Pasar Saham 2021, Mending Tunggu January Effect atau Mulai Aja Dulu?

625
Pasar Saham

January Effect menjadi salah satu fenomena di pasar saham yang paling sering dibahas. Apalagi jelang akhir tahun begini, banyak yang bilang momen January Effect bisa memberikan keuntungan jangka pendek karena, pasar saham cenderung naik pada periode tersebut. Memangnya kenapa bisa diprediksi naik ya?

Dalam buku The Intelligent Investor karya Benjamin Graham menjelaskan soal fenomena January effect. Graham menjelaskan fenomena itu adalah momentum ketika investor membeli saham pada harga murah di Desember, maka dia berpotensi dapat keuntungan pada Januari karena efek kenaikan harga tersebut.

Investor bisa membeli saham dengan harga murah pada akhir tahun karena beberapa alasan seperti, untuk mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga tahunan yang dilakukan oleh manajer investasi hingga untuk mengelola biaya pajak.

Aksi jual di akhir tahun itu lantas memengaruhi pergerakan harga saham pada Desember. Setelah berganti tahun, para manajer investasi dan investor yang jual pada Desember, kembali berbondong-bondong melakukan aksi beli. Kondisi itulah yang membuat pasar saham cenderung naik pada Januari.

BACA JUGA: Bingung Pilih Saham untuk Investasi? Perhatikan Trik Ini

Namun, Graham bercerita tren January Effect memudar. Pasalnya, banyak investor yang membaca perilaku itu sehingga melakukan aksi beli di akhir tahun. Hasilnya, keuntungan pada Januari pun tidak sebesar seperti biasanya.

Sejarah January Effect

pasar saham

Awalnya, January Effect ini diteliti oleh Sidney B. Watchel, seorang investment banker. Waktu itu, Watchel melihat ada pola musiman kenaikan harga saham pada Januari.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Dari hasil penelitiannya itu, Watchel melihat kenaikan pasar saham pada Januari itu 5 kali lipat lebih besar dibandingkan dengan bulan lainnya, terutama untuk saham berkapitalisasi pasar kecil.

BACA JUGA: Pilih Investasi atau Trading Saham?

Dari hasil penelitian Watchel, kenaikan harga saham sepanjang Januari disebabkan banyak hal seperti, aksi jual untuk menghindari pajak pada Desember, serta aksi beli lewat uang bonus tunai pada akhir tahun.

Dalam penelitiannya itu, Watchel melihat kenaikan pasar saham di Januari itu terjadi hingga pekan kedua.

Pudarnya January Effect

Sementara itu, Gerardo Alfonso Perez dari universitas Cambridge membuat publikasi ilmiah dengan judul Does the January Effect Still Exist?

Untuk memperkuat hasil penelitiannya itu, Perez melakukan riset ke 106 indeks di 86 negara dunia. Hasilnya, Perez memang menemukan January Effect yang terjadi di pasar saham seluruh dunia tersebut.

BACA JUGA: Dampak Stocksplit dan Reverse Stock Split Bagi Investor Saham

Meskipun begitu, Perez menilai pengaruh January Effect mulai memudar secara global tidak seperti sebelumnya.

Bahkan, Perez juga menemukan hasil penelitiannya yang disebut Inverted January Effect. Istilah itu menjelaskan fenomena di Januari itu berubah dari berpotensi untung besar, menjadi paling rendah dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya.

Fakta January Effect di IHSG

pasar saham

Lalu, apakah January Effect juga terasa hingga ke pasar saham di Indonesia? jawabannya, mungkin saja iya.

Jika menghimpun data pergerakan IHSG pada periode 2015-2020, indeks saham Indonesia itu bergerak naik sepanjang periode 2015-2019 dengan rentang kenaikan dalam sebulan sebesar 0,47% sampai 4,57%. Hanya pada 2020, IHSG mencatatkan koreksi pada Januari sebesar 5,69%.

Jika dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya, pergerakan IHSG sepanjang Januari memang terlihat moncer, tetapi masih kalah dibandingkan dengan pergerakan pada Desember. Sepanjang periode 2015-2019, pergerakan IHSG pada Desember mencatatkan rekor tidak koreksi sama sekali dengan rentang kenaikan 2,27% sampai 6,77%.

Nah, jika pergerakan harga saham sejak Desember sampai Januari dikumulatifkan, pasar saham pada akhir dan awal tahun itu memang naik signifikan. Salah satu penyebab pada akhir tahun pasar saham bisa moncer karena aksi window dressing.

Jadi, window dressing adalah momen manajer investasi berupaya mempercantik kinerja. Misalnya, manajer investasi akan bongkar pasang saham yang berkinerja buruk dengan yang baik. Tujuannya, agar kinerja produk reksa dananya bisa memiliki kinerja yang lebih baik lagi.

Window dressing memang sering dikaitkan dengan akhir tahun, tetapi aksi itu juga dilakukan setiap pengumuman laporan keuangan kuartalan. Namun, dampak bersih-bersih di akhir tahun memang yang paling tampak di pasar saham Indonesia.

Nah, tren window dressing ini juga disebut-sebut jadi salah satu lahirnya january effect.

Tips Investasi Jelang January Effect

Sebenarnya, tidak ada yang memberikan saran agar mulai berinvestasi jelang January Effect. Karena saham bukan instrumen investasi dengan pendapatan tetap seperti obligasi atau deposito.

Pergerakan harga saham pun dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran. Jika jumlah permintaan tinggi, berarti harga saham berpotensi naik. Jika sebaliknya, yakni jumlah penawaran yang tinggi, maka harga saham berpotensi turun juga.

Untuk itu, tidak ada rumus pasti dalam berinvestasi saham, termasuk soal cara agar bisa mendapatkan keuntungan lewat momentum january effect.

Jika semua investor berbondong-bondong mulai investasi pada Januari karena informasi soal January Effect harga saham memang berpotensi naik, tetapi semuanya kembali lagi ke kinerja keuangan masing-masing emiten.

Kalau begitu, bagaimana cara bisa untung dalam investasi saham ya?

Cara Untung Dalam Investasi Saham

Jika seorang investor saham ingin mencatatkan keuntungan dari kenaikan harga saham, maka dia tidak perlu menunggu January Effect terlebih dulu.

Dalam bukunya, Graham membeberkan tiga faktor utama yang bisa memengaruhi harga saham.

Pertama, pertumbuhan kinerja keuangan perusahaan seperti laba bersih dan dividen. Kedua, pergerakan inflasi. Ketiga, spekulasi pasar.

Dengan melihat tiga faktor itu, Graham menjelaskan kalau keuntungan investasi di pasar saham itu tidak pasti. Untuk itu, para investor harus kritis, kalau ada harga saham yang terus naik, bukan berarti prospek ke depannya akan naik terus.

Jika jumlah permintaan beli tidak sebanyak penawaran jual, maka harga saham justru cenderung turun. Untuk itu, strategi mendapatkan keuntungan maksimal adalah investasi saham ketika pasar turun dan jual ketika  pasar sedang naik.

Namun, Graham mengakui cukup sulit untuk bisa sabar dengan kondisi pasar. Karena kebanyakan orang langsung panik dan menjual saham ketika turun dan cepat membeli ketika harganya naik. Graham berpesan agar investor cerdas menurunkan ekspektasi keuntungan besar dari investasi saham alias jangan berharap untung terlalu besar.

Jadi, kamu bakal mulai investasi saham tunggu January Effect atau mulai aja dulu dari sekarang nih?

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu