Panduan Portfolio Rebalancing Ketika Pasar Keuangan Terhempas Resesi

409
portofolio investasi

Pasar keuangan domestik sudah mengalami gejolak dan ketidakpastian di tengah pandemi Covid-19. Setelah menembus rekor tertinggi ketika mencapai 6.300, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok hingga 37,5% year-to-date pada 24 Maret 2020 menjadi 3.938. Kinerja reksa dana dan obligasi juga ikut terseret. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, sejak awal tahun hingga akhir Oktober 2020, arus modal keluar (capital outflow) dari pasar modal domestik mencapai Rp 47,3 triliun.

Bagi kamu yang berinvestasi dalam berbagai produk pasar keuangan, situasi ini memang kurang kondusif. Kamu harus berhadapan dengan risiko penurunan nilai aset investasi. Namun, kamu tak perlu terlalu galau dan cemas. Guna memitigasi risiko kerugian dan memastikan target-target keuangan tetap berjalan on the right track, sebaiknya kamu menyisihkan waktu untuk mengecek ulang lagi isi keranjang investasi. Ini penting karena kita sulit memastikan kapan resesi perekonomian akan berakhir. Meski IHSG sempat menanjak hingga mencapai 5.594,06 per 19 November 2020, ada baiknya kamu tetap waspada.

Baca juga: Checklist: Seberapa Sehat Keuangan Kamu? Yuk, Coba Jawab 4 Pertanyaan Berikut Ini

Rebalancing portofolio kala resesi ekonomi

portofolio investasi

Di tengah kondisi perekonomian yang masih terjebak resesi, dan ketidakpastian kapan pandemi Covid-19 akan berakhir, kamu perlu mengelola keuangan dengan sebaik-baiknya. Mulai dari memperkuat dana darurat, menghindari utang konsumtif, sampai lebih cermat dalam melakukan investasi.

Terkait investasi, apabila kamu sudah mengalami turbulensi pasar yang mengguncang portofolio investasi, jangan lagi menunda untuk membenahinya. Supaya kerugian tidak semakin besar, salah satu jalan yang bisa ditempuh adalah melakukan portofolio rebalancing.

Mengutip Investopedia, portofolio rebalancing adalah tindakan menata ulang isi keranjang investasi melalui proses pembelian atau penjualan sebagian aset dalam portofolio investasi. Dengan demikian, bobot keranjang investasi kamu sesuai dengan tujuan investasi yang telah ditetapkan, serta risiko kerugian dapat dimitigasi.

Supaya mendapat gambaran yang lebih jelas, tujuan keuangan kamu, misalnya, mengumpulkan dana pembelian rumah dalam tempo lima tahun ke depan. Untuk itu, kamu berinvestasi dalam beberapa jenis produk investasi seperti reksa dana saham dengan alokasi 60%, dan instrumen pendapatan tetap 40%.

Tekanan pasar sempat membuat instrumen berbasis saham melorot sehingga bobotnya berkurang menjadi tinggal 40%, sementara, instrumen pendapatan tetap malah meningkat menjadi 60%. Dengan begitu, alokasi aset perlu dikembalikan seperti tujuan semula, yaitu saham sebesar 60% dan pendapatan tetap sebesar 40%.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Baca juga: Begini Cara Melakukan Evaluasi Investasi yang Tepat

Ada beberapa jenis portfolio rebalancing yang perlu kamu ketahui. Simak penjelasannya berikut ini:

Pertama, rebalancing dilakukan sesuai profil risiko kamu sebagai investor. Misalnya, profil risiko kamu adalah konservatif sehingga isi keranjang investasi didominasi oleh instrumen pasar uang dan pendapatan tetap. Sedangkan, alokasi instrumen saham tergolong minimal. Atau, tujuan keuangan kamu masih 20 tahun lagi, sebut saja untuk keperluan dana pensiun. Artinya, instrumen berbasis ekuitas yang agresif bisa diperbanyak ketimbang investasi pendapatan tetap.

Kedua, rebalancing yang dilakukan untuk diversifikasi, yaitu menyeimbangkan isi keranjang investasi dengan menganekaragamkan portofolio supaya risikonya tetap terkelola. Misalnya, saham-saham yang kamu koleksi ada yang harganya jatuh cukup dalam, namun ada yang justru naik harganya. Supaya bobotnya tetap seimbang, kamu bisa melakukan rebalancing dengan cara menjual saham yang sudah menangguk untung cukup besar dan memanfaatkan keuntungan (capital gain) untuk membeli saham yang masih merugi.

Di tengah tanda tanya besar tentang kapan pandemi dan resesi akan berakhir, cobalah manfaatkan waktu untuk menata kembali portofolio investasi kamu. Berpikirlah jangka panjang karena investasi bukan sekadar untuk besok atau lusa. Kejatuhan harga produk pasar modal bahkan bisa menjadi kesempatan untuk average down atau menurunkan rata-rata harga pembelian sehingga peluang keuntungan bisa lebih tinggi dalam jangka panjang.

Nah, untuk menempuh langkah rebalancing portofolio, kamu bisa mengikuti panduan berikut ini:

1. Periksa semua tujuan keuangan

Lihat lagi daftar tujuan keuangan kamu. Mulai dari tujuan keuangan jangka pendek di bawah dua tahun, tujuan keuangan jangka menengah, yakni tiga tahun hingga lima tahun, dan tujuan keuangan jangka panjang, yaitu di atas lima tahun. Coba mengecek satu per satu performa instrumen investasi untuk setiap tujuan keuangan tersebut.

Misalnya, kamu saat ini tengah menjalankan empat tujuan keuangan, yaitu persiapan dana liburan pada tahun depan, persiapan dana uang muka pembelian rumah untuk tiga tahun lagi, persiapan dana menikah untuk empat tahun ke depan, dan persiapan dana pensiun untuk 30 tahun mendatang.

Nah, dari empat tujuan keuangan tersebut, cermati apakah kinerja instrumen investasi sudah sesuai asumsi hitungan awal. Ini perlu dilakukan khususnya untuk tujuan keuangan di atas tiga tahun yang memakai instrumen pasar modal. Bila pertumbuhan riil sudah meleset dari asumsi awal, cari tahu penyebab utama dan persiapkan solusinya supaya target pertumbuhan aset kembali sesuai dengan asumsi perhitungan awal tujuan keuangan.

2. Tentukan strategi paling tepat

portofolio investasi

Langkah berikutnya adalah menentukan strategi penyeimbangan portofolio yang paling tepat. Pada prinsipnya, kamu bisa menimbang tiga pilihan strategi portfolio rebalancing sebagai berikut:

Pertama, rebalancing dengan cara menjual instrumen dari kelompok aset yang sudah kelebihan bobot (overweighted), lalu memakai dana hasil penjualan tersebut untuk menambah aset dari kategori yang kekurangan bobot (underweighted).

Kedua, rebalancing dengan cara membeli instrumen baru dari kategori aset yang kekurangan bobot. Artinya, kamu menambah modal segar karena dana pembelian bukan berasal dari penjualan aset yang overweighted.

Ketiga, rebalancing dengan strategi dollar cost averaging atau melakukan cicilan investasi. Belanjakan modal untuk menambah aset investasi secara berkala dan bertahap, terutama untuk kategori aset yang masih kekurangan bobot agar alokasi aset bisa kembali seperti tujuan awal.

Gambaran lebih jelasnya kira-kira seperti ini. Misalnya, dari hasil telaah terhadap semua tujuan keuangan, terlihat ada ketidakseimbangan dari isi keranjang investasi di hampir semua tujuan keuangan. Sebagai contoh, untuk tujuan keuangan dana pensiun yang masih lama target pemakaian dananya, alokasi aset selama ini adalah 100% dalam instrumen berbasis saham, dan kamu membaginya lagi ke dalam bentuk saham (70%), reksa dana saham (20%) dan reksa dana campuran (10%). Penurunan nilai saham paling besar disusul reksa dana saham dan reksa dana campuran.

Supaya alokasi asetnya kembali seimbang, kamu bisa menambah pembelian saham-saham bernilai yang undervalued akibat tergerus sentimen pasar. Lakukan evaluasi atas saham-saham mana yang layak diborong dalam harga diskon. Dengan begitu, harga rata-rata pembelian bisa kamu turunkan lebih murah. Penurunan pasar seperti saat ini justru bisa dioptimalkan untuk memborong saham berharga yang undervalued di harga rendah.

Sebaliknya, apabila ada tujuan keuangan yang target pemakaian dananya sudah dekat, sementara, dana yang sudah terkumpul banyak tergerus kerugian, ada baiknya kamu mengambil strategi bertahan. Misalnya, untuk tujuan keuangan pembelian rumah dalam tiga tahun lagi. Cobalah memperbanyak alokasi dalam instrumen minim risiko seperti deposito, obligasi ritel, instrumen pasar uang, dan pendapatan tetap seperti reksa dana pendapatan tetap. Mengingat target pemakaian dana sudah tinggal hitungan beberapa tahun, akan lebih aman bila kamu memperbesar alokasi aset dalam instrumen risk free seperti deposito atau obligasi ritel.

Baca juga: Atur Ulang Investasi di Pasca-Pandemi: Pupuk Dana Darurat atau Curi Kesempatan Cuan?

3. Pertimbangkan langkah taktis

Selain langkah strategis di atas, dalam portfolio rebalancing, kamu juga menimbang langkah taktis melalui pemilihan sektor investasi yang lebih menjanjikan di tengah kondisi resesi seperti saat ini. Dalam konteks perkembangan bisnis, biasanya berlangsung empat fase yaitu ekspansi, puncak pertumbuhan, resesi dan akhirnya pemulihan (recovery). Secara historis, beberapa sektor memiliki kinerja yang lebih bagus ketimbang sektor lain dalam situasi tertentu.

Di tengah resesi, beberapa sektor industri seperti sektor healthcare (farmasi dan alat kesehatan) dan consumer staples (konsumsi kebutuhan pokok dan rumah tangga, perkebunan sawit, consumer goods, rokok) biasanya mencetak performa terbaik atau terkuat. Sekalipun tertekan, sektor-sektor ini cenderung defensif dan masih mencetak kinerja positif di tengah tekanan pasar.

Kelak, saat perekonomian berangsur pulih, sektor industri seperti real estate, sektor consumer discreationary seperti perhotelan, otomotif, onderdil, garmen, supermarket, media, lalu industrial sector seperti kontraktor, pelayaran, transportasi, distributor alat berat, secara historis akan melesat kinerjanya, bahkan berpotensi mengungguli sektor saham yang lain.

4. Perhatikan tambahan biaya bila ada

Melakukan portfolio rebalancing menuntut langkah konkret, baik menjual atau membeli saham, reksa dana ataupun menambah porsi dana dalam obligasi ritel. Dalam melakukan rebalancing, pastikan kamu juga menyadari biaya-biaya tambahan yang mungkin muncul dalam proses tersebut.

Misalnya, dalam transaksi jual-beli saham, setidaknya ada 4 jenis biaya yang perlu kamu pelajari, yaitu, fee broker atau sekuritas, biaya transaksi (levy), Pajak Pertambahan Nilai (PPn) dan Pajak Penghasilan (PPh). Sedangkan, untuk transaksi jual beli reksa dana, biasanya ada biaya pembelian (subscription fee), biaya pengalihan (switching fee) dan biaya penjualan (redemption fee).

5. Tetap perkuat dana darurat

Indonesia mencatat kontraksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2020 sebesar minus 3,49%. Ini menandai era resesi yang terjadi pertama kali sejak era krisis moneter tahun 1998 silam. Akan tetapi, Menteri Keuangan RI Sri Mulyani dalam pernyataan resmi berujar, perekonomian Indonesia sudah melalui fase terburuknya di tengah pandemi ini. “Posisi terburuk akibat Covid-19 sudah kita lewati. Upaya pemulihan akan terus diakselerasi sehingga akan terus didorong ke zona positif pada triwulan IV-2020 dan 2021,” kata Sri dalam jumpa pers secara virtual di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Meski demikian, karena kabar keberhasilan vaksin Covid-19 belum terang, otomatis belum ada kepastian kapan pandemi ini akan berakhir. Artinya, demi keamanan keuangan kamu di tengah badai resesi, pastikan kamu tetap melakukan penguatan dana darurat. Dalam kondisi normal, dana darurat sebesar enam kali nilai pengeluaran bulanan mungkin sudah memadai. Namun, di tengah kondisi seperti ini, ada baiknya kamu tingkatkan cadangan dana darurat hingga 12 kali nilai pengeluaran bulanan.

Dengan demikian, kondisi keuangan kamu bisa tetap stabil dan aman. Itulah panduan mudah melakukan rebalancing portolio di tengah kondisi resesi perekonomian. Tetap optimistis berinvestasi karena badai pasti berlalu!

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu