Sebelum Investasi Saham, Pahami ARA dan ARB Dulu

239
investasi saham

Investor dan trader saham pasti pernah dengar istilah investasi saham ARA dan ARB. Kira-kira apa yang harus dilakukan investor dan trader saham kalau saham koleksi atau targetnya mengalami ARA dan ARB ya?

Ketika harga saham lagi naik banget, pasti ada yang komentar saham ini siap-siap ARA. Lalu, ketika saham lagi turun bakal ada yang kecewa karena jadi ARB. Kalau kamu adalah investor saham pemula, pasti penasaran apa sih maksud dari ARA dan ARB.

ARA atau auto rejection atas adalah batasan kenaikan harga saham dalam satu hari perdagangan. Sebaliknya, ARB atau auto rejection bawah adalah batasan penurunan harga saham dalam satu hari perdagangan.

Tujuan keberadaan ARA dan ARB ini adalah untuk menyeimbangkan harga saham di pasar agar tidak ada kenaikan atau penurunan yang berlebihan yang sangat drastis. Bayangkan, kalau tidak ada ARA, harga saham bisa saja tembus 100% dalam sehari, begitu juga sebaliknya jika tidak ada ARB bisa turun 100% dalam sehari.

Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai menjalankan sistem yang disebut Jakarta Automated Trading System (JATS) ini sejak 22 Mei 1995.

Penyebab dan Ciri-ciri Saham Mengalami ARA dan ARB

investasi saham

Saham yang mengalami ARA dan ARB pastinya bukan disebabkan oleh sentimen kinerja keuangan. Biasanya, penggerak harga saham naik di luar wajar itu disebabkan oleh isu atau rumor di pasar yang membuat banyak investor melakukan spekulasi di saham tersebut.

Namun, fluktuasi harga saham yang mengalami ARA dan ARB kemungkinan besar cuma sesaat. Setelah itu, harga saham berpotensi kembali ke posisi harga yang sesuai dengan fundamental kinerjanya.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

BACA JUGA: Pasar Saham 2021, Tunggu January Effect atau Mulai Aja Dulu

Lalu, ada empat beberapa ciri-ciri saham yang mengalami ARA dan ARB nih. Pertama, pergerakan harga saham bagus, tetapi kinerja keuangan saham itu tidak bagus. Kedua, harga saham bergerak stagnan sementara, sedangkan pertumbuhan kinerja keuangan sangat bagus. Ketiga, muncul berita dan isu aksi korporasi yang mampu mengerek harga saham. Keempat, volume transaksi saham meningkat begitu tajam hingga tembus menjadi 20 saham yang paling ramai ditransaksikan di bursa.

Jika ada saham yang mengalami tanda-tanda seperti itu, berarti harga sahamnya bisa menuju ARA atau ARB.

Kemudian, dampak harga suatu saham mengalami ARA dan ARB kepada investor adalah tidak bisa melakukan aksi beli jika mengalami ARA dan tidak bisa melakukan aksi jual kalau terjadi ARB.

Ketentuan ARA dan ARB di BEI

Kebijakan ARA dan ARB di BEI memiliki ketentuan yang dibagi sesuai dengan kelompok besaran harga saham emiten.

Pertama, kelompok harga saham Rp50 – Rp200 kenaikan dan penurunannya dibatasi 35% dalam sehari. Kedua, harga saham Rp200-Rp5.000 kenaikan dan penurunannya dibatasi 25% dalam sehari. Ketiga, harga saham Rp5.000 kenaikan dan penurunannya dibatasi maksimal Rp20%.

Namun, saat pandemi Covid-19 mulai merambah Indonesia sejak Maret 2020 dan membuat pasar saham anjlok. BEI menerapkan skema ARA dan ARB asimetris. Jadi, tingkat ARB dipersempit agar pasar saham tidak bergejolak terlalu dalam. Ketiga kelompok saham itu akan dibatasi penurunannya maksimal 7%, sedangkan ketentuan ARA masih sama dengan sebelumnya.

BACA JUGA: Trading atau Investasi Saham, Kamu Pilih yang Mana?

Dengan skema auto rejection asimetris ini, risiko trader cenderung lebih rendah dibandingkan dengan auto rejection simetris. Soalnya, trader bakal lebih berani mengambil risiko yang maksimal cuma 7%, tetapi bisa mencari potensi keuntungan hingga 35%.

Dengan begitu, mereka akan lebih berani masuk ke saham dengan ciri-ciri bakal menjadi ARA maupun ARB sesuai dengan grafik teknikal atau keempat ciri-ciri yang sudah dibahas tadi.

Keuntungan dan Kerugian Auto Rejection

investasi saham

Di luar itu, keberadaan auto rejection secara umum juga memberikan dampak yang menguntungkan dan merugikan bagi investor. Apalagi, investor atau trader pemula yang belum mengetahui detail keberadan auto rejection ini.

Ketika ada saham yang mengalami ARB, kamu bisa menganalisis dan evaluasi kembali prospek saham itu ke depannya. Soalnya, jika saham itu di ARB artinya harganya menjadi lebih murah. Kalau, fundamental kinerja keuangannya bagus, berarti jadi kesempatan kamu untuk masuk.

Namun, kamu juga harus melakukan verifikasi informasi atau berita yang mengerek harga saham tersebut. Nantinya, hasil analisis itu bisa melihat kebenaran dan dampak berita itu terhadap kinerja keuangannya.

BACA JUGA: Dampak Stock Split dan Reverse Stock Split

Lalu, ketika saham mengalami ARA dan kamu sudah memilikinya, berarti bisa mengambil langkah ambil keuntungan. Namun, jika kamu belum memilikinya, jangan terburu-buru masuk. Pelajari rumor atau faktor yang membuat harga sahamnya melejit. Dengan begitu, kamu bisa menentukan apakah saham itu layak koleksi saat harganya sudah murah.

Di sisi lain, auto rejection juga memberikan dampak negatif, yakni ketika kamu terlambat mengeksekusi jual saham yang terlanjur jadi ARB. Penurunan harga drastis itu pastinya bikin para trader rugi besar.

Lalu, kerugian saat saham menjadi ARA adalah ketika kamu justru mengoleksinya tanpa analisis yang mendalam. Soalnya, saham ARA itu sudah naik sangat tinggi, berarti potensi penurunan setelah periode ARA itu sangat mungkin terjadi.

Hasilnya, ARA yang bisa bikin cuan malah berujung rugi karena terpaksa nyangkut di saham dengan harga tinggi.

Kesimpulannya, ARA dan ARB ini memang memengaruhi untuk trader jangka pendek. Namun, hal itu bukan berarti bikin investor jangka panjang acuh terhadap informasi ARA dan ARB. Kamu yang investasi jangka panjang juga harus melihat perkembangan saham yang dimiliki, termasuk yang mengalami ARA dan ARB.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu