Mencari Prospek Cuan Lebih di Saham Second Liner

1176
Saham

Banyak investor pemula yang bingung harus pilih koleksi saham apa. Biasanya, mereka akan disajikan pilih blue chip atau saham lapis pertama. Padahal, saham bagus itu tidak melulu harus blue chip, tetapi bisa juga memburu cuan dari saham second liner.

Dalam dunia pasar modal, ada tiga lapis jenis saham yang dikelompokkan berdasarkan kapitalisasi pasar. Blue chip atau lapis pertama adalah saham yang memiliki kapitalisasi pasar lebih dari Rp10 triliun. Lalu, second liner atau lapis kedua memiliki kapitalisasi pasar Rp500 miliar sampai Rp10 triliun. Kemudian, third liner atau lapis ketiga memiliki kapitalisasi pasar di bawah Rp500 miliar.

Baca juga: Pandemi Masih Berlanjut, Tepatkah Berinvestasi Sekarang? 

Nah, banyak yang bilang saham second liner bisa bergerak lebih liar atau memberikan keuntungan lebih besar ketimbang saham blue chip. Salah satu penyebabnya, harga saham blue chip sudah terlalu mahal sehingga sedikit investor ritel yang bisa rajin transaksi di sana.

Pelajaran dari Lo Kheng Hong

Saham

Salah satu koleksi saham Lo Kheng Hong (LKH) adalah PT Petrosea Tbk. atau PTRO. LKH memiliki alasan kuat mengapa dirinya harus membeli saham PTRO.

Semua itu bermula ketika LKH membeli saham PT United Tractors Tbk. (UNTR) di harga Rp250 per saham pada 1998. Kondisi krisis moneter telah menekan harga anak usaha Grup Astra tersebut.

LKH memutuskan jual saham UNTR yang sudah berada sekitar Rp15.000 per saham pada 2004. Bisa dibilang, LKH meraup cuan hingga 60 kali lipat.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Nah, setelah LKH menjual UNTR, harga saham anak Grup Astra itu terus melejit. Berpikir harga UNTR sudah terlalu mahal, LKH mencari saham perusahaan yang memiliki bisnis serupa.

Sekitar 6 tahun memegang saham UNTR, Lo Kheng Hong melihat pendapatan terbesar sahamnya itu berasal dari kontrak tambang batu bara. Di sini, LKH mencari lagi saham yang bergerak di bidang jasa kontraktor pertambangan batu bara lainnya, tetapi dengan harga yang lebih murah ketimbang UNTR.

Setelah mencari, LKH menemukan satu saham yang mirip UNTR dan harganya masih murah, yakni PTRO.

LKH mengakui PTRO belum mampu memberikan keuntungan sebesar yang dicapainya saat mengoleksi UNTR. Meskipun begitu, LKH tetap mensyukuri telah memiliki PTRO karena memberikan dividen sekitar Rp16 miliar setiap tahunnya.

Sampai saat ini, LKH masih memiliki 15,01 persen atau setara 151,42 juta lembar saham PTRO.

Dari kisah LKH itu, kita bisa belajar kalau saham yang dikoleksi tidak harus blue chip. Namun, paling penting, kamu tahu model bisnis dan mengapa kamu harus mengoleksi saham tersebut. Jadi, entah itu saham second liner maupun third liner, kalau punya potensi besar di masa depan dan kamu paham dari mana mereka mendulang untung, mengapa tidak dikoleksi?

Tujuan Membeli Saham Second Liner

Banyak yang mengatakan investor yang masuk ke saham blue chip mayoritas institusi yang memiliki dana investasi besar. Lalu, investor ritel cenderung masuk ke lapis kedua maupun ketiga.

Memang, saham lapis kedua bisa memberikan potensi keuntungan dari capital gain yang lebih cepat dan besar dibandingkan dengan saham lapis pertama. Namun, keuntungan itu juga harus dibayar dengan potensi risikonya. Secara jangka pendek, saham lapis kedua akan bergerak sangat fluktuatif.

BACA JUGA: Pasar Saham 2021, Mending Tunggu January Effect Apa Mulai Dulu?

Untuk itu, kamu harus benar-benar mengetahui model bisnis, kinerja historis, dan alasan kenapa kamu membeli saham tersebut.

Lalu, kamu juga harus memiliki tujuan mengoleksi saham second liner. Ada dua tujuan mengoleksi saham second liner, diversifikasi portofolio trading agar bisa memberikan keuntungan lebih tinggi dan mengoleksi saham potensial jangka panjang.

Untuk tujuan jangka panjang, kamu diibaratkan membeli perusahaan kecil menengah yang bisa menjadi perusahaan besar di kemudian hari. Untuk itu, saat memiliki tujuan ini, kamu harus benar-benar memahami fundamental keuangan agar tidak memilih saham yang salah.

Tips Memilih Saham Second Liner 

Ada dua tips utama dalam memilih saham second liner, yakni masuk di saat yang pas dan pastikan fundamental keuangannya bagus. Soalnya, saham second liner bisa dibilang memiliki kapitalisasi pasar menengah kecil sehingga risiko fluktuasi harga sangat besar.

1.Masuk Pada Waktu yang Tepat

Harga saham second liner tidak selalu murah, beberapa saham kapitalisasi kecil menengah justru memiliki harga yang tinggi. Bahkan, tidak jarang price to earning ratio (PER) juga hingga ratusan kali. Namun, lonjakan harga itu tidak selaras dengan kenaikan skala bisnis perusahaan.

Untuk itu, kamu harus pastikan masuk ke saham second liner yang masih murah. Kalau masuk saat valuasi saham sudah terlalu mahal, artinya potensi kenaikan harga yang diharapkan tidak akan terlalu agresif malah sangat berisiko turun kembali ke harga sesuai dengan kondisi fundamentalnya.

BACA JUGA: Jurus Menjaring Cuan Saham

Di sini, biasanya banyak yang fear of missing out (FOMO) ketika ada saham second liner yang lagi up trend lalu ikut masuk tanpa paham model bisnis dan kinerja keuangannya.

Dua indikator utama untuk bisa melihat valuasi harga saham, yakni price to earning ratio (PER) dan price to book value (PBV).

PER adalah rasio yang membandingkan harga saham dengan pencapaian laba bersih perusahaan, sedangkan PBV adalah rasio yang membandingkan harga saham dengan nilai buku perusahaan sesuai dengan jumlah ekuitas dan saham yang beredar.

Semakin kecil nilai PER dan PBV, berarti saham itu semakin murah. Namun, bukan berarti saham dengan PER dan PBV kecil itu adalah saham yang pasti bagus. Kamu harus cek juga fundamentalnya.

2. Perhatikan Fundamental Keuangan

Saham

Fundamental keuangan menjadi salah satu yang penting dipahami sebelum memilih investasi ke sebuah saham. Ada beberapa indikator fundamental yang bisa dilihat.

Pertama, earning per share (EPS) atau laba per saham. Indikator ini bisa dijadikan patokan investor untuk melihat seberapa banyak laba bersih perusahaan jika dibagi ke setiap lembar sahamnya. Kamu bisa lihat perkembangan atau konsistensi pencapaian EPS setiap tahunnya sebuah perusahaan. Jika terus tumbuh konsisten, bisa dibilang cukup bagus.

Namun, naik turunnya EPS bukan sekadar disebabkan naik turunnya laba bersih perusahaan. Perkembangan jumlah saham beredar juga memengaruhi tingkat EPS. Beberapa aksi korporasi yang bisa menambah jumlah saham beredar antara lain, rights issue dan stock split.

Di situ, kamu bisa lihat seberapa efektif dana dari rights issue digunakan untuk menjadi laba bersih. Lalu, seberapa besar prospek saham yang melakukan stock split jika membandingkan pertumbuhan EPS beberapa tahun terakhir dengan rasio pemecahan nilai saham yang dilakukan.

Selain EPS, kamu juga bisa melihat dari sisi debt to equity ratio (DER), di sini kamu bisa melihat seberapa besar kemampuan sebuah perusahaan dalam membayar utangnya. Semakin besar tingkat DER, artinya semakin sulit dia membayar utang.

Namun, ada beberapa sektor usaha yang memang memiliki DER besar, seperti bank. DER sektor bank sangat besar karena sektor itu menghimpun dana masyarakat dari tabungan dan deposito yang tercatat sebagai kewajiban. Hasilnya, rasio DER bank pasti angkanya besar.

Adapun, DER menjadi indikator penting jika kamu ingin masuk saham second liner. Terutama, kamu harus lihat utang jangka pendek dan bagaimana kondisi arus kas perusahaan. Indikator ini akan menentukan seberapa besar prospek daya tahan perusahaan ke depannya.

Soalnya, saham second liner ini skala bisnisnya masih menengah sehingga daya tahannya ketika menghadapi situasi tidak terduga kurang begitu kokoh.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu