Momentum Diskon dan Bunga Kredit Rendah, Saatnya Investasi Properti?

75
investasi properti

Investasi properti menjadi salah satu instrumen klasik yang masih populer hingga saat ini. Salah satu alasannya adalah kenaikan harga properti cenderung stabil dalam jangka panjang. Namun, bagaimana prospek investasi properti di tengah pandemi Covid-19?

Di tengah pandemi Covid-19, sektor properti menjadi salah satu yang terkena imbas. Pasalnya, masyarakat yang berencana anggarkan biaya untuk beli rumah atau apartemen baru mungkin akan mempertimbangkan ulang seiring dengan penurunan pendapatan akibat pandemi.

Meskipun begitu, pandemi Covid-19 enggak jadi halangan untuk kamu yang punya anggaran lebih untuk memiliki aset properti. Justru, saat ini menjadi momen yang tepat untuk mulai investasi dalam bentuk membeli properti. Ada dua alasan pandemi Covid-19 menjadi momen tepat untuk investasi properti.

BACA JUGA: Beli Rumah Saat Pandemi, Langkah Bijak atau Bodoh?

Pertama, kenaikan harga properti cenderung landai. Lalu, para pengembang properti juga menawarkan harga diskon untuk menjaga laju pertumbuhan penjualannya.

Dari Survei Harga Properti Bank Indonesia pada kuartal III/2020 menunjukkan perkiraan kenaikan harga properti pada kuartal IV/2020 cenderung melambat. Surabaya menjadi daerah yang mencatatkan perlambatan kenaikan harga properti paling tinggi dari 2,42 persen pada kuartal III/2020 menjadi 1,59 persen pada kuartal IV/2020.

Bahkan, harga properti di Balikpapan diprediksi turun 0,78% pada kuartal keempat nanti. Padahal, harga properti di sana sudah turun 0,78% pada kuartal ketiga.

Kedua, tingkat suku bunga kredit bank cenderung turun sepanjang pandemi Covid-19. Jika kamu membeli properti dengan kredit, saat ini bisa menjadi momen yang tepat. Soalnya, Bank Indonesia terus melonggarkan moneter dengan menurunkan tingkat suku bunga acuan.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Terakhir, Bank Indonesia putuskan turunkan suku bunga acuan 25 bps menjadi 3,75%. Dengan penurunan suku bunga acuan bank sentral itu, bunga kredit bank seperti kredit pemilikan rumah (KPR) juga bisa turun.

BACA JUGA: 7 Pendongkrak Harga Properti yang Kamu Harus Tau

Dari data suku bunga dasar kredit (SBDK) OJK sampai Oktober 2020, SBDK untuk KPR sepanjang 10 bulan 2020 sudah turun sekitar 2% sampai 4%. Dengan suku bunga yang lebih murah, berarti biaya investasi properti dengan kredit juga lebih kecil dibandingkan dengan periode normal.

Memilih Jenis Properti untuk Investasi

Setelah kamu memiliki niat untuk investasi properti, setelah itu mungkin kamu bingung enaknya investasi ke properti jenis apa ya.

Kita bisa rangkum ada empat jenis properti yang bisa kamu jadikan sebagai investasi. Keempat jenis properti itu antara lain, tanah, rumah tapak, apartemen, dan ruko atau rukan.

Setiap jenis properti memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing yang bisa disesuaikan dengan karaktermu.

1.Investasi Tanah

Investasi tanah di sini berarti kamu hanya membeli sebidang tanah yang belum di bangun. Investasi jenis ini bisa dibilang memiliki biaya operasional yang sedikit. Soalnya, tidak perlu ada biaya renovasi sampai pembangunan gedung. Keuntungan investasi tanah adalah pendapatan pasif dari hasil sewa serta kenaikan harga jual tanah di masa depan.

Biasanya, kamu bisa menyewakan tanah kepada pihak-pihak yang ingin berbisnis seperti, perhotelan, restoran, dan pedagang. Jadi, kamu hanya menyewakan tanah dan si penyewa bebas membangun apapun di atas tanahmu.

BACA JUGA: Tertarik Investasi Properti, Simak Tips Ini

Risikonya adalah ketika waktu sewa sudah berakhir, kamu harus mengeluarkan biaya untuk menghancurkan bangunan jika ingin mengubah bentuknya.

Namun, tidak semua tanah bisa mendapatkan keuntungan pendapatan pasif. Semua itu akan tergantung seberapa strategis lokasi tanah yang kamu miliki.

2. Investasi Rumah Tapak

investasi properti

Investasi rumah tapak menjadi pilihan yang populer karena bisa memiliki aset sambil menempati rumahnya. Jika sudah memiliki rumah dari satu, rumah yang kedua bisa dikontrakan sehingga bisa mendapatkan pendapatan pasif.

Kelebihan memiliki rumah tapak adalah kamu bisa bebas berkreasi atas desain rumahmu sendiri. Dengan begitu, kamu bisa saja menambah nilai tambah harga sewa dengan desain yang istimewa.

Lalu, rumah tapak juga memiliki halaman yang bisa dijadikan kamu refreshing untuk menanam tanaman atau melakukan hal lainnya di sana.

Selain itu, harga rumah tapak juga cenderung naik lebih tinggi secara jangka panjang. Soalnya, kamu membeli rumah sekaligus dengan hak kepemilikan tanahnya.

3. Investasi Apartemen

Berbeda dengan investasi rumah tapak, investasi apartemen memang memiliki kelemahan seperti, kamu tidak memiliki hak milik atas tanahnya. Jadi, kamu hanya punya hak guna bangunan. Namun, itu bukan berarti investasi apartemen tidak menggiurkan.

Investasi apartemen tetap menarik untuk mendapatkan pendapatan pasif dengan skema sewa unit. Apalagi, harga sewa unit apartemen bisa dibilang cukup tinggi. Belum lagi, kini apartemen mulai mendisrupsi pasar indekos tradisional untuk di daerah-daerah dekat kampus.

Apalagi, biasanya apartemen juga berada di lokasi yang strategis sehingga lebih mudah mencari penyewanya. Kini, banyak juga apartemen yang bisa disewa harian. Jadi, kalau belum ada yang menyewa jangka panjang, kamu bisa mulai untuk sewa harian terlebih dulu.

4. Investasi Ruko atau Rukan

Investasi ruko disebut memiliki imbal hasil yang lebih tinggi ketimbang rumah tapak. Namun, investasi ruko ini sangat rentan risiko gejolak ekonomi seperti pandemi saat ini. Soalnya, pihak penyewa atau pembeli ruko memiliki tujuan untuk berbisnis. Jika, kondisi ekonomi lagi kurang bagus, mungkin geliat ekspansi bisnis seperti tambah gerai atau buka kantor di ruko menjadi lebih terbatas.

Namun, investasi ruko memiliki banyak peluang yang lebih beragam ketimbang rumah dan apartemen. Dari investasi ruko, kamu bisa mendapatkan pendapatan pasif yang berasal dari sewa bangunan per lantai, buka bisnis, sampai buka franchise minimarket.

Risiko Investasi Properti

investasi properti

Setiap instrumen investasi pasti ada risikonya, termasuk investasi properti. Risiko utama dari investasi properti adalah tingkat likuidnya yang sangat rendah. Maksudnya, ketika pemilik properti ingin menjual akan membutuhkan waktu cukup lama untuk membelinya.

Untuk itu, karakter instrumen investasi properti ini sangat tidak cocok untuk jadi dana darurat. Kamu harus benar-benar menempatkan dana menganggur untuk investasi ini sehingga arus kas dan kebutuhan dana daruratmu tidak terganggu.

Selain itu, hal yang harus diperhatikan dalam investasi properti adalah mencermati surat-surat seperti sertifikat hak milik dan guna bangunan. Lalu, lokasi juga menentukan seberapa bagus kualitas investasi properti, jika lokasinya tidak strategis bakal susah menjual dan harga jualnya juga belum tentu naik.

Lalu, investasi properti memang lebih cocok untuk jangka panjang ketimbang jangka pendek. Untuk itu, opsi pemanfaatan properti yang dimiliki untuk disewakan agar mendapatkan pendapatan pasif yang berkelanjutan lebih baik ketimbang menjadi trader properti yang hanya melakukan jual-beli.

Setelah melihat itu semua, kamu siap untuk mencuri kesempatan investasi di properti saat pandemi?

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu