David Christian, Mimpi Kurangi Sampah Plastik dan Bahagiakan Petani Rumput Laut

545
David Christian

Sampah plastik sudah menjadi momok yang mengkhawatirkan bagi masyarakat Indonesia. Data Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) pada 2019 mencatat, jumlah sampah plastik di Indonesia telah melampaui 64 juta ton per tahun.

Pemerintah juga sudah melakukan beberapa cara untuk menekan jumlah sampah plastik, mulai dari strategi plastik berbayar hingga penetapan kebijakan tanpa kantong plastik di Jakarta pada tahun ini.

Di luar upaya pemerintah, ternyata ada pemuda Indonesia yang memikirkan persoalan sampah plastik. David Christian, pemuda yang lama mengenyam pendidikan di Kanada, mengaku terkejut saat mengetahui kondisi limbah plastik di Indonesia yang cukup parah.

“Aku baru pulang ke Indonesia pada 2015 dan baru menyadari masalah besar di Indonesia, yakni sampah plastik,” ceritanya.

David bercerita, kondisi udara di Indonesia dengan Kanada sangat berbeda. Di Indonesia, sampah plastik bertebaran di sungai dan jalanan. Apalagi, aktivitas membakar sampah, termasuk plastik, menjadi rutinitas di Indonesia. Padahal, aksi membakar sampah bisa meningkatkan polusi udara.

BACA JUGA: Memetik Peluang di Masa Pandemi, Agus Kholik Raup Ratusan Juta Rupiah dari Aglaonema

Di sisi lain, David memang berencana membuat produk yang berbeda selepas pulang dari Kanada. Berangkat dari situ, David terpikir untuk membuat wadah pengganti plastik yang ramah lingkungan.

Nah, David mendapatkan ide saat menonton tayangan tentang makanan di Jepang yang berbentuk gelas. Dari sana, dia memiliki ide untuk membuat wadah gelas yang bisa dimakan, seperti di tayangan tersebut.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Namun, ide David tidak mudah direalisasikan. Dia menyadari kalau bahan baku makanan yang berbentuk gelas itu ternyata berasal dari cumi-cumi. Dia sama sekali tidak memiliki latar belakang untuk mengolah makanan tersebut.

David pun mengajak beberapa rekan yang tertarik untuk mengembangkan idenya. Lantas, mereka melakukan riset tentang bahan baku gelas yang bisa dimakan. Akhirnya, David dan rekan-rekannya memutuskan untuk memakai bahan baku rumput laut.

BACA JUGA: Yoshua Tanu, Bisnis Kopi Keliling untuk Edukasi dan Mendekatkan Diri ke Konsumen

Menurut David, pihaknya memilih rumput laut karena karakternya mirip jelly gelatin yang mudah dibentuk. Gelatin biasanya terbuat dari tulang hewan seperti babi. Sedangkan, kalau memakai rumput laut, kehalalan produk gelas yang bisa dimakan ini lebih terjamin.

“Apalagi, rumput laut juga punya banyak manfaat bagi tubuh, serta mudah terurai,” ujarnya.

Dia menegaskan, rumput laut menjadi pilihan yang tepat. Soalnya, Indonesia adalah produsen rumput laut yang terbesar di dunia. Namun, produk rumput laut belum memiliki nilai tambah yang besar dan para petaninya juga masih tergolong miskin.

“Di sini, kami juga ingin mengambil kesempatan agar bisa memberikan nilai tambah untuk produk rumput laut,” ujarnya.

Tantangan Produk Pengganti Plastik

David Christian

David melalui Evoware berhasil membuat produk gelas berbahan rumput laut. Produk gelas itu bernama Ello Jello.

“Gelas ini bisa dimakan. Kalau tidak dimakan pun, gelas tersebut bisa dibuang dan akan terurai selama dua bulan. Jika dibuang ke tanah, produk ini bisa menjadi pupuk alami untuk tumbuhan,” ceritanya.

Selain gelas, Evoware juga membuat produk plastik kemasan makanan yang bisa langsung dimakan, seperti kertas makanan untuk hamburger atau kopi instan. Jadi, konsumen tak perlu lagi membuka kertas makanan, tetapi bisa langsung memakannya, atau membuatnya menjadi minuman kopi beserta plastik kemasannya.

Evoware besutan David memang memberikan solusi bagi masalah sampah di Indonesia. Akan tetapi, keberadaannya tak serta-merta menurunkan permintaan plastik. Justru, inilah tantangan David untuk menyakinkan masyarakat agar mau menggunakan produknya ketimbang plastik.

Apalagi, sejak dirilis pada 2016, harga jual Evoware masih tergolong mahal. Dalam salah satu acara di stasiun tv swasta, David mengakui, harga produk yang mahal terutama disebabkan oleh metode produksi rumahan. Dia belum mencapai tahap produksi massal.

Misalnya, harga Ello Jello alias gelas yang bisa dimakan, ditawarkan senilai Rp 20.000 per gelas pada 2017. Walaupun, David berkata bahwa harganya bisa turun menjadi Rp 11.000 per gelas kalau membeli dalam partai besar.

BACA JUGA: Tissa Aunilla, Mengangkat Cokelat Indonesia ke Panggung Dunia

“Kami pun berencana membuat program untuk membuat gelas yang bisa dimakan di rumah masing-masing. Dengan begitu, harganya bisa semakin terjangkau oleh masyarakat,” ujarnya.

Selain itu, produk Evoware juga ada yang berupa kemasan makanan ukuran 26×33 cm seharga Rp 4.000 per lembar. Menurutnya, harga itu bisa diturunkan menjadi Rp 680 per lembar kalau sudah masuk tahap produksi massal.

Dikutip dari Prestige pada 2018, David mengakui pola pikir masyarakat Indonesia soal plastik menjadi tantangan bagi Evoware. Sampai periode itu, 80% pelanggannya masih berasal dari Eropa dan Amerika.

“Mereka lebih sadar dan peduli terhadap masalah lingkungan. Selain itu, ya memang persoalan harga produk kemasan ini lebih mahal. Namun, biaya itu bisa dibilang cukup murah jika dibandingkan dengan anggaran yang dikeluarkan pemerintah untuk membereskan sampah plastik,” ujarnya.

Meningkatkan Kesadaran Masyarakat

David menuturkan, target pasar Evoware adalah perusahaan besar dan acara-acara pesta seperti pernikahan.

“Kalau pernikahan kan butuh banyak gelas plastik tuh, nah kami masuk ke sana untuk menggantikan gelas plastik,” ujarnya.

Di sisi lain, Evoware bisa dibilang belum memiliki kompetitor meski ada penggiat serupa yang membuat produk pengganti plastik dari singkong. Kendati demikian, David tidak ingin berkompetisi. Dia malah ingin berkolaborasi dengan pembuat produk pengganti plastik dari singkong tersebut.

Apalagi, dari segi segmentasi pasar, yang disasar juga berbeda. Produk pengganti plastik dari singkong lebih berfokus pada produk pengganti plastik kresek, sementara, Evoware mengincar segmen plastik kemasan.

Nah, untuk memperluas segmen pasarnya, Evoware pun tengah menggencarkan kampanye dengan tema Rethink Plastic.

Dalam artikel blog pada 10 April 2020, Evoware mengajak masyarakat hingga komunitas untuk bergabung dalam kampanye Rethink Plastic. Target dari kampanye adalah mengajak satu juta orang untuk mengurangi penggunaan plastik sampai akhir 2020.

Peserta kampanye tersebut akan mendapatkan 1 starter kit untuk mengurangi penggunaan plastik bernama Rethink Kit. Isi Rethink Kit terdiri atas sedotan dari bambu, sikat, sendok dan garpu dari bambu, tempat simpan sendok dan garpu, tempat minum, dan tas.

Satu orang yang memakai Rethink Kit bisa mengurangi penggunaan 362 sedotan plastik, 107 sendok dan garpu plastik, 1.277 botol plastik, dan 700 plastik kresek.

Kamu siap mendukung upaya pengurangan sampah plastik?

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu