Maria Regina Anggit, Digitalisasi Industri Indekos

546
mamikos
CEO Mamikos Maria Regina Anggit Tut Pinilih. Investor Daily / Emral Firdiansyah

Mencari indekos bisa dibilang susah-susah gampang. Bukan perkara ruangan yang enak saja, tetapi juga meliputi fasilitas hingga posisi yang strategis dengan aktivitas harian. Untuk itu, Maria Regina Anggit Tut Pinilih bersama beberapa rekannya mendirikan aplikasi Mamikos.

Awal Anggit memutuskan dirikan Mamikos adalah ketika dirinya bekerja di sebuah perusahaan perangkat lunak outsourcing. Dari situ, Anggit yang merupakan lulusan S1 Hubungan Internasional dan S2 Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM) mulai terbuka wawasannya terkait industri teknologi informasi (TI) yang sudah berkembang begitu cepat.

Sementara itu, Anggit menceritakan dirinya bersama beberapa temannya mengalami kesulitan dalam mencari indekos. Ada beberapa penyebabnya, dari enggak ada tanda plang kalau itu adalah sebuah indekos sampai tidak adanya data di internet terkait informasi indekos.

“Akhirnya, kalau mau dapat tempat indekos memang harus cari secara offline dengan menyusuri kampung perkumpulan indekos,” ujarnya.

Setelah itulah, Anggit mengaku punya ide untuk mempermudah masyarakat mencari data-data tentang indekos.

BACA JUGA: David Christian Mimpi Kurangi Sampah Plastik Sambil Bahagiakan Petani Rumput Laut

“Kami melakukan riset selama beberapa tahun sampai akhirnya pada 2015 meluncurkan Mamikos,” ceritanya.

Mamikos mengawali jejaknya dengan mengumpulkan 50 kos di Yogyakarta pada 2015 yang dilakukan oleh tim riset perusahaan rintisan tersebut. Setahun kemudian, Mamikos mengembangkan jumlah kosan terdaftar menjadi 1.000 dengan cakupan wilayah di Yogyakarta, Jabodetabek, Bandung, Surabaya, dan Malang.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Perusahaan yang dirintis Anggit dkk itu kian ekspansif pada 2017 dengan mengembangkan jaringan mitra indekosnya menjadi 20.000. Bahkan, per 2019 Mamikos disebut mencatat ada 120.000 Indekos yang bergabung, sedangkan sampai pertengahan 2020 sudah bertambah menjadi 140.000 indekos.

Anggit menceritakan kalau dulu tim Mamikos benar-benar terjun langsung ke lapangan untuk melakukan riset. Kini, para pemilik Indekos sudah bisa melakukan submit sendiri untuk bergabung dengan Mamikos.

“Sekarang, sekitar 50% dari total indekos yang gabung sudah melalui aplikasi online dan tinggal submit sendiri aja,” ujarnya.

Pengembangan Model Bisnis

Awalnya, Mamikos memang menjadi platform untuk mempermudah masyarakat mencari indekos. Layanan yang ditawarkan kepada penggunanya adalah data yang valid dan rinci sehingga pengguna bisa menentukan mau ngekos di mana lebih mudah dibandingkan dengan cara tradisional.

Namun, Anggit tidak hanya puas menjadikan Mamikos sebagai platform pencarian indekos. Sejak 2019, Mamikos juga mengembangkan Mamirooms.

BACA JUGA: Yoshua Tanu, Bisnis Kopi Keliling Demi Edukasi dan Lebih Dekat ke Konsumen

Jadi, Mamirooms adalah fitur yang bisa dimanfaatkan oleh para pemilik indekos dalam pengelolaan propertinya. Para pemilik indekos yang tergabung dalam Mamirooms akan mendapatkan bantuan insentif berupa kegiatan pemasaran, pengelolaan kamar, sistem pembayaran sampai standarisasi properti demi meningkatkan nilai jual.

Sampai akhir 2019, Mamirooms sudah memperluas layanannya ke Jabodetabek, Yogyakarta, Solo, Semarang, Surabaya, dan Malang.  Lalu, situs resmi Mamikos mengklaim jumlah mitra yang bergabung ke Mamirooms sudah sebanyak 2.000 kamar di kota besar seluruh Indonesia.

Prospek Bisnis Indekos

mamikos

Anggit menilai prospek bisnis indekos sangat potensial, secara spesial dia pun menunjuk wilayah Jabodetabek yang terbesar.

“Saat ini, ada sekitar 20 juta orang yang tinggal di indekos. Rata-rata harga indekosnya sekitar Rp1 juta per bulan. Jika ingin tahu nilai pasarnya tinggal dikalikan saja,” ujarnya.

Namun, Anggit menekankan nilai pasarnya bisa makin besar mengingat harga indekos di Jabodetabek punya rentang harga cukup tinggi dari Rp800.000 sampai Rp8 juta per bulan.

Sejauh ini, Mamikos mengklaim baru menggarap 15 persen dari total keseluruhan pasar Indekos di Indonesia.

BACA JUGA: Memetik Peluang di Masa Pandemi, Agus Kholik Raup Cuan dari Aglaonema

Anggit menceritakan angka 15 persen itu berasal dari jumlah mitra sekitar 120.000 indekos pada akhir 2019. Lalu, rata-rata jumlah pengguna yang mencari kosan sekitar 6 juta sampai 8 juta.

Meskipun begitu, bisnis indekos menjadi salah satu yang terdampak pandemi Covid-19. Mamikos sendiri mengakui adanya penurunan  okupansi indekos selama pandemi, terutama pada periode awal, yakni Maret-Mei 2020. Penyebabnya adalah aktivitas kerja dan sekolah yang mulai dilakukan di rumah.

Untungnya, setelah pembatasan sosial berskala besar (PSBB) mulai dilonggarkan pada Juni 2020, permintaan indekos disebut mulai menanjak lagi.

Sampai 2020, Mamikos kian memperlebar layanannya dengan memiliki 140.000 mitra indekos di beberapa kota seperti Jabodetabek, Yogyakarta, Bandung, Medan, Palembang, Solo, Semarang, Surabaya. Denpasar, dan Semarang.

Pantang Puas Diri

Pertumbuhan bisnis Mamikos yang eksponensial tidak langsung membuat Anggit dan kawan-kawannya merasa puas.

Anggit mengungkapkan dirinya memiliki prinsip kalau setiap hari adalah nol. Prinsip itu membuatnya untuk terus berinovasi dan improvisasi kehidupannya.

“Dengan begitu, saya bisa menemukan banyak hal yang masih bisa untuk dimaksimalkan,” ungkapnya.

Dengan menganggap setiap hari adalah nol, Anggit mengaku terus mengasah dirinya agar bisa terus kompetitif di tengah perkembangan zaman yang begitu cepat. Semua itu pun dilakukan bukan hanya untuk pekerjaan, tetapi juga kepribadiannya.

Lalu, dia memiliki anggapan soal definisi kesuksesan. Menurutnya, kesuksesan itu tidak harus hanya untuk kepentingan diri sendiri saja.

“Setiap manusia terlahir untuk memberikan manfaat dan kebaikan bagi banyak orang. Jadi, suskes itu juga bisa berarti memaksimalkan potensi dan bisa membantu orang banyak,” ujarnya.

Anggit pun merujuk ke Mamikos, bisnis yang dirintisnya. Dengan Mamikos, dia tidak hanya ingin membantu para pencari indekos saja, tetapi juga pemiliknya. Dengan kemudahan informasi yang didapatkan penggunanya, pemilik indekos bisa mendapatkan keuntungan dari okupansi kamar yang terpenuhi.

Untuk mendorong kinerja Mamikos, Anggit yang juga selaku CEO Mamikos, menerapkan gaya kepemimpinan dan budaya kerja terbuka dalam hal inovasi, memberikan ide, dan berdiskusi.

“Dengan budaya terbuka, masalah-masalah perusahaan bisa diatasi. Lalu, cara kami membuat budaya kerja terbuka, yakni mengukur semua aktivitas berdasarkan data,” ceritanya.

Peran Mamikos Digitalisasi Industri Indekos

mamikos

Seperti masalah Anggit dan kawan-kawan sampai akhirnya mendirikan Mamikos, persoalan industri indekos adalah pelaku pasarnya yang terlalu tradisional. Soalnya, para pemilik kosan biasanya berasal dari kelompok pensiunan sehingga penetrasi informasi ke dunia digital kurang agresif.

Namun, lima tahun sejak Mamikos didirikan, platform besutan Anggit dan kawan-kawan itu sudah mulai mengubah lanskap bisnis indekos dari tradisional menjadi lebih terbuka untuk go digital.

Apalagi, Mamikos juga menawarkan beragam fitur yang bisa dimanfaatkan oleh para pemilik indekos untuk promosi.

Anggit menceritakan selama lima tahun terakhir, pihaknya sudah mengembangkan beragam fitur mulai filter fasilitas kos, booking langsung, Mami-Chechker, Foto 360 derajat, dan beragam sistem pembayaran.

Bahkan, Mamikos juga membantu para pemilik indekos dalam mengelola keuangan bisnisnya secara profesional melalui fitur Manajemen Kos.

“Kami mengembangkan Mamikos tidak hanya untuk sekadar memberikan informasi kepada pengguna yang cari indekos, tetapi juga membantu bisnis para pemilik indekos agar lebih lancar,” pungkasnya.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu