Checklist: Seberapa Sehat Keuangan Kamu? Yuk, Coba Jawab 4 Pertanyaan Berikut Ini

194
indikator keuangan sehat

Pandemi Covid-19 yang telah berlangsung sepanjang 2020 sudah menyeret perekonomian dunia ke jurang resesi. Angka pengangguran melesat begitu cepat. Bahkan, jutaan orang mengalami penurunan penghasilan sehingga daya beli mereka melemah. Bila kamu cemas dengan masa depan keuangan pribadi di tengah ketidakpastian ini, sadarlah bahwa hal tersebut sangat wajar. Semua orang harus berani mengajukan pertanyaan berikut: Apakah keuangan saya dalam kondisi sehat dan mampu bertahan melewati resesi ini?

Banyak orang beranggapan, ketika mereka memiliki aset yang berlimpah, secara otomatis keuangan mereka sehat. Atau, saat dana darurat mereka jauh melampaui angka ideal dan tidak menanggung utang besar, maka artinya keuangan mereka sudah kondusif. Namun, seberapa tepatkah pandangan tersebut?

Supaya lebih jelas, saatnya kamu menjawab empat pertanyaan di bawah ini:

1. Apakah orang yang kaya raya otomatis keuangannya sehat?

indikator keuangan sehat

a. Benar. Kepemilikan aset yang banyak menandakan kepiawaian seseorang dalam mengelola keuangan sehingga terbebas dari masalah, alias kondisinya sehat.

b. Salah. Orang yang memiliki banyak aset biasanya juga memiliki banyak utang.

c. Benar. Orang yang kaya raya berarti memiliki banyak uang untuk membeli berbagai aset yang nilainya tinggi seperti tanah, saham, emas dan lain sebagainya.

d. Salah. Aset yang melimpah belum tentu menandakan kondisi keuangan yang sehat. Perlu penghitungan yang lebih cermat tentang kualitas aset yang dimiliki, kalkulasi tentang rasio utang, dan rasio solvabilitasnya.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Jawaban yang benar adalah D

Orang yang kaya raya dan memiliki aset melimpah ruah, belum tentu memiliki kondisi keuangan yang sehat. Banyak orang yang sekilas terlihat kaya sebab memiliki segudang aset. Akan tetapi, aset ini ternyata banyak dibiayai oleh utang. Hal tersebut kurang kondusif, karena mengakibatkan kondisi keuangan yang rentan jatuh dalam kebangkrutan. Jika berhadapan dengan masalah mendadak, orang ini bisa saja kesulitan membayar utang.

Sehatnya kondisi keuangan tidak bisa hanya dilihat dari jumlah aset yang terlihat melimpah. Perlu pemeriksaan atau financial checkup yang cermat untuk mengukur sehat atau tidaknya kondisi keuangan seseorang. Boleh jadi, kondisi keuangan seorang karyawan dengan gaji sedikit di atas UMR, malah lebih sehat ketimbang seorang pengusaha dengan penghasilan yang jauh lebih besar.

Baca juga: 8 Langkah Mengatasi Beban Cicilan Utang di Tengah Pandemi dan Ancaman Resesi Ekonomi

2. Apa saja indikator keuangan yang sehat?

a. Keuangan yang sehat dimiliki seseorang yang sama sekali tidak menanggung utang konsumtif.

b. Keuangan yang sehat ditandai oleh rasio utang yang baik, likuiditas aman, dan rasio-rasio lain yang bisa dihitung melalui financial checkup secara cermat.

c. Keuangan yang sehat adalah ketika kamu sudah memiliki perlindungan asuransi dengan nilai yang fantastis.

d. Keuangan yang sehat dimiliki seseorang dengan dana darurat yang berjumlah besar, dan ditempatkan pada instrumen investasi rendah risiko seperti deposito bank.

Jawaban yang benar adalah B

Memiliki dana darurat yang besar atau terlindungi asuransi dengan nilai pertanggungan fantastis, tidaklah cukup menjadi syarat sebuah keuangan disebut sehat. Untuk mengukur kesehatan finansial, kamu perlu menghitungnya dengan cermat berdasarkan data arus kas (pengeluaran dan pemasukan), serta data neraca keuangan yang jujur.

Dari data-data keuangan, kamu bisa mengetahui rasio-rasio keuangan penting yang bisa menjadi alat ukur objektif tentang kondisi finansial kamu. Berikut ini rasio keuangan yang bisa menjadi indikator sehat-tidaknya kondisi keuangan pribadi.

Pertama, rasio Debt-to-Income Ratio (DTI). Rasio ini membandingkan nilai pembayaran utang yang ditanggung seseorang dan pendapatan kotornya per bulan. Kamu bisa menghitungnya dengan menjumlahkan seluruh nilai cicilan dari utang yang dibayarkan setiap bulan, lalu membaginya dengan jumlah pendapatan bulanan secara bruto (sebelum dikurangi pajak dan potongan-potongan lain). Lalu, hasilnya bisa kamu kalikan dengan 100 agar memperoleh angka persen.

Prinsipnya, DTI tidak boleh melewati 36%. Kalau DTI kamu ternyata lebih besar dari anjuran tersebut, maka nilai pembayaran utang per bulan terlalu membebani penghasilan kamu. Jika demikian, kamu harus betul-betul mengkaji ulang utang-utang yang ada, bahkan segera melunasi beberapa di antaranya.

Kedua, rasio likuiditas. Ini adalah rasio yang menunjukkan kemampuan keuangan kamu dalam mengubah aset menjadi dana tunai dalam waktu singkat. Apakah aset tunai atau dana lancar kamu memadai sewaktu kamu mendadak berhadapan dengan situasi yang membutuhkan uang tunai? Cara menghitungnya, jumlahkan total aset likuid yang kamu miliki, lalu membagikannya dengan total pengeluaran per bulan. Angka idealnya adalah enam kali nilai pengeluaran bulanan.

Ketiga, rasio solvabilitas yang digunakan untuk mengetahui nilai kekayaan yang kamu miliki terhadap aset yang ada. Jadi, bila terjadi ancaman kebangkrutan karena utang, aset yang kamu miliki dapat menutupi seluruh kewajiban tersebut. Rasio solvabilitas minimal sebesar 35%. Semakin besar angkanya semakin baik. Kamu bisa mengetahui rasio solvabilitas kamu dengan membagikan nilai kekayaan bersih (networth) dengan total nilai aset yang kamu miliki.

Keempat, rasio tabungan. Rasio ini memperlihatkan kemampuan keuangan kamu dalam menyisihkan pendapatan untuk ditabung. Kamu bisa mendapatkan angkanya dengan cara menjumlahkan total nilai tabungan yang kamu miliki dan bagilah dengan pendapatan pada periode yang sama. Angka yang dianjurkan minimal sebesar 10%.

Kelima, rasio utang berbanding aset. Rasio ini mengukur seberapa besar aset kekayaan kamu yang dibiayai oleh utang. Cara menghitungnya, jumlahkan total nilai aset yang kamu miliki, lalu membaginya dengan total kewajiban utang. Idealnya, rasio ini berada di bawah 50%. Semakin kecil angkanya semakin baik.

Baca juga: Panduan Lengkap untuk Memutus Mata Rantai “Generasi Sandwich”

3. Apa saja langkah penting agar terbangun keuangan pribadi yang sehat?

a. Tidak mengambil utang konsumtif seperti kartu kredit karena dapat membahayakan kesehatan keuangan.

b. Berinvestasi hanya pada instrumen investasi yang rendah risiko supaya terhindar dari kerugian.

c. Membiasakan financial habit yang sehat, membatasi utang sesuai rasio yang dianjurkan, memiliki dana darurat yang memadai, serta terproteksi oleh asuransi, dan memiliki investasi untuk hari depan.

d. Menerapkan gaya hidup hemat semaksimal mungkin.

Jawaban yang benar adalah C

Prinsip keuangan yang sehat pada dasarnya sederhana, yaitu memastikan pengelolaan keuangan “tidak lebih besar pasak daripada tiang”. Banyak orang terjerat masalah keuangan karena mengikuti gaya hidup konsumtif tanpa perencanaan keuangan. Misalnya, berbelanja sesuka hati memakai kartu kredit tanpa menghitung apakah pendapatannya cukup untuk membayar tagihan kartu kredit yang jatuh tempo.

Supaya keuangan sehat, mulailah dengan membangun kebiasaan keuangan yang baik. Berhati-hatilah dalam mengambil utang. Kamu harus memastikan beban cicilan utang setiap bulan tidak melebihi 36% dari pendapatan kotor bulanan. Lalu, kamu dapat membiasakan pengelolaan arus kas yang benar dengan menghindari kondisi defisit. Untuk itu, kamu dapat melakukan prioritasasi anggaran, memangkas pengeluaran yang tidak penting, dan sebagainya.

4. Supaya keuangan sehat, apakah kita wajib berinvestasi?

indikator keuangan sehat

a. Salah. Investasi sebaiknya dilakukan apabila kondisi keuangan kamu sudah cukup sehat.

b. Benar. Melalui investasi, kita bisa membangun dana darurat dan asuransi yang memadai, bahkan melunasi utang-utang.

c. Benar. Investasi perlu dilakukan supaya kebutuhan di masa depan bisa dipenuhi.

d. Salah. Investasi merupakan cara termudah untuk membangun kekayaan sejak mulai bekerja.

Baca juga: Bersiap Hadapi Resesi, Ini Strategi Keuangan Yang Harus Kamu Lakukan

Jawaban yang benar adalah A

Keuangan yang sehat adalah ketika kamu cukup tangguh menghadapi aneka guncangan finansial yang tak terduga, mulai dari kehilangan penghasilan hingga terjebak resesi seperti sekarang. Kesehatan keuangan juga memperlihatkan kemampuan kamu untuk membiayai seluruh kebutuhan pada hari ini maupun masa depan melalui investasi. Akan tetapi, demi mewujudkan keuangan yang sehat, bukan berarti kamu wajib mendahulukan investasi.

Sebelum memulai investasi, kamu perlu memastikan fondasi keuangan kamu saat ini sudah cukup aman. Soalnya, investasi mengandung risiko yang cukup besar. Bila tidak dilandasi oleh fondasi finansial yang kuat, langkah berinvestasi justru memicu masalah baru.

Jadi, amankan dulu fondasi keuangan kamu, yaitu kebutuhan primer terpenuhi, rasio utang berada di angka yang baik, jumlah dana darurat telah memadai, dan terproteksi oleh asuransi. Kalau sudah terpenuhi, barulah kamu dapat memulai investasi untuk mengejar berbagai tujuan keuangan penting.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu