Optimalkan Pengelolaan Uang Pribadi Lewat Fintech, Pahami Jenis-jenisnya Di Sini

110
fintech

Keberadaan fintech bukan sekadar memindahkan layanan transaksi tradisional ke digital, tetapi juga memudahkan masyarakat dalam mengelola keuangan pribadinya. Untuk itu, masyarakat pun harus paham jenis-jenis fintech agar bisa mengoptimalkan layanannya untuk bantu kelola keuangan.

Kehadiran berbagai jenis fintech di Indonesia pun bisa membantu literasi dan inklusi keuangan masyarakat Indonesia. Apalagi, hasil survei literasi dan inklusi keuangan Indonesia pada 2019 yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatatkan kenaikan dibandingkan survei pada 2016.

Dari hasil survei itu, literasi keuangan tertinggi masyarakat ada di sektor bank sebesar 36,12%. Lalu, ada di sektor asuransi sebesar 19,4% dan sektor pegadaian 17,81%.

Di luar ketiga itu, ada sektor pembiayaan 15,17%, dana pensiun 14,13%, pasar modal 4,92%, dan lembaga keuangan mikro 0,85%.

BACA JUGA: Plus Minus Investasi di Fintech

Literasi keuangan adalah pengetahuan hingga keyakinan masyarakat untuk menggunakan layanan keuangan agar bisa lebih sejahtera. Dengan begitu, bisa dilihat literasi keuangan di sektor pasar modal masih sangat rendah sekali dibandingkan dengan bank, asuransi, dan pegadaian.

Adapun, masalah literasi ini ada hubungan eratnya dengan inklusi keuangan, yakni ketersediaan akses masyarakat untuk menjangkau layanan keuangan tersebut.

Dari segi inklusi keuangan, sektor bank tetap paling tinggi sebesar 73,88%. Kedua, sektor lembaga pembiayaan sebesar 12,38%. Ketiga, sektor asuransi 13,15%.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Sisanya, sektor pegadaian 12,38%, dana pensiun 6,18%, pasar modal 1,55%, dan lembaga keuangan mikro 0,72%.

Di sini, fintech punya peran besar untuk meningkatkan literasi dan inklusi tersebut. Dengan kemudahan jangkauan yang diberikan fintech, inklusi bisa naik selaras dengan literasinya juga. Agar masyarakat bisa memanfaatkan layanan fintech dengan optimal, berikut jenis-jenis fintech yang harus diketahui:

Fintech Sistem Pembayaran

fintech

Fintech sistem pembayaran punya peran mempermudah masyarakat dalam melakukan transaksi sehari-hari. Fintech jenis ini enggak cuma startup, beberapa lembaga keuangan seperti bank juga mengembangkan layanan digital untuk memudahkan nasabahnya bertransaksi.

Lalu, segmen fintech sistem pembayaran juga tidak cuma di segmen ritel alias masyarakat umum, tetapi juga business to business seperti, membantu proses transaksi lewat transfer virtual account maupun kartu kredit.

Untuk aktivitas produktif, fintech jenis ini sangat membantu bisnis dari level mikro sampai besar karena bisa meningkatkan omzet dengan kemudahan transaksi yang diberikan. Lalu, bagi pelaku bisnis, jenis fintech ini juga membantu efisiensi biaya operasional pengiriman uang ke kantor cabang bank, kini otomatis sudah tersedia ke dalam rekening.

BACA JUGA: Cermat Sebelum Ambil Pinjaman Pendidikan di Fintech

Adapun, untuk aktivitas konsumtif, layanan fintech ini memberikan efisiensi dalam proses pembayaran. Jadi, masyarakat bisa lebih hemat dalam mengelola uang kembalian yang seringkali tercecer tanpa sadar.

Fintech Investasi dan Manajemen Risiko

Setelah mengelola uang dengan baik lewat fintech sistem pembayaran, masyarakat juga harus memikirkan keuangan di masa depan dengan yang bisa dikelola dengan fintech investasi.

Fintech investasi memberikan kelebihan lewat robo advisor atau penasehat otomatis. Bentuknya berbeda-beda sesuai platform yang digunakan, ada yang berbentuk simulasi profil risiko dan investasi sampai kecerdasan buatan yang bisa diajak bicara layaknya manusia.

Selain itu, fintech investasi dan manajemen risiko ini pun juga memberikan edukasi keuangan lewat konten-konten di website atau aplikasinya. Soalnya, ketika bicara investasi, pasti ada risiko yang harus dipahami oleh masyarakat.

BACA JUGA: Hati-hati, Hindari Dimangsa Fintech Lending Bodong 

Dengan keberadaan fintech ini, harapannya literasi dan inklusi masyarakat tentang pasar modal juga bisa meningkat. Soalnya, banyak instrumen investasi yang tersedia di pasar modal dari reksa dana, obligasi, dan saham, tetapi penetrasi literasi dan inklusinya di Indonesia masih di bawah 10%.

Selain itu, fintech jenis ini juga beririsan dengan fintech peer to peer lending. Irisannya dalam bentuk layanan investasi di mana banyak fintech peer to peer lending yang juga memberikan layanan advisor keuangan agar masyarakat paham terkait risiko investasi di produknya tersebut.

Fintech Peer to Peer Lending

Mayoritas fintech pembiayaan memiliki misi untuk mempermudah bisnis usaha mikro dan kecil untuk mendapatkan pendanaan. Soalnya, bisnis mikro dan kecil kerap kesulitan mendapatkan pendanaan dari bank karena sistem yang ketat, terutama soal kewajiban agunan.

Namun, ada juga fintech pembiayaan yang memberikan layanan pinjaman konsumtif sampai pendidikan. Bahkan, fintech pembiayaan juga berkolaborasi dengan fintech sistem pembayaran untuk menciptakan fasilitas pay later yang disebut mendisrupsi kartu kredit. Apalagi, iming-iming pengajuan pay later lebih mudah ketimbang kartu kredit.

Keberadaan fintech jenis ini memang bakal membantu masyarakat dalam mendapatkan dana segar. Namun, masyarakat juga harus paham tingkat liabilitas atau utang yang dimiliki jangan sampai melebihi aset yang dimiliki.

Selain itu, khusus pay later, masyarakat juga harus paham fungsinya adalah untuk mempermudah pembayaran bukan sebagai fasilitas utang. Soalnya, skema pay later bisa dibilang mirip dengan kartu kredit, yakni jika membayar tepat waktu tidak akan dikenakan bunga atau sanksi.

Untuk itu, jenis fintech ini akan berguna sekali untuk membantu masyarakat mengembangkan bisnis maupun mempercepat transaksi agar bisa lebih produktif lagi.

Fintech Agregator

fintech

Fintech agregator memiliki peran yang sangat penting dalam mendongkrak literasi dan inklusi keuangan di Indonesia. Soalnya, fintech jenis ini memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk memilih produk keuangan yang sesuai kebutuhan.

Jadi, cara kerja fintech agregator adalah mengumpulkan data seluruh produk lembaga keuangan. Lalu, mereka akan membandingkan produk yang satu dengan lainnya sehingga masyarakat bisa memilih sesuai dengan kebutuhan.

Fintech jenis ini sangat membantu masyarakat untuk menentukan produk hingga cara mendapatkan akses dari lembaga keuangan tersebut. Jadi, fintech agregator ini sangat berperan dalam meningkatkan literasi dan inklusi keuangan di Indonesia.

Apalagi, fintech agregator akan menggunakan strategi edukasi dalam menawarkan perbandingan produk agar masyarakat yang belum paham juga bisa menentukan pilihan.

Tips Menentukan Fintech Legal dengan Ilegal

Di sisi lain, euforia keberadaan fintech untuk membantu literasi dan inklusi keuangan di Indonesia ternodai dengan banyaknya platform ilegal, terutama jenis fintech pinjaman online. Hal ini membuat masyarakat menjadi takut menggunakan kemudahan layanan fintech yang ada di Indonesia. Padahal, fungsi fintech adalah memudahkan masyarakat untuk akses layanan keuangan.

Untuk itu, masyarakat harus paham 4 jenis fintech itu membutuhkan izin regulator mana agar menjadi bisnis yang legal. Untuk di bidang keuangan, ada dua regulator yang mengeluarkan izin fintech, yakni Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

BI menjadi regulator di bidang moneter dan juga sistem pembayaran. Untuk itu, fintech sistem pembayaran harus mendapatkan izin dari BI agar bisnisnya legal.

Lalu, OJK adalah regulator di seluruh lembaga keuangan dari bank, pasar modal, asuransi, pembiayaan, dan pegadaian. Untuk itu, fintech peer to peer lending dan investasi membutuhkan izin dari OJK untuk bisa beroperasi secara legal.

Di luar kedua itu, ada fintech yang menyediakan jasa transaksi komoditas seperti, emas, forex, sampai mata uang kripto. Khusus fintech jenis ini, mereka membutuhkan izin dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) yang berada di bawah Kementerian Perdagangan.

Fintech yang tidak memiliki izin dari ketiga regulator itu sudah bisa dipastikan ilegal. Selain itu, masyarakat juga harus waspada dengan fintech yang menjanjikan keuntungan investasi sangat besar atau bunga pinjaman yang tinggi sekali. Soalnya, bisa saja itu adalah investasi bodong atau pinjaman online ilegal.

Dengan mengetahui semua ini, kamu siap untuk mengelola keuangan dengan manfaatkan layanan fintech di Indonesia?

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu