Siapkan Dana Darurat Sebelum Investasi Saham, Pilih Reksa dana Pasar Uang atau Emas?

94
investasi risiko rendah

Investasi menjadi aktivitas yang digandrungi oleh banyak masyarakat dari muda hingga tua di kala pandemi Covid-19. Salah satu yang paling populer adalah saham dan banyak pemula yang tertarik investasi ke sana karena tawaran prospek keuntungan yang besar. Padahal, kamu enggak bisa sembarangan untuk masuk ke instrumen investasi yang berisiko lho

Fenomena investasi saham yang lagi populer sekali memang positif bagi pasar saham. Akhirnya, pertumbuhan investor ritel cukup agresif. Namun, pemahaman waktu yang tepat untuk masuk ke instrumen investasi yang berisiko masih sangat rendah.

Jika kamu pernah baca artikel tahapan keuangan di website ini, kamu harusnya paham waktu investasi saham adalah ketika kebutuhan dasar dan dana daruratmu sudah mencukupi. Kamu pun tidak boleh menggunakan uang panas untuk investasi berisiko, melainkan harus uang dingin.

BACA JUGA: Tips Mengelola Keuangan untuk Tentukan Target 2021

Lalu, kalau belum waktunya investasi ke saham, di mana sebaiknya investor pemula memupuk dana darurat?

Biasanya, dana darurat itu disimpan di instrumen yang rendah risiko. Tujuannya, agar ketika dibutuhkan secara tiba-tiba, dana yang ada sangat likuid untuk dicairkan dan potensi penurunan pokok investasi juga sangat rendah.

Ada beberapa instrumen investasi yang memiliki tingkat risiko rendah, tetapi tidak semuanya cocok untuk penempatan dana darurat. Beberapa instrumen investasi yang memiliki risiko rendah antara lain, SBN ritel seperti SBR, Sukuk Tabungan, ORI, dan Sukuk Ritel, emas, reksa dana pasar uang, dan deposito bank.

Namun, SBN ritel menjadi sulit untuk penyimpanan dana darurat karena tidak bisa dicairkan sewaktu-waktu seperti, SBR dan Sukuk Tabungan. Dua instrumen SBN ritel itu hanya menyediakan fitur pencairan lebih awal, setidaknya 1 tahun setelah dirilis.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Lalu, untuk SBN ritel jenis ORI bisa saja dijual kapanpun, tetapi tingkat likuiditasnya dipertanyakan, terutama untuk Sukuk Ritel.

Adapun, deposito bank juga lagi kurang menarik. Tren pelonggaran moneter Bank Indonesia (BI) juga turut menyeret jatuh imbal hasil deposito bank. Nah, di sini ada dua instrumen investasi yang memiliki karakter rendah risiko dan likuid.

Reksa dana Pasar Uang

investasi minim risiko

Di tengah tren penurunan bunga deposito, banyak investor mulai melirik reksa dana pasar uang. Selain disebabkan oleh banyaknya biaya admin di bank yang bisa menggerus tabungan sendiri. Untuk itu, banyak investor yang memindahkan portofolionya dari bank ke reksa dana pasar uang.

Manajer investasi yang mengelola produk reksa dana pasar uang banyak menempatkan deposito ke bank kecil. Tujuannya, bunga deposito di bank kecil sangat besar sehingga produk reksa dana pasar uang bisa melampaui imbal hasil di atas deposito.

Selain itu, reksa dana pasar uang juga menempatkan dananya ke obligasi dengan tenor jatuh tempo kurang dari satu tahun. Obligasi dengan tenor tersisa kurang dari satu tahun bisa dibilang risikonya sangat rendah. Soalnya, perusahaan pasti sudah menyiapkan uang kas untuk menutup utang di obligasi dengan jatuh tempo kurang dari setahun.

BACA JUGA: Tentukan Goals Keuangan dengan Piramida Maslow

Dengan racikan itu, reksa dana pasar uang sangat memungkinkan untuk menjadi pilihan sebagai penempatan dana darurat. Namun, kamu juga harus tau kalau reksa dana pasar uang juga punya beberapa kelemahannya nih.

Pertama, ada biaya komisi transaksi ke manajer investasi. Nilainya kecil sih dibandingkan dengan transaksinya, tetapi tetap akan menjadi biaya untukmu.

Kedua, kamu tidak bisa memilih danamu mau ditempatkan ke portofolio investasi apa. Jadi, kontrol atas investasi secara detail bisa dibilang hampir tidak ada.

Ketiga, penempatan dana di bank kecil juga sangat berisiko, seperti penutupan bank dan produk reksa dana itu bisa mengalami kerugian besar. Soalnya, reksa dana pasar uang menempatkan dana di bank kecil dengan bunga yang bisa jadi di atas ketentuan LPS, lembaga penjamin simpanan.

Hal itu membuat LPS tidak akan mengganti uang produk reksa dana itu jika bank kecil itu mengalami kolaps.

Keempat, reksa dana pasar uang sangat mudah dicairkan. Hal itu bisa bikin kamu tanpa sadar mengambil uang tabungan untuk dana daruratmu itu untuk kebutuhan yang tidak terlalu krusial.

Investasi Emas

investasi minim risiko

Sementara itu, emas masih dielu-elukan sebagai instrumen investasi yang anti inflasi. Bahkan, beberapa orang juga nekat untuk investasi emas di berbagai platform digital dengan tujuan untuk mulai memupuk dana darurat.

Emas memang bisa jadi pilihan kamu untuk menempatkan dana darurat. Soalnya, ada beberapa kelebihan unggul emas yang pas banget untuk dana darurat, seperti likuid atau mudah dijual.

Kalau kamu butuh jual emas, terutama dalam bentuk batangan. Kamu bisa langsung mencari toko emas dan logam muliamu pasti akan laku di sana. Belum lagi, untuk jangka panjang, prospek harga emas pasti akan naik karena pasokan di dunia sangat terbatas.

BACA JUGA: Persiapan Masa Depan Anak, Pilih Asuransi Pendidikan atau Tabungan Pendidikan?

Namun, salah satu kekurangan emas yang utama adalah jika menyimpannya dalam jangka pendek, terutama dalam bentuk fisik, nilainya justru akan turun. Soalnya, ketika beli akan dikenakan biaya cetak untuk jadi batangan, sedangkan saat jual biaya cetak itu tidak akan dihitung lagi.

Hal itu yang membuat harga jual emas memiliki selisih hingga Rp100.000 per gram dengan harga buybacknya.

Lalu, penjualan emas bisa dibilang cukup sulit jika kamu tidak membelinya secara eceran per 1 gram.

Soalnya, jika memiliki emas dalam satuan besar seperti, 50 gram atau 100 gram. Mau tidak mau, kamu harus mencairkan seluruhnya jika dibutuhkan. Padahal, mungkin kamu hanya butuh dana sebagian. Lalu, belum tentu toko emas memiliki kapasitas  dana sesuai harga emas yang mau kamu jual.

Lalu, memiliki emas untuk dana darurat juga ada risiko kehilangan. Jika kamu memilih emas sebagai dana darurat, lebih baik mempersiapkan tempat penyimpanannya terlebih dulu seperti, brankas dan lainnya.

Sampai Kapan Memupuk Dana Darurat

Sebenarnya jumlah dana darurat yang dikumpulkan sesuai dengan kebutuhan dan jumlah tanggunganmu. Idealnya adalah mencapai 6 bulan – 12 bulan penghasilan setiap bulannya. Dengan begitu, setidaknya kamu bisa punya nafas untuk hidup, meski tanpa pendapatan dalam waktu tersebut.

Untuk itu, pengumpulan dana darurat bisa memakan waktu dari 1 tahun hingga 2 tahun ke depan. Soalnya, kamu harus menyisihkan uang dari total pendapatan dikurangi penghasilan. Nah, tingkat kecepatanmu untuk mengumpulkan dana darurat akan disesuaikan dengan seberapa banyak nilai uang yang disimpan setiap bulannya.

Jika seluruh dana darurat sudah terkumpul, kamu bisa endapkan uang itu tetap di reksa dana pasar uang atau emas hingga nanti dibutuhkan. Nantinya, secara otomatis uang itu akan tumbuh, minimal mengikuti kenaikan inflasi.

Kamu sudah siap untuk menyiapkan dana darurat? pilih reksa dana pasar uang atau emas?

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu