15 Minutes With: Bagaimana Diversifikasi Portofolio untuk Mengantisipasi Guncangan Pasar

103
diversifikasi portofolio

Halo Valbury, nama saya Hendra, karyawan perusahaan swasta di Tangerang. Selama 4 tahun terakhir saya sudah mulai berinvestasi di beberapa produk finansial seperti reksa dana dan obligasi ritel dan kini mulai mencoba masuk saham. Nilai investasi saya tidak besar karena memang masih pemula.

Kejatuhan pasar tempo hari karena pandemi membuat saya mengalami penurunan nilai aset yang cukup besar. Kini saya jadi takut-takut untuk memulai masuk lagi seperti dulu. Yang ingin saya tanyakan ada beberapa hal:

  1. Bagaimana strategi atau trik mendiversifikasi portofolio supaya bisa mengantisipasi guncangan pasar di masa depan?
  2. Berapa persentase pembagian portofolio yang ideal supaya risiko bisa terkelola?
  3. Perlukah saya memasang target untung atau target rugi supaya bisa disiplin keluar/masuk dari pasar? Bagaimana bila investasi tersebut sebenarnya adalah untuk jangka panjang?
  4. Apa yang harus saya lakukan saat pasar kembali terguncang, apakah perlu segera keluar atau wait and see saja?

Terima kasih atas penjelasannya.

Jawaban Valbury

Salam kenal Hendra. Terima kasih atas pertanyaannya. Hal yang bagus ketika kamu sudah memulai investasi ketika usia masih muda dan tengah membangun karir. Kondisi pasar memang sempat terguncang oleh pandemi Covid-19 kendati kini telah berangsur pulih.

Baca juga: 15 Minutes with: Pandemi Masih Berlanjut Tepatkah Investasi Saham Sekarang?

Untuk menjawab pertanyaan kamu, ada hal mendasar yang perlu disinggung lagi. Sebelum memulai investasi, kamu perlu mengetahui lebih dahulu apa profil risiko kamu sebagai investor. Profil risiko adalah kemampuan kita menerima risiko investasi. Apakah kita termasuk investor konservatif, moderat atau agresif. Apa perbedaan tiga profil tersebut?

  • Profil risiko agresif adalah tipe investor yang berani mengambil risiko tinggi dengan tujuan agar bisa mendapatkan imbal hasil tinggi. Umumnya investor dengan usia di bawah 40 tahun cenderung lebih agresif.
  • Profil risiko konservatif adalah tipe investor yang lebih nyaman berinvestasi pada instrumen investasi dengan risiko kecil dan return kecil. Investor dengan usia di atas 40 tahun biasanya lebih konservatif.
  • Profil risiko moderat yaitu kombinasi antara konservatif dan agresif di mana ia berani mengambil risiko yang lebih besar namun tetap berhati-hati dalam memilih instrumen investasi.

Nah, bagaimana strategi investasi yang tepat berdasarkan profil risiko kita?

Bila kamu termasuk investor konservatif, maka perbanyak investasi di instrumen deposito, reksa dana pendapatan tetap, reksa dana pasar uang juga obligasi. Sebaliknya, bila kamu termasuk investor moderat, kamu bisa membaginya lebih seimbang antara instrumen risiko tinggi dan rendah. Misalnya, alokasikan 20% investasi di instrumen saham, lalu 30% di reksa dana pasar uang, dan 50% di instrumen obligasi atau deposito.

Bagi investor agresif, maka bobot investasi di instrumen berisiko lebih tinggi. Contoh alokasi yaitu 50% alokasikan investasi di saham, lalu 30% reksa dana pasar uang dan 20% obligasi dan deposito.

Selalu ingat, dalam berinvestasi kita wajib membatasi risiko. Jadi, sebelum terjun ke bursa saham, tentukan style kamu apakah lebih nyaman sebagai trader atau investor. Itu karena keduanya memiliki strategi yang berbeda dalam memilih saham dan membatasi risiko ketika pasar volatilitasnya tinggi. Seorang trader, misalnya, wajib membuat trading plan atau rencana trading yang berisi harga beli, harga jual untung serta harga jual cutloss sebagai cara untuk membatasi risiko. Hindari saham yang bergerak downtrend atau turun.

Baca juga: Tertarik Berinvestasti Emas? Cek Caranya Di Sini!

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Sedangkan bagi seorang investor, cara membatasi risiko adalah dengan melakukan update berkala perihal fundamental perusahan. Apabila kondisi fundamental perusahaan sudah tidak sesuai ekspektasi, maka lakukan penjualan saham. Namun, ketika terjadi koreksi harga di bursa saham ketika fundamental perusahaan tidak berubah, kamu bisa memanfaatkan penurunan harga tersebut untuk mendapatkan saham di harga murah (harga diskon). Jadi, seorang trader mengindari penurunan di bursa saham, sebaliknya seorang investor justru sangat menyukai dan menunggu koreksi harga di bursa saham.

Demikian penjelasan Valbury, semoga bisa memberi pencerahan. Tetap semangat berinvestasi untuk masa depan sejahtera, ya!

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu