Sudahkah Kamu Menjalankan Gaya Hidup Hemat?

138
gaya hidup hemat

Keamanan finansial pasti menjadi dambaan setiap orang. Salah satu cara mewujudkannya adalah menjalani gaya hidup hemat. Sayangnya, banyak orang yang enggan melakukannya. Sebagian besar orang berpikir bahwa gaya hidup hemat berarti bersikap pelit dan tidak bisa menikmati kehidupan.

Padahal, gaya hidup hemat sama sekali tidak berkaitan dengan pengiritan yang berlebihan. Kamu hanya perlu bersikap lebih bijaksana dalam mengeluarkan uang. Pendeknya, good money habit mutlak menjadi fondasi keuangan pribadi.

Kamu pun tetap bisa menikmati hidup seperti biasa. Kamu masih leluasa melakukan hal-hal yang disenangi demi membahagiakan diri. Namun, saat menjalani frugal lifestyle atau hidup hemat, kamu harus siap melupakan aneka hal yang kurang esensial.

Sudahkah kamu melakukannya?

Baca juga: Masih Susah Berhemat? Coba Belajar Dari Seleb-seleb Dunia

Apa Sebenarnya Gaya Hidup Hemat?

Gaya hidup hemat berkaitan erat dengan pemanfaatan uang secara cermat. Prinsip kehati-hatian harus selalu diutamakan agar pemakaian uang berdampak positif bagi kehidupan kamu. Dengan demikian, keuangan pribadi selalu aman dan terkendali.

Berikut ini prinsip-prinsip dalam gaya hidup hemat:

  • Kenali Kondisi Keuangan Pribadi

Sebesar apa pun penghasilan yang diterima, kalau kamu tidak mempelajari kondisi aset dan utang, arus kas, serta enggan menyusun rencana keuangan, kamu akan sulit melakukan penghematan. Seperti kata pepatah, tak kenal maka tak sayang.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Bahkan, pakar manajemen Peter Drucker berkata, “You can’t manage what you can’t measure”. Kita hanya dapat mengelola sesuatu hal jika kita bisa mengukurnya. Sebagai penganut gaya hidup hemat, kamu wajib mengetahui bagaimana dan kapan uang datang dan pergi.

  • Bisa Membedakan Keinginan dan Kebutuhan

Kalau kamu sudah bisa membedakan keinginan dan kebutuhan, artinya kamu mampu mengambil keputusan membeli dengan bijak. Jangan sampai kamu membeli sesuatu yang akhirnya jarang atau tidak pernah digunakan.

Apalagi, survival mode di masa pandemi benar-benar diperlukan. Untuk itu, kamu sebaiknya menghindari impulsive buying. Segala pengeluaran harus betul-betul terencana. Lebih lagi, kualitas produk harus lebih didahulukan ketimbang harga, citra merek, atau gengsi.

Akan tetapi, sikap ini bukan semata-mata mencari harga termurah, melainkan nilai tambah terbaik atau good value. Sang perencana keuangan Prita Hapsari Ghozie berkata, “Shopping is a must, but being a smart shopper is a choice”.

  • Bisa Membedakan Belanja dan Investasi

Sebagian orang mungkin kesulitan membedakan belanja (spending) dan investasi. Padahal, keduanya sangat berbeda. Singkatnya, belanja adalah pengeluaran yang dilakukan untuk hal-hal yang nilainya kelak terdepresiasi, dan tidak mendatangkan manfaat dalam jangka panjang. Di sisi lain, investasi berarti pengeluaran yang dilakukan untuk aset berwujud, seperti rumah, surat-surat berharga, dan lain-lain.

Gaya hidup hemat sebetulnya tidak menuntut kamu untuk memprioritaskan investasi ketimbang belanja. Meski demikian, kamu harus memahami betul perbedaannya supaya kamu jeli mengatur keuangan.

Baca juga: Tips Berhemat Era “New Normal”

Manfaat Gaya Hidup Hemat

gaya hidup hemat

Apakah kamu sudah menerapkan prinsip-prinsip tersebut dalam pengelolaan keuangan pribadi? Kalau belum, tidak ada kata terlambat, segeralah berbenah untuk mulai menjalaninya. Banyak manfaat yang sebetulnya diperoleh dari gaya hidup hemat, antara lain:

  1. Lepas Dari Stres Akibat Masalah Finansial

Jika mau menjalani gaya hidup hemat, kamu akan terlepas dari stres finansial. Soalnya, pengelolaan keuangan akan lebih terencana dan memiliki pakem-pakem yang telah ditetapkan. Hasilnya, kamu pun terbebas dari utang-utang konsumtif yang membuat penghasilan kamu melayang tanpa arah.

Dengan gaya hidup hemat, bukan sesuatu yang mustahil kalau kamu akhirnya bisa memiliki aset-aset aktif, bahkan memperoleh penghasilan pasif. Apabila nilai penghasilan pasif yang kamu terima sama atau bahkan melebihi jumlah biaya hidup sehari-hari, maka kamu telah mencapai kebebasan finansial.

  1. Mampu Meraih Tujuan Keuangan

Kamu akan lebih cepat meraih tujuan keuangan yang diinginkan. Dengan melakukan aneka penghematan dan berhati-hati dalam mengeluarkan uang, kamu lebih mudah memiliki dana yang berlebih. Berbekal hal tersebut, target finansial bisa terwujud dengan lebih mudah.

  1. Memaksimalkan Sumber Daya yang Dimiliki

Bergaya hidup hemat akan mendorong kamu untuk memanfaatkan semua sumber daya yang kamu miliki dengan sebaik-baiknya. Dengan begitu, semua hal tak ada yang mubazir. Sebagai contoh, saat kamu memiliki peralatan dapur yang komplet, kamu tidak akan menyia-nyiakannya begitu saja. Kamu akan lebih termotivasi untuk memasak sendiri demi menghemat pengeluaran dan menjalani hidup yang lebih sehat. Misalnya lagi, ketimbang mengeluarkan uang untuk biaya mencuci mobil atau motor, kamu bisa mencucinya sendiri di rumah. Atau, kamu bisa menyetop pengeluaran untuk air mineral dalam kemasan dengan membawa air minum sendiri ketika bepergian.

  1. Memunculkan Bakat Tersembunyi

Tanpa disadari, kamu bisa jadi memiliki bakat dan kemampuan tersembunyi ketika menjalani gaya hidup hemat. Soalnya, dengan berhemat, kamu lebih terdorong untuk memaksimalkan kemampuan sendiri. Katakanlah, kamu ingin menikmati es krim. Kamu bisa mencoba untuk membuatnya sendiri. Ternyata, hasilnya cukup enak. Keahlian baru ini malah bisa kamu jadikan sebagai inspirasi untuk ide bisnis.

Baca juga: Hidup Hemat Tetap Senang-senang? Ini Tipsnya Buat Kamu

Cara Menjalani Gaya Hidup Hemat

gaya hidup hemat

Nah, kamu kini tertarik untuk menerapkan gaya hidup hemat? Berikut beberapa langkah mudah yang bisa kamu jalani:

  1. Potong Pengeluaran yang Berlebihan 

Kamu bisa mulai bergaya hidup hemat dengan memotong berbagai jenis pengeluaran yang dirasa berlebihan. Kamu dapat melakukannya dengan menyisir daftar pengeluaran. Luangkan waktu untuk mengumpulkan daftar pengeluaran rutin sekalipun nilainya kecil. Lalu, buatlah rekapitulasinya selama beberapa bulan ke belakang.

Kamu dapat mengidentifikasi pos-pos pengeluaran yang berlebihan dari tingkat pemanfaatannya yang kurang maksimal hingga dari segi biaya yang dikeluarkan. Misalnya, paket berlangganan layanan pemutaran film atau lagu lewat internet (streaming)

Karena kesibukan kerja, kamu sebetulnya jarang menonton film lewat layanan tersebut. Padahal, kamu berlangganan paket lengkap. Hal ini termasuk jenis pengeluaran yang perlu dipangkas. Jadi, kamu bisa mengganti jenis langganan dengan paket dasar agar lebih hemat.

  1. Selalu Berpikir Ulang Sebelum Mengeluarkan Uang

Kamu harus berhati-hati sekali dalam mengeluarkan uang. Cobalah mengecek apakah pengeluaran tersebut memang sudah sesuai rencana. Apakah anggarannya telah tersedia atau belum? Seberapa penting pengeluaran ini bagi diri kamu? Yang paling penting, apakah pengeluaran ini merupakan kebutuhan atau sekadar keinginan?

Aneka pertanyaan tersebut harus selalu diajukan sebelum mengeluarkan uang. Kamu perlu menjawabnya dengan jujur untuk menemukan jawaban yang sebenarnya.

Jika jawabannya sudah ditemukan, kamu bisa mengambil keputusan untuk melakukan pembelian atau menahan pengeluaran. Namun, kalau hal tersebut merupakan sesuatu yang berarti, besar kemungkinan kamu sudah merencanakannya terlebih dulu.

Sebagai contoh, ketika kegiatan bersepeda kamu anggap penting untuk relaksasi dan kesehatan, maka kamu harus menyiapkan anggarannya, termasuk aksesori sepeda, biaya perawatan dan perbaikan.

  1. To Live Below your Means

Jangan sampai besar pasak daripada tiang. Pepatah ini sering kali kamu temui. Maka, pengeluaran tidak boleh melampaui penghasilan. To live below your means, mungkin istilah lain yang pernah kamu dengar.

Beberapa konglomerat bisa menjadi inspirasi kita. Salah satu orang terkaya di dunia, Warren Buffet, misalnya, hingga kini masih tinggal di rumah lamanya yang dibeli pada 1950-an. Luas rumah Buffet “hanya” sekitar 500 meter persegi. Atau, Gita Wirjawan, salah satu pendiri Ancora Group dan mantan Menteri Perdagangan RI, yang lebih suka menjahit pakaian sendiri di tukang jahit langganan ketimbang membeli pakaian branded.

Padahal, kedua konglomerat tersebut sebetulnya memiliki pilihan yang lebih mewah kalau kita berkaca pada nilai aset dan penghasilan “wah” yang mereka miliki.

Nah, hidup hemat memang sangat erat kaitannya dengan mengatur pengeluaran. Hal ini persis seperti yang dikatakan seorang pecatur kenamaan dunia Charles Jaffe: “It’s not your salary that makes you rich, it’s your spending habits”. Sudah siap hidup hemat?

 

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu