Prinsip Personal Finance Pasca Pandemi, Apa Saja yang Berubah?

91
pandemi

Tahun 2020 yang gelap oleh pandemi telah berganti menjadi tahun baru. Menginjak tahun 2021, belum ada tanda-tanda penurunan kasus infeksi Covid-19. Walau demikian, harapan akan segera berakhirnya pandemi besar ini terus meningkat seiring perkembangan vaksin yang makin menjanjikan. Di tengah situasi ini, harus diakui bahwa pandemi ini adalah game changer yang telah banyak mengubah cara kita menjalani hidup. Contoh mudah adalah masalah higienitas. Pandemi membuat manusia lebih serius memperhatikan sanitasi, higienitas juga kesehatan fisik dan mental, lebih dari masa-masa sebelumnya.

Baca juga: Kenapa Dana Darurat Harus Ditambah Saat Pandemi?

Begitu juga keharusan social distancing yang membuat work from home dan homeschooling menjadi norma baru. Pandemi ini memperlihatkan bahwa di rumah pun seseorang mampu bekerja efektif dan tetap produktif. Bersekolah dari rumah pun bisa dijalankan dengan pemanfaatan teknologi secara optimal. Pandemi ini juga telah banyak menggeser prinsip-prinsip lama pengelolaan keuangan pribadi alias personal finance. Cara-cara lama pengelolaan keuangan boleh jadi sudah kurang tepat dijalankan setelah kita mengalami pandemi ini.

Wisdom #1: Dana Darurat

Prinsip personal finance lama menyarankan, dana darurat yang perlu kamu miliki adalah antara 3-6 kali nilai pengeluaran rutin. Bahkan beberapa waktu belakangan sempat berkembang pandangan, seseorang tidak perlu menumpuk dana darurat terlalu banyak karena lebih baik diinvestasikan supaya dana tersebut tumbuh lebih cepat. Pendapat itu mungkin mengasumsikan kondisi perekononomian stabil sepanjang waktu.

Faktanya, ancaman krisis atau resesi perekonomian kapan saja bisa terjadi. Tidak ada yang pernah menyangka tahun 2020 akan terjadi wabah penyakit menular dan berbahaya seperti Covid-19. Tanpa perlu waktu lama, pandemi ini membuat perekonomian banyak negara jatuh dalam resesi yang cukup dalam. Jutaan orang kehilangan pekerjaan, sebagian lagi yang lain mengalami penurunan pendapatan yang signifikan. Selama kondisi perekonomian belum membaik, bagaimana memastikan keuangan kamu supaya bisa tetap bertahan?

Dana darurat adalah sekoci penting yang harus kamu miliki. Mempunyai dana darurat dalam jumlah yang memadai jauh lebih penting. Ukuran lama 3-6 bulan tidak lagi tepat bila melihat kondisi saat ini di mana pandemi belum jelas kapan akan berakhir dan butuh waktu berapa lama bagi perekonomian agar bisa kembali bangkit. Jadi, siapkan dana darurat dalam jumlah yang cukup minimal sebanyak 12 bulan kali nilai pengeluaran bulanan.

Wisdom #2: Utang

Utang adalah mimpi buruk di tengah tekanan resesi. Bayangkan kamu mengalami penurunan pendapatan yang cukup besar gara-gara pandemi ini, sedang di saat yang sama, beban utang kamu tidak ikut turun. Pemenuhan kebutuhan sehari-hari bisa terancam karena bagian pendapatan lebih banyak tersedot oleh cicilan utang yang tidak ikut menurun tersebut. Prinsip personal finance lama menyarankan agar kamu menjaga rasio utang maksimal sebesar 30% dari pendapatan rutin.

Jadi, bila per bulan kamu memiliki penghasilan Rp12 juta, maka total cicilan utang yang harus kamu bayarkan per bulan maksimal sebesar Rp4 juta saja. Apa yang terjadi ketika pandemi melanda dan perusahaan tempat kamu bekerja memangkas gaji sebesar 20% hingga pendapatan kamu tinggal Rp9,6 juta. Dikurangi beban utang Rp4 juta, maka uang yang tersisa untuk kebutuhan lain tinggal Rp5,6 juta. Hal lebih buruk bisa terjadi bila yang kamu alami adalah PHK, bukan sekadar penurunan pendapatan. Adanya cicilan utang jelas membuat keuangan semakin terpuruk.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Pandemi ini memberi pelajaran penting, seseorang bisa mendadak kehilangan pendapatan dalam jumlah signifikan. Tanpa menanggung utang, kejutan pahit seperti PHK bisa dijalani lebih ringan. Sebaliknya, bila ada cicilan utang, kehilangan pendapatan bisa membuat situasi kamu jauh lebih buruk. Jadi, bila tidak terlalu mendesak, hindari berutang. Semakin kecil beban utang, semakin sehat keuangan dan kamu siap menghadapi situasi buruk yang mungkin terjadi di depan nanti.

Baca juga: Pandemi Masih Berlanjut, Tepatkah Investasi Sekarang?

Wisdom #3: Investasi

Pandemi

Prinsip personal finance lama mengajarkan bahwa berinvestasi di instrumen yang agresif seperti saham atau reksa dana saham, aman belaka karena ditujukan untuk jangka panjang. Pandemi ini memperlihatkan, pandangan tersebut tidak sepenuhnya tepat. Ketika pasar mendadak berbalik arah begitu cepat, nilai aset investasi bisa anjlok tanpa bisa dibendung, berapa kerugian yang dapat kamu tanggung sebenarnya?

Sebagai gambaran, pandemi Covid-19 telah membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok hingga ke posisi 3.937,63 pada 24 Maret 2020. Walau kini IHSG sudah mulai bangkit ke kisaran 6.139,22 per 7 Januari 2021, harga saham tidak otomatis pulih. Beberapa saham di sektor tertentu mungkin bisa langsung bangkit seiring pemulihan indeks. Tapi, di saham sektor lain yang masih terdampak pandemi cukup dalam seperti properti dan infrastruktur, misalnya, harganya masih terseok-seok.

Investasi di saham memang risikonya cukup tinggi, maka itu lebih banyak disarankan untuk tujuan keuangan jangka panjang. Ketika aset saham kamu terpuruk nilainya cukup dalam, bisa jadi akan membutuhkan waktu lebih lama sampai nilainya kembali ke titik impas. Pandemi ini memberi pelajaran bahwa kendati aset saham cukup terkelola risikonya selama ditujukan untuk target dana jangka panjang, kamu tetap perlu melakukan diversifikasi investasi ketika membuat satu perencanaan keuangan.

Misalnya, untuk target dana pensiun yang masih lama, disarankan untuk berinvestasi di instrumen agresif yang tepat untuk jangka panjang. Saham selama ini banyak disarankan untuk mendukung tujuan keuangan dana pensiun. Namun, ada baiknya tidak menempatkan investasi 100% di saham saja. Sebar juga ke instrumen lain yang juga tepat untuk jangka panjang namun memiliki risiko di bawah saham. Misalnya, reksa dana saham, reksa dana campuran yang bobot obligasinya lebih banyak, bisa juga sebagian ditempatkan di emas batangan. Dengan demikian, ketika terjadi guncangan pasar yang besar, posisi aset kamu tidak terpuruk terlalu parah.

Wisdom #4: Asuransi

Merasa tenang karena sudah memiliki asuransi kesehatan adalah hal baik. Dengan keberadaan asuransi kesehatan, risiko finansial yang mungkin terjadi ketika ada kejadian sakit, bisa lebih terkelola. Namun, pandemi ini memberikan insight lain yang penting untuk kamu garis bawahi. Asuransi kesehatan saja tidaklah cukup untuk membantu menjaga kamu dari risiko finansial karena masalah kesehatan. “Asuransi” bentuk lain tetap harus kamu penuhi kebutuhannya kendati kamu sudah memiliki asuransi kesehatan. Apa saja bentuk “asuransi” tersebut?

Pertama, menjaga kebersihan diri dan lingkungan dengan memberi perhatian penting pada sanitasi dan higienitas. Wabah Covid-19 menunjukkan, virus bisa menyebar mudah ketika kita abai menjaga higienitas. Rajin mencuci tangan, membawa perlengkapan ibadah sendiri, menghindari ruangan yang sirkulasi udaranya buruk, adalah hal-hal sederhana yang dulu cenderung diremehkan. Nyatanya, hal itu sangat membantu kamu terhindar dari risiko tertular penyakit.

Kedua, membiasakan diri mengasup makanan sehat dan berolahraga. Pertahanan utama melawan penyakit adalah imunitas tubuh kamu sendiri. Imunitas tubuh hanya bisa terbentuk bila tubuh mendapatkan zat-zat bergizi yang cukup. Selain itu, rutin berolahraga juga dapat membantu kamu tetap bugar dan sehat lebih lama.

Ketiga, perhatikan kesehatan mental. Kurang istirahat, jam tidur tidak teratur, kebiasaan bergadang dan stres dapat mengakibatkan imunitas tubuh menurun lebih cepat. Pandemi ini mengajarkan pada banyak orang, tanpa kesehatan mental yang stabil, tubuh juga kesulitan menghalau serangan penyakit dari luar. Maka itu, jangan remehkan lagi pentingnya kesehatan mental. Hentikan kebiasaan bergadang, miliki cara mengelola stres yang sehat. Dengan begitu, tubuh bisa berada dalam kondisi prima.

Untuk memastikan kebutuhan “asuransi” tersebut terpenuhi, buat selalu alokasi anggaran khusus ketika melakukan penganggaran keuangan. Budget untuk makanan sehat, anggaran olahraga dan entertainment. Dengan begitu, risiko sakit bisa ditekan dan secara otomatis risiko finansial karena kesehatan dapat diperkecil.

Wisdom #5: Emas

Harga emas melambung tinggi selama dunia terbekap pandemi Covid-19. Di dalam negeri, harga emas batangan bahkan menembus Rp1 juta per gram. Di tengah kejatuhan harga paper investment seperti saham, reksa dana, obligasi juga derivatif, harga emas tak terbendung memecahkan rekor tertinggi terus menerus. Emas memang menjadi buruan para pemodal ketika kondisi ketidakpastian meningkat. Sebagai safe haven, emas dianggap sebagai instrumen lindung nilai yang relatif stabil harganya sehingga dapat menjadi tempat parkir sementara dana-dana pemodal sembari menunggu kondisi pasar kembali stabil.

Prinsip personal finance semula tidak banyak merekomendasikan emas sebagai salah satu pilihan investasi yang cocok mendukung tujuan keuangan kamu. Namun, pandemi ini dapat menggeser pandangan itu. Keberadaan emas dalam sebuah portofolio aset investasi seseorang, penting untuk dimiliki. Ketika aset lain seperti saham dan reksa dana jatuh karena guncangan pasar, emas bisa menjadi benteng portofolio kamu sehingga nilai kejatuhannya bisa lebih kecil. Nilainya yang cenderung meningkat ketika situasi krisis, bisa menjadi “penyelamat” keuangan kamu saat kondisi finansial terpuruk. Kamu bisa menjual simpanan emas kamu di kala harganya melambung tinggi. Keuntungan dari penjualan emas dapat kamu belanjakan saham-saham yang tengah terjatuh harganya karena krisis.

Baca juga: Pandemi, Dana Darurat atau Curi Cuan Dulu Ya?

Itulah beberapa prinsip personal finance yang mengalami pergeseran seiring kondisi pandemi Covid-19. Wabah penyakit yang baru terjadi 100 tahun terakhir ini memang telah mengubah banyak sendi-sendi kehidupan kita. Namun, jangan kemudian patah arang. Tetap bertahan dan beradaptasi agar masa depan tetap cemerlang.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu