan. Kemampuan membayar tagihan kerap menjadi masalah bagi sebagian orang.

Kondisi tersebut bukan hal yang remeh. Banyak pihak kesulitan ketika membayar tagihan credit card. Data yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bisa menjadi gambaran. Belakangan, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) untuk kartu kredit cenderung melonjak.

Pada Juni 2020, nilai NPL kartu kredit mencapai Rp 2,65 miliar. Nilai tersebut meningkat 16,03% dibandingkan bulan sebelumnya. Bahkan, secara tahunan, peningkatannya tercatat sebesar 28,28%.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Jangan sampai kamu terbelit dengan pembayaran tagihan kartu kredit. Oleh sebab itu, segeralah tutup kartu kredit jika kamu mengalami atau melakukan hal-hal berikut.

Baca juga: Kartu Kredit untuk Berinvestasi Emas? Bisa, Kok!

Tingkat Utang Tinggi

kartu kredit

Besarnya rasio utang menunjukkan pemakaian kartu kredit yang justru memicu problem keuangan. Selama ini, kamu mungkin membayar cicilan credit card dengan jumlah pembayaran minimum. Namun, lama kelamaan, beban yang kamu tanggung akan semakin besar.

Dengan membayar tagihan minimum, kamu harus membayar bunga utang. Padahal, bunga kartu kredit dikenal sebagai salah satu jenis bunga utang tertinggi.

Biasanya, tingkat bunga kartu kredit berkisar 2%-2,25% per bulan. Coba hitung berapa besar nilai utang yang harus ditanggung dengan nilai bunga sebesar itu.

Untuk mengetahui kapan momen yang tepat untuk menyetop pemakaian credit card, kamu bisa menghitung total utang yang dimiliki. Hitunglah nilai cicilan utang kartu kredit. Lalu, tambahkan nilainya dengan cicilan utang-utang lainnya jika ada. Selanjutnya, gunakan analisis dengan Debt-to-Income Ratio (DTI).

DTI adalah rasio yang menunjukkan perbandingan antara utang dan pendapatan. Nilainya diperoleh dari membagi jumlah pembayaran utang dengan pendapatan kotor kamu per bulan. Penghitungan tersebut akan menghasilkan sebuah nilai desimal yang bisa dikalikan 100 untuk memperoleh rasio DTI.

Kamu dapat menjadikan nilai rasio DTI sebagai acuan jumlah cicilan utang yang bisa ditoleransi. Aturan mainnya, nilai DTI jangan sampai melebihi 36%.

Apabila total utang kamu ternyata melampaui persentase tersebut, maka pemakaian credit card harus segera dihentikan. Coba lakukan penghematan dan menambah pendapatan untuk melunasi utang.

Sebutlah, pendapatan kotor (sebelum dikurangi pajak dan potongan-potongan lain) kamu per bulan mencapai Rp 10 juta. Sementara, kamu memiliki cicilan kredit motor senilai Rp 650.000, dan cicilan kredit pemilikan apartemen sebesar Rp 2,8 jt yang dibayar setiap bulan. Nah, kamu masih harus membayar cicilan kartu kredit senilai Rp 1,2 jt, mungkin untuk membeli smartphone, komputer, atau hal-hal lain.

Jadi, total utang yang harus kamu tanggung setiap bulan tercatat sebesar Rp 4,65 jt. Jika kamu bagikan nilai ini dengan total pendapatan kamu yang Rp 10 juta, lalu dikalikan 100, ternyata DTI kamu mencapai 46,5%. Tentu saja, angka DTI ini sudah melampaui ambang batas yang dianjurkan, yakni 36%. Maka, saatnya kamu mengkaji kembali kondisi keuangan pribadi.

Diandalkan untuk Membiayai Hidup

Salah satu indikasi yang menunjukkan problem kartu kredit adalah penggunaannya untuk kebutuhan hidup. Jadi, kamu mengandalkan credit card demi memenuhi beragam keperluan esensial seperti makan, listrik, bahan bakar atau transportasi, hingga tempat tinggal.

Ini salah besar. Kartu kredit bukanlah sumber pendapatan. Sebenarnya, credit card hanya sarana yang mempermudah transaksi pembayaran, bukan membiayai kebutuhan hidup.

Sikapi kartu kredit sebagai alat pembayaran yang praktis. Kamu pun harus melunasi seluruh tagihannya sebelum jatuh tempo. Kalau belum bisa seperti itu, sebaiknya kamu berpikir ulang tentang kepemilikannya. Lebih baik credit card ditutup agar tidak menjadi beban finansial ke depan.

Baca juga: First Jobber Bisa Punya Kartu Kredit, Asalkan…

Digunakan untuk Berbelanja Tanpa Kontrol

Credit card hadir demi mempermudah transaksi. Hanya dengan menggeseknya di mesin pembayaran, kamu sudah bisa bertransaksi. Bahkan, bila berbelanja online, kamu cukup memasukkan nomornya untuk melakukan pembelian. Praktis sekali.

Tak heran, banyak yang terjebak dalam pemanfaatan yang keliru. Kartu kredit dipakai untuk berbelanja tanpa terkendali. Dengan entengnya, seseorang memakai kartu kredit tanpa menyadari bahwa sebenarnya dia sedang berutang. Biasanya, pada saat itulah tagihan akan membengkak akibat aksi belanja yang kebablasan. Imbasnya, kamu kesulitan melakukan pembayaran.

Tagihan yang dibayar pun cuma nilai minimum. Kebiasaan ini yang akhirnya menjadi beban, karena kamu harus menanggung bunga utang. Jika memang demikian, kamu lebih baik segera menyetop pemakaian kartu kredit daripada keuangan pribadi semakin terganggu.

Belum Memiliki Anggaran Keuangan Pribadi

Kamu perlu berpikir ulang tentang kepemilikan kartu kredit apabila belum menyusun dan memanfaatkan anggaran keuangan pribadi. Singkatnya, anggaran keuangan pribadi adalah catatan yang bermanfaat dalam melacak dan membandingkan pemasukan serta pengeluaran kamu. Di dalamnya, kamu mencantumkan jumlah pendapatan yang akan diperoleh dan rencana pengeluaran yang akan dilakukan.

Bujet keuangan pribadi sangat bermanfaat bagi siapa saja. Pengeluaran akan lebih terkendali dan tidak akan melebihi kemampuan. Kamu bisa melihat anggaran sebelum memakai credit card untuk berbelanja.

Kalau kamu belum memiliki bujet keuangan, pemakaian kartu kredit sangatlah riskan. Lagi-lagi ingat bahwa credit card mudah dipakai untuk bertransaksi. Tanpa anggaran keuangan, kamu tidak punya pegangan untuk mengontrol pengeluaran. Kondisi ini rawan bagi kondisi keuangan kamu.

Baca juga: 7 Langkah Tepat Agar Kamu Tak Terjerat Utang Kartu Kredit

Cara Menutup Kartu Kredit

kartu kredit

Kalau kamu terbiasa melakukan hal-hal di atas, saatnya kamu melakukan evaluasi. Jika memang perlu, lebih baik kamu menutup credit card. Berikut ini cara yang tepat.

  1. Lunasi Tagihan

Pastikan semua tagihan telah dilunasi. Hitung sisa utang beserta bunganya. Perhitungkan pula biaya pemakaiannya. Bisa jadi, penerbit kartu kredit akan membebankannya saat kamu menutup kartu kredit.

  1. Hubungi Penerbit

Segera hubungi bank penerbit bila kamu ingin melakukan penutupan. Cari tahu prosedurnya, lalu ajukan secara resmi. Ikuti proses yang berlaku agar semuanya berjalan lancar.

  1. Hentikan Layanan Terkait Kartu Kredit

Jangan lupa untuk menghentikan semua jenis layanan yang terkait dengan credit card. Hal ini bisa berupa sistem autodebit maupun sistem berlangganan otomatis. Lakukan hal ini guna mengantisipasi adanya tagihan baru ke depannya.

  1. Minta Bukti Tertulis

Ketika berhasil menutup kartu kredit, mintalah bukti tertulis dari bank penerbit kartu kredit. Simpanlah dokumen ini sebagai bukti bahwa credit card sudah dihentikan. Hal tersebut berguna sebagai pegangan kamu jika ada masalah ke depan.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu