Apa Bedanya Asuransi Syariah dan Konvensional

59
asuransi syariah

Tak hanya perbankan dan investasi yang memiliki konsep syariah, asuransi syariah pun ada. Di Indonesia, asuransi syariah wajib mendapatkan izin usaha dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan pengawasan dari Dewan Pengawas Syariah (DPS).

Secara garis besar, cara kerja asuransi syariah juga tidak berbeda jauh dengan konvensional. Hanya saja, terdapat perbedaan filosofi antara asuransi syariah dan konvensional.

Baca juga: Peluang Bisnis Syariah Menjanjikan

Asuransi konvensional mengenal istilah risk transfer atau transfer risiko dari pemegang polis ke perusahaan asuransi. Sementara itu asuransi syariah lebih mengenal istilah risk sharing atau saling menanggung risiko.

Tugas perusahaan asuransi adalah sebagai wali yang mengumpulkan sekaligus mengelola dana yang dibayar para pemegang polis dalam bentuk premi, sekaligus membayar uang pertanggungan ke pihak yang berhak menerimanya.

Prinsip asuransi syariah adalah tolong menolong

Pada dasarnya, prinsip asuransi syariah adalah tolong menolong (Tabbaru). Perusahaan asuransi syariah juga akan memberikan proteksi akan jaminan biaya perawatan kesehatan, santunan meninggal dunia, dan ganti rugi selama masih dalam prinsip syariah.

Hukum asuransi syariah yang mengatur prinsip tersebut adalah Fatwa DSN MUI Nomor 21/DSN-MUI/X/2001 Tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah.

Adapun perbedaan besar antara asuransi syariah dan konvensional, selain dari filosofi yang disebutkan di atas adalah:

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Akad

syariah

Asuransi konvensional memiliki akad yang mirip dengan transaksi jual-beli. Sama-sama berharap bisa mengambil untung sebesar-besarnya dan rugi sekecilnya, namun syariah justru tidak mengharapkan hal itu.

Terdapat tiga akad yang ada dalam asuransi syariah. Akad atas dasar tolong menolong dan melindungi (Tabbaru), pengelolaan risiko (Wakalah bil Ujrah), dan bagi hasil investasi (Mudharabah). Akad juga tentunya tak diperkenankan mengandung gharar (ketidakpastian), maisir (perjudian), riba (bunga), serta hal-hal lainnya yang tidak sesuai dengan Syariat Islam.

Kepemilikan dana premi

Dalam asuransi syariah, perusahaan asuransi tidak memiliki hak untuk memiliki dana tersebut dan hanya menjadi pengelola. Dana tersebut akan diolah untuk kepentingan nasabah dan pengelolaannya pun harus transparan.

Namun dalam asuransi konvensional, dana premi akan menjadi milik perusahaan. Hal itu disebabkan karena konsep asuransi konvensional sama halnya dengan konsep jual-beli pada umumnya, perusahaan asuransi pun bebas menggunakan dana tersebut asal sesuai dengan ketentuan di perjanjian.

Baca juga: Cari Berkah Lewat Saham Syariah 

Dalam asuransi konvensional, potensi dana hangus bisa saja terjadi bila pemegang polis masih hidup saat masa pertanggungan usai. Namun tidak demikian dalam asuransi syariah.

Dana yang disetor dalam bentuk premi masih bisa diambil ketika pemegang polis tiba-tiba tidak lagi mampu membayar premi. Hanya akan ada potongan kecil dalam dana Tabbaru.

Adanya kewajiban membayar zakat

Dalam asuransi syariah, ada kewajiban pembayaran zakat yang jumlahnya ditentukan dari besarnya keuntungan yang didapat perusahaan. Patut diketahui pula bahwa ketentuan mengenai zakat tidak ada dalam asuransi konvensional.

Pemilihan investasi

sariah

Salah satu perbedaan yang cukup mencolok antara asuransi syariah dan konvensional adalah perbedaan instrumen investasinya, terutama jika seorang nasabah membeli produk unit link.

Dana unit link hanya boleh diinvestasikan ke sektor yang dinilai sesuai dengan syariat Islam. Beberapa sektor yang dimaksud adalah deposito bank, saham syariah, sukuk, surat berharga syariah negara, reksa dana syariah, efek beragun syariah, emas, dan efek-efek syariah lainnya.

Dalam asuransi syariah, investasi tak dapat dilakukan ke berbagai usaha yang kegiatannya dinilai memiliki unsur perjudian, penawaran/permintaan palsu, perdagangan yang tak disertai penyerahan barang atau jasa, jasa keuangan ribawi, atau jual-beli dengan unsur ketidakpastian.

Lain halnya dengan konvensional, asuransi konvensional dapat memiliki portofolio efek investasi di instrumen manapun. Hal itu disebabkan karena asuransi konvensional memang berupaya untuk mendatangkan keuntungan sebesar-besarnya, dan perusahaan memiliki kewenangan penuh atas dana yang mereka himpun dari pemegang polis.

Ada surplus operasional bersih

Dalam asuransi syariah, akan ada surplus operasional bersih yang hasilnya akan dibagikan ke pemegang polis sesuai dengan persentase nisbah antara perusahaan dan pemegang polis. Nilai surplus ini didapat dari selisih total dana kontribusi yang dibayarkan oleh nasabah ke dalam dana tabarru’ setelah dikurangi pembayaran klaim, kontribusi reasuransi, dan cadangan teknis.

Lain halnya dengan asuransi konvensional. Surplus di asuransi konvensional tentu akan menjadi hak perusahaan asuransi.

Itulah beberapa perbedaan yang harus Anda ketahui seputar asuransi konvensional dan syariah. Pada intinya, cara kerja asuransi syariah memang mirip saja dengan asuransi konvensional dalam membantu kita memitigasi risiko-risiko finansial.

Baca juga: Beda Perbankan Syariah dan Konvensional

Namun perbedaan yang mencolok terdapat dari akad, status kepemilikan dana yang dihimpun, investasi hingga perlakuan terhadap surplus operasionalnya.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu