Prinsip Penting agar Investasi Reksa Dana Berhasil Mencapai Target

368
investasi reksa dana

Di tengah guncangan pasar akibat pandemi Covid-19, kinerja reksa dana memang tidak kalis dari tekanan seiring penurunan kinerja aset dasarnya. Akan tetapi, menutup tahun 2020, masih cukup banyak produk reksa dana yang mampu mencetak positif. Mengutip Bareksa.com, reksa dana pendapatan tetap mampu tumbuh 6,9% pada tahun 2020. Sedang reksa dana jenis lain seperti reksa dana saham secara umum lebih tertekan walau masih ada yang mampu mencetak kinerja positif.

Baca juga: Begini Cara Mengevaluasi Kerja Reksadana Anda

Bagi kamu yang tercatat sebagai investor ritel dan investor pemula, reksa dana masih menjadi pilihan menarik yang bisa membantu kamu mewujudkan tujuan keuangan dengan instrumen pasar modal. Pasalnya, reksa dana dikelola oleh manajer investasi profesional sehingga cocok bagi kamu yang tidak memiliki energi dan waktu khusus untuk memantau pergerakan pasar setiap waktu. Meski demikian, berinvestasi reksa dana juga membutuhkan pemahaman yang memadai supaya instrumen investasi ini dapat membantu kamu mewujudkan tujuan keuangan. Nah, bagaimana trik investasi reksa dana untuk membantu mewujudkan tujuan keuangan? Simak di bawah ini:

1. Tentukan tujuan keuangan

investasi reksa dana

Ibarat orang berjalan, tanpa tujuan yang jelas, maka kamu akan mudah lelah di tengah jalan dan berisiko kehilangan fokus kala kondisi tengah tidak menguntungkan. Memiliki tujuan yang jelas juga akan membantu kamu mengetahui amunisi apa saja yang dibutuhkan agar tujuan tersebut dapat tercapai. Secara sederhana, tujuan keuangan dibagi menurut periode waktu. Yaitu, tujuan keuangan jangka pendek di bawah 2 tahun, tujuan keuangan jangka menengah yakni antara 3-5 tahun dan tujuan keuangan jangka panjang di atas 5 tahun.

Contoh tujuan keuangan jangka pendek antara lain dana liburan akhir tahun nanti, biaya daftar ulang sekolah anak, dan lain-lain. Tujuan keuangan jangka menengah, misalnya, kebutuhan dana keberangkatan umroh 4 tahun lagi, atau kebutuhan dana pernikahan 3 tahun lagi. Sedang tujuan keuangan jangka panjang di atas 5 tahun antara lain dana pensiun, dana pendidikan anak ke perguruan tinggi, dan lain-lain.

2. Pilih jenis reksa dana yang tepat

Reksa dana ada berbagai macam jenisnya bergantung pada isi keranjang atau aset dasarnya. Ada reksa dana pasar uang yang aset dasarnya berupa instrumen pasar uang seperti sertifikat deposito, cash dan obligasi tenor di bawah 1 tahun. Lalu, reksa dana pendapatan tetap yang aset dasarnya didominasi instrumen fixed income seperti obligasi. Reksa dana campuran biasanya berisi gabungan antara instrumen fixed income dan instrumen berbasis ekuitas seperti saham. Sedangkan reksa dana saham berisi aset dasar berupa saham.

Untuk tujuan keuangan jangka pendek, reksa dana pasar uang yang tingkat risikonya paling rendah adalah pilihan tepat. Adapun untuk tujuan keuangan jangka menengah, kamu bisa menimbang reksa dana pendapatan tetap atau reksa dana campuran yang memiliki porsi obligasi lebih banyak. Sedang untuk tujuan keuangan jangka panjang, reksa dana saham tepat menjadi pilihan.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Selain mempertimbangkan time horizon investasi, penting juga untuk memperhatikan profil risiko kamu sebagai investor. Seorang investor bertipe konservatif bisa saja memilih menempatkan investasi di reksa dana pendapatan tetap untuk tujuan jangka panjang karena ia tidak nyaman bila memilih reksa dana saham. Pilihan terhadap reksa dana akan sangat dipengaruhi oleh kenyamanan kamu menghadapi risiko investasi. Dengan demikian, investasi bisa kamu jalankan dengan nyaman.

3. Cek kinerja historis, biaya dan rekam jejak manajer investasi

Setelah memilih jenis reksa dana yang tepat sesuai tujuan keuangan dan profil risiko, selanjutnya lakukan riset sederhana sebelum memilih produk reksa dana. Mengutip data Otoritas Jasa Keuangan Desember 2020, jumlah produk reksa dana saham mencapai 274 produk, lalu 312 produk reksa dana pendapatan tetap, 200 produk reksa dana pasar uang, 194 reksa dana campuran, 45 produk Exchange Trade Fund (ETF), dan 25 produk reksa dana indeks.

Kamu bisa memilih produk terbaik dengan cara mengecek daftar reksa dana berperforma terbaik. Publikasi tentang informasi tersebut bisa diakses dengan mudah di berbagai media ekonomi. Dari sana, kamu bisa mengerucutkan pilihan dan lakukan perbandingan kinerja historis tiap reksa dana yang hendak kamu pilih. Jangan lupa mengecek biaya-biaya yang menyertai tiap reksa dana. Termasuk di sini adalah biaya pembelian (subscription fee), biaya penjualan (redemption fee), biaya pengalihan (switching fee), dan biaya-biaya lain bila ada.

Hal lain yang penting untuk kamu perhatikan adalah rekam jejak manajer investasi yang mengelola reksa dana tersebut. Pilih manajer investasi yang berpengalaman dan transparan dalam memberikan informasi seputar pengelolaan investasi yang mereka jalankan.

Baca juga: Mana yang Lebih Untung Deposito atau Reksadana?

Yang terpenting juga, pastikan kamu membaca dengan teliti prospektus produk reksa dana sebelum memutuskan berinvestasi. Di prospektus kamu bisa mengetahui lebih jelas serba serbi produk, siapa manajer investasi yang ditunjuk mengurus fund tersebut, berikut berbagai biaya yang mungkin muncul.

4. Pilih DCA atau lumpsump

investasi reksa dana

Tentukan strategi investasi yang paling sesuai dengan kondisi arus kas kamu. Bila kamu seorang karyawan yang memiliki pendapatan rutin secara tetap, misalnya, tiap bulan, kamu mungkin bisa menimbang strategi dollar cost averaging (DCA) yaitu investasi berkala setiap periode tertentu. Misalnya setiap bulan. Strategi ini tidak terlalu memperhatikan naik turun harga reksa dana. DCA membantu kamu lebih disiplin berinvestasi dan terhindar dari keputusan investasi yang emosional. Jadi, ketika pasar tengah turun, dengan strategi DCA kamu berkesempatan berinvestasi lebih banyak dengan harga lebih murah, juga bisa menurunkan harga rata-rata pembelian (average down). Begitu juga saat pasar tengah bullish dan harga unit reksa dana naik, kamu tidak terpengaruh. Penerapan strategi DCA tepat dijalankan oleh investor yang tidak cukup memiliki waktu dan pengalaman menilai market timing.

Sedang bagi kamu yang memiliki pendapatan tidak tetap, kamu bisa menimbang strategi lumpsump atau investasi sekaligus banyak ketika memiliki dana. Misalnya, secara konsisten kamu berinvestasi minimal sebesar 20% dari setiap pendapatan yang kamu terima. Yang terpenting, pilihan investasi reksa dana perlu kamu sesuaikan dengan kondisi arus kas sehingga investasi bisa berjalan nyaman. Pastikan juga dana darurat kamu juga sudah terpenuhi minimal sebesar 30% dari nilai ideal. Dengan begitu investasi berjalan secara konsisten dan nyaman.

5. Aktifkan auto-invest

Untuk membantu kedisiplinan kamu dalam berinvestasi, ada baiknya kamu mengaktifkan fitur auto-invest yang banyak tersedia baik di rekening bank maupun di aplikasi investasi yang saat ini banyak tersedia. Fitur auto-invest memungkinkan kamu disiplin berinvestasi, terutama bagi investor yang menerapkan strategi investasi berkala atau dollar cost averaging.

Kedisiplinan dan konsistensi berinvestasi mempengaruhi tercapai tidaknya tujuan keuangan kamu. Jadi, bila ada fasilitas tanpa biaya yang bisa membantu investasi kamu berjalan lebih lancar, manfaatkan saja secara optimal.

6. Rajin evaluasi kinerja

Investasi bukan berarti kamu sekadar menempatkan dana dan berharap dana tersebut tumbuh seiring waktu. Sebagai investor kamu tetap memiliki tanggung jawab untuk memantau kinerja investasi kamu, apakah masih sesuai dengan asumsi pertumbuhan yang digunakan dalam simulasi perhitungan tujuan keuangan? Atau, sudah terlalu jauh melenceng sehingga kamu perlu menempuh rebalancing?

Penting bagi kamu menuliskan asumsi pertumbuhan investasi yang kamu harapkan. Dengan demikian, apabila kinerja reksa dana yang kamu miliki terlalu jauh di bawah asumsi tersebut, sudah saatnya kamu menimbang ke produk yang lebih baik kinerjanya.

Evaluasi kinerja reksa dana bisa kamu lakukan tiap triwulan, semester atau tiap akhir tahun. Caranya, bisa dengan mengecek fund fact sheet yang diberikan oleh manajer investasi secara rutin. Bandingkan juga kinerja reksa dana kamu dengan benchmark terkait. Misalnya, kinerja reksa dana saham bisa dibandingkan dengan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebagai benchmark. Bila produk reksa dana saham tersebut pertumbuhannya mampu melampaui IHSG, berarti produk tersebut bagus kinerjanya. Demikian juga sebaliknya.

Baca juga: Reksadana, Alternatif Investasi di Masa Pandemi

Enam langkah tersebut dapat kamu gunakan sebagai panduan utama berinvestasi reksa dana untuk mewujudkan tujuan keuangan. Tetap semangat berinvestasi demi masa depan lebih sejahtera!

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu