Tren Suku Bunga Rendah, Investasi di SBN Ritel masih Menarik?

119
investasi

Investasi SBN ritel masih menjadi pilihan bagi yang ingin menempatkan dananya dengan risiko rendah. Namun, SBN ritel juga terkena dampak pandemi Covid-19. Penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia untuk bantu pemulihan ekonomi bakal membuat tingkat kupon SBN Ritel makin turun. Di sini, kita akan ulik prospek investasi di SBN ritel saat pandemi Covid-19.

Pemerintah Indonesia sudah menyiapkan rencana untuk menggalang dana lewat SBN ritel pada 2021. Kementerian Keuangan menargetkan bisa menghimpun dana sekitar Rp70 triliun – Rp80 triliun pada tahun ini. Target itu hampir sama dengan pencapaian dana yang diperoleh SBN ritel pada 2020 senilai Rp76,78 triliun.

Pemerintah optimistis bisa menghimpun dana lewat SBN ritel lebih banyak lagi. Soalnya, agen penjual makin banyak dan kini juga sudah meningkatkan jumlah jaringan penjualan secara digital.

SBN ritel adalah instrumen investasi di surat utang negara yang bisa dibeli dalam nominal kecil mulai Rp1 juta. Nantinya, keuntungan yang diperoleh bisa dari kupon surat utang yang dibagikan setiap sebulan sekali atau menjualnya ke pasar sekunder.

Memahami Jenis SBN ritel ORI dan Sukuk Ritel

investasi

Pemerintah memiliki 4 jenis SBN ritel yang ditawarkan ke masyarakat. Keempat SBN ritel itu antara lain, ORI, Sukuk Ritel, Saving Bond Ritel (SBR), dan Sukuk Tabungan. Nah, keempat SBN ritel itu memiliki karakter yang berbeda-beda.

ORI dan Sukuk Ritel memiliki karakter yang sama, hanya berbeda status instrumen investasi konvensional dan syariah. ORI dan Sukuk Ritel adalah jenis SBN ritel yang menawarkan tingkat kupon tetap. Tingkat kupon tetap itu menjadi salah satu kelebihan SBN ritel jenis ini. Dengan begitu, naik-turun tingkat suku bunga BI tidak akan mempengaruhi pengembalian keuntungan ke investor.

Kelebihan ORI dan Sukuk Ritel lainnya adalah bisa dijual di pasar sekunder. Dengan fasilitas penjualan di pasar sekunder ini, investor bisa mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga ORI dan Sukuk Ritel. Namun, itu juga bikin investor berpotensi merugi kalau menjual harga ORI dan Sukuk Ritel saat harganya lagi turun.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

BACA JUGA: Pandemi Masih Berlanjut, Tepatkah Berinvestasi Sekarang?

Biasanya, pergerakan harga ORI dan Sukuk Ritel naik-turun sesuai dengan keputusan Bank Indonesia soal kenaikan suku bunga.

Jika Bank Indonesia menurunkan suku bunga, maka harga ORI dan sukuk ritel berpotensi naik. Soalnya, kupon ORI dan sukuk ritel yang sudah diterbitkan bakal lebih tinggi atau menggiurkan dibandingkan dengan seri ORI dan sukuk ritel yang diterbitkan selanjutnya.

Begitu juga sebaliknya, ketika suku bunga dinaikkan, harga ORI dan sukuk ritel berpotensi turun. Penyebabnya, kupon ORI dan sukuk ritel seri selanjutnya bakal lebih tinggi dibandingkan dengan ORI dan sukuk ritel eksisting.

Jenis SBN Ritel Kupon % Harga 30 Des 2020 % Jatuh tempo
ORI015 8,25 103,4 15 Okt 2021
ORI016 6,8 104,67 15 Okt 2022
ORI017 6,4 104,2 15 Jul 2023
ORI018 5,7 102,25 15 Okt 2023
SR010 5,9 100,48 10 Mar 2021
SR011 8,05 104,78 10 Mar 2022
SR012 6,3 103,89 10 Mar 2023
SR013 6,05 103,02 10 Sep 2023

Sebagai informasi, saat ini tingkat suku bunga acuan BI sudah berada di level 3,75 persen. Level itu menjadi yang terendah sejak BI mengganti suku bunga acuan dari BI rate menjadi BI 7 days reverse repo rate pada 2016 silam.

Memahami Jenis SBN Ritel SBR dan Sukuk Tabungan

investasiinvestasi

Berbeda dengan ORI dan sukuk ritel, SBN ritel jenis SBR dan Sukuk Tabungan ini tidak bisa dijual atau beli lewat  pasar sekunder. Karakter SBR dan sukuk tabungan memang sesuai namanya, yakni seperti menabung dalam masa tertentu alias hingga tenornya usai.

Namun, SBR dan sukuk tabungan juga memiliki kelebihan, yakni tingkat kupon floating alias mengambang sesuai dengan suku bunga acuan BI. Jika BI menaikkan suku bunga, maka tingkat kupon SBR dan sukuk tabungan juga akan naik. Namun, jika BI menurunkan suku bunga, tingkat kupon SBR dan sukuk tabungan akan turun hingga ke batas minimal sesuai dengan ketentuan saat surat utang itu dirilis.

Selain itu, kelebihan SBR dan sukuk tabungan lainnya adalah memberikan masa pencairan lebih awal, yakni 1 tahun setelah penerbitan. Fasilitas ini untuk mengganti karakter SBR dan sukuk tabungan yang tidak bisa dijual di pasar sekunder. Dengan begitu, kalau kamu butuh dana darurat dari investasi di SBR dan sukuk tabungan, kamu bisa mencairkan lebih awal pada waktu yang sudah ditentukan.

BACA JUGA: Cek Insting Investasimu Sekarang Juga

Memang, kelemahan dari SBR dan sukuk tabungan ini, kamu enggak bisa mencairkan dana yang dimiliki setiap saat.

Investasi SBN Ritel yang Cocok Saat Pandemi

Setelah memahami karakter SBN ritel yang ada di Indonesia itu, kita bisa mengambil kesimpulan kalau semua SBN ritel memiliki kaitan yang erat dengan pergerakan suku bunga acuan BI.

Namun, hubungan dua jenis SBN ritel dengan suku bunga BI itu memiliki karakter yang berbeda. ORI dan sukuk ritel cenderung bersikap berlawanan dengan tren suku bunga BI di pasar sekunder, sedangkan SBR dan sukuk tabungan bersikap selaras dengan tren suku bunga BI.

Nah, investasi SBN ritel tetap cocok untuk dijadikan diversifikasi portofolio investasi, meski tingkat suku bunga BI saat ini sudah sangat rendah. Hal ini berlaku untuk ORI dan sukuk ritel maupun SBR dan sukuk tabungan.

Jika kamu memilih investasi di ORI dan sukuk ritel, mungkin kamu tidak bisa mengincar potensi kenaikan harga di pasar sekunder lebih jauh. Namun, kamu terbebas dari risiko penurunan tingkat suku bunga lanjutan oleh bank sentral. Soalnya, sifat kupon di ORI dan sukuk ritel adalah fix.

BACA JUGA: Begini Cara Melakukan Evaluasi Investasi yang Tepat

Lalu, SBR dan sukuk tabungan juga sangat potensial untuk mencatatkan kenaikan tingkat kupon jika akhirnya BI memutuskan menaikkan suku bunga secara bertahap dalam dua tahun ke depan.

Dengan begitu, karakter SBN ritel ini sangat pas untuk dijadikan diversifikasi investasi demi meredam risiko di instrumen lainnya, seperti saham.

Pasalnya, instrumen investasi seperti saham masih sangat terpengaruh dengan kondisi ekonomi yang belum pulih akibat pandemi Covid-19. Jadi, pasar saham kemungkinan besar masih berfluktuasi selama setahun ke depan. Diversifikasi investasi ke SBN ritel bisa membantu kamu mengurangi risiko fluktuasi di pasar saham.

Seperti kata pepatah populer soal investasi, “Jangan pernah meletakkan telur dalam satu keranjang

Jadi, kita  bisa tunggu nih kalender penerbitan SBN ritel oleh pemerintah untuk menambah diversifikasi portofolio investasimu.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu