Merintis Usaha di Tahun Baru, Begini Persiapan Finansialnya

44
merintis usaha

Tahun baru 2021 sudah tinggal hitungan pekan. Tahun 2020 yang kelam oleh pandemi Covid-19 segera akan berganti. Walau mungkin tahun baru kelak masih akan digelayuti oleh suramnya perekonomian yang terhempas resesi karena pandemi, harapan baik harus tetap dinyalakan. Bila salah satu resolusi tahun baru kamu nanti adalah merintis bisnis baru, tentu ada banyak persiapan yang perlu kamu lakukan mulai sekarang.

Salah satu persiapan penting yang wajib kamu lakukan ketika hendak merintis bisnis adalah persiapan finansial. Merintis bisnis baru bukan hanya membutuhkan tekad besar, namun juga perlu strategi produk ataupun sasaran pasar yang sudah jelas.

Tanpa persiapan finansial, akan sulit bagi kamu membangun bisnis dengan baik. Terlebih bisnis kamu ini dirintis di tengah kondisi pandemi yang telah membuat perekonomian jatuh dalam resesi. Perlu kecermatan lebih tinggi supaya peluang keberhasilannya semakin besar. Berikut ini beberapa persiapan finansial yang perlu kamu lakukan ketika merintis bisnis baru:

1. Persiapan modal bisnis

Merintis usaha perlu modal yang memadai. Apakah kamu sudah memastikan dari mana sumber permodalan untuk bisnis kamu nanti? Di tengah kondisi perekonomian yang resesi, tidak mudah mendapatkan suntikan modal dari kreditur seperti perbankan atau kreditur lain. Pasalnya, kebanyakan kreditur saat ini memilih untuk memperketat penyaluran kredit atau pembiayaan usaha seiring risiko bisnis yang meningkat karena pandemi Covid-19.

Apabila kamu memilih modal berupa pinjaman, pastikan kamu sudah memperhitungkan efeknya bagi keuangan pribadi. Memiliki pinjaman usaha berarti kamu sudah siap membayar cicilan utang secara rutin. Bisnis yang sifatnya masih rintisan dengan nilai penjualan belum pasti, kamu harus siap untuk membayar cicilan kendati pemasukan belum sesuai harapan. Jangan sampai pilihan kamu memakai modal pinjaman untuk bisnis malah membawa bencana finansial yang fatal bagi keuangan pribadi.

Nah, sebaliknya bila kamu menyiapkan modal bisnis dari sumber dana pribadi, pastikan juga hitungannya sudah matang. Perlu diingat, memulai bisnis di tengah kondisi perekonomian seperti saat ini tidak harus langsung memakan modal besar. Sesuaikan kebutuhan permodalan bisnis tersebut dengan kondisi finansial pribadi saat ini. Pilih langkah aman saja yaitu memulai bisnis secara perlahan dengan modal seefisien mungkin. Kelak permodalan bisa kamu kembangkan seiring kemajuan bisnis.

Baca juga: Tips Berbisnis dalam Tekanan Covid-19

Ada beberapa hal penting yang perlu kamu perhatikan bila memakai sumber dana pribadi sebagai modal bisnis. Pertama, bila memakai tabungan, usahakan tidak mengganggu tujuan keuangan jangka pendek seperti uang pangkal sekolah anak tahun depan, atau dana persiapan pernikahan setahun lagi. Kedua, pastikan pemakaian dana tabungan untuk modal bisnis juga tidak mempengaruhi nilai saldo dana darurat pribadi. Pertahankan nominal dana darurat di angka minimal sebesar enam kali nilai pengeluaran rutin bulanan.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

2. Pengelolaan keuangan bisnis

merintis usaha

Merintis bisnis tentu diiringi harapan agar bisnis tersebut terus berkembang menguntungkan dari waktu ke waktu. Untuk mewujudkannya, dibutuhkan kerja keras dan strategi yang tepat. Termasuk perihal pengelolaan keuangan usaha. Banyak kasus dimana sebuah usaha rintisan kehabisan permodalan di tengah jalan padahal kinerja penjualannya bagus. Ternyata, penyebabnya, banyak yang tergoda memakai keuntungan bisnis mereka untuk pengeluaran pribadi yang sifatnya konsumtif alih-alih diputar kembali sebagai modal ekspansi.

Hal itu terjadi sering karena si pemilik usaha tidak memisahkan secara tegas mana keuangan bisnis dan keuangan pribadinya. Akibatnya, ia kesulitan memantau perkembangan dan ukuran bisnisnya sendiri. Supaya itu tidak terjadi pada bisnis kamu, sebaiknya sejak awal biasakan untuk memisahkan keuangan bisnis dengan keuangan pribadi.

Pemisahan keuangan itu selain membantu kamu mendongkrak profesionalitas usaha, juga akan memudahkan kamu dalam memantau perkembangan bisnis. Dengan begitu, ke depan kamu akan lebih mudah memutuskan strategi terbaik untuk mengembangkan bisnis hingga optimal. Di saat yang sama, pemisahan keuangan tersebut juga dapat membantu kamu menjaga keuangan pribadi supaya tidak ikut terseret ketika terjadi permasalahan keuangan bisnis.

3. Ekspansi sesuai perkembangan bisnis

Situasi perekonomian saat ini tengah berada dalam kondisi yang tidak normal. Resesi membuat tingkat penjualan di hampir semua sektor industri menurun. Memang ada beberapa jenis sektor industri yang masih bertahan bahkan kinerjanya cemerlang di tengah kondisi seperti saat ini. Seperti sektor healthcare, kebutuhan makanan pokok atau bahkan bisnis home dress yang melambung seiring work from home berjalan. Namun, selain sektor-sektor tersebut, kebanyakan kinerja industri tengah terpukul pandemi.

Dengan asumsi efek pandemi terhadap perekonomian masih akan terasa hingga setahun ke depan, akan lebih bijak bila kamu memilih strategi konservatif dalam menjalankan bisnis. Banyak kejadian di mana para pemula dalam bisnis tergesa ingin membesarkan usaha hingga langsung jor-joran mengeluarkan modal besar untuk ekspansi. Di tengah kondisi perekonomian yang normal, langkah itu mungkin tidak terlalu berisiko. Tapi, di tengah resesi, hal itu lebih baik dihindari karena risiko bisnis saat ini berlipat-lipat tingginya. Pilih strategi yang efisien dan matang hingga tak perlu tergesa berekspansi.

Baca juga: Yoshua Tanu: Bisnis Kopi Keliling untuk Mengedukasi dan Mendekatkan Konsumen

Strategi konservatif dengan cara menerapkan efisiensi bisnis, pemakaian modal dengan biaya seminimal mungkin, lebih tepat dijalankan untuk meraup penjualan sesuai target. Yang terpenting bisnis bergulir stabil. Kelak ketika pandemi berakhir dan perekonomian kembali bangkit, kamu bisa lebih agresif dalam berekspansi sesuai perkembangan bisnis yang sudah berjalan.

4. Disiplin kelola keuangan sesuai strategi

Sebelum memutuskan memulai bisnis, kamu tentu telah menyiapkan strategi pengembangannya seperti apa. Mulai dari hal sederhana seperti menyiapkan alokasi anggaran untuk modal, investasi, hingga biaya-biaya tetap seperti dana sewa tempat usaha, biaya karyawan, belanja barang modal, dan sebagainya. Kamu juga tentu telah memiliki target penjualan jangka pendek, menengah dan panjang. Target margin keuntungan juga sudah ditentukan supaya bisa sesuai hitungan awal.

Dengan memiliki strategi yang jelas serta mendetil, selanjutnya adalah komitmen berdisiplin mengelola keuangan usaha. Mulai dari disiplin mengalokasikan pendapatan usaha ke pos-pos yang sudah ditentukan, hingga disiplin memanfaatkan keuntungan usaha untuk perputaran bisnis sehingga capaian target margin bisa meningkat.

5. Siapkan exit strategy yang jelas

Menjalankan bisnis tidaklah mudah. Di balik cerita kesuksesan seseorang membangun usaha, ada kerja keras yang luar biasa dan pengorbanan besar yang mungkin tidak terekspos. Ketika memutuskan terjun menjadi pebisnis, kamu tentu sudah siap dengan segala konsekuensi tersebut. Selain siap dengan kerja keras dan pengorbanan, kamu juga perlu memiliki bekal exit strategy yang jelas. Exit strategy merupakan rencana kontingensi yang harus dimiliki setiap investor, pedagang, pemilik bisnis, pemodal ventura, untuk melikuidasi posisi dalam aset keuangan atau membuang aset bisnis berwujud, setelah kriteria tertentu sudah terpenuhi.

Misalnya, kamu adalah pemilik bisnis usaha kopi kekinian. Dalam hitungan simulasi usaha di awal, bisnis kamu baru bisa mencapai titik break even point (BEP) dalam 12 bulan. Tentu perkiraan tersebut didasarkan pada asumsi-asumsi tertentu, misalnya, angka penjualan harus sekian rupiah setiap bulan, biaya modal diasumsikan tidak ada kenaikan, dan lain sebagainya.

Nah, exit strategy perlu kamu siapkan dengan beberapa asumsi juga. Misalnya, ketika dalam 8 bulan berturut-turut target penjualan tidak bisa terpenuhi, atau ketika keuangan usaha justru defisit selama beberapa periode, maka kamu sudah menyiapkan langkah apa yang perlu dilakukan kala hal itu terjadi. Dengan demikian, berbagai bentuk risiko dalam bisnis sudah kamu perhitungkan secara logis dan matang.

Baca juga: Bingung Pilih Bisnis Waralaba? Perhatikan 7 Hal Esensial Ini

Memulai bisnis di tengah kondisi perekonomian yang tengah sulit seperti sekarang bukan hal mudah. Namun, dengan persiapan yang memadai dan visi yang kuat, kamu bisa memperbesar peluang keberhasilan membangun usaha. Semangat, ya!

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu