5 Hal yang Harus Kamu Lakukan agar Tujuan Keuangan Tidak Gagal karena Pandemi

48
Tujuan keuangan

Pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung setahun terakhir telah menyeret perekonomian global ke jurang resesi. Indonesia tidak bisa lolos dari jebakan resesi karena pandemi ini. Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan, sepanjang tahun 2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia menderita kontraksi hingga 2,07% year-on-year. Ini adalah angka pertumbuhan ekonomi terburuk sejak krisis moneter 1997 silam. Guncangan ekonomi akibat pandemi, praktis merontokkan kinerja berbagai aset keuangan seperti saham, reksa dana juga obligasi.

Memasuki tahun 2021, kinerja berbagai produk investasi memang terlihat mulai bangkit. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat terpuruk ke level terendah 3.937,63 pada Maret 2020 kini sudah menapak di 6.273,83 per 15 Februari 2021. Kendati demikian, kinerja aset keuangan sejatinya belum sepenuhnya normal atau kembali ke posisi seharusnya. Penurunan kinerja tersebut telah menggerus keuntungan yang telah tercipta dalam beberapa tahun belakangan.

BACA JUGA: Prinsip Penting agar Investasi Reksa Dana Berhasil Mencapai Target

Sebagai contoh, reksa dana saham. Indeks reksa dana saham yang dirilis oleh Bareksa mencatat, tingkat return atau keuntungan reksa dana saham di pasar domestik untuk periode 3 tahun masih negatif 24,3%. Dengan kata lain, rata-rata reksa dana saham yang sudah berusia tiga tahun saat ini sudah turun nilainya atau mengalami kerugian sebesar 24,3%. Jadi, misalnya nilai aset kamu, termasuk modal dan keuntungan investasi, tadinya sudah mencapai Rp50 juta, kini nilainya tergerus menjadi Rp. 37,85 juta saja.

Hal itu tentu mempengaruhi kesuksesan tujuan keuangan yang telah kamu canangkan. Mumpung masih bulan Februari, saatnya untuk bangkit membenahi tujuan-tujuan keuangan yang terancam gagal akibat guncangan pasar karena pandemi ini. Nah, mulai dari mana? Ikuti langkah-langkah berikut:

1. Cek posisi terakhir

Langkah pertama adalah mengecek posisi terakhir aset-aset keuangan yang kamu miliki dan terkait dengan tujuan keuangan. Kamu bisa dengan mudah mengeceknya di website manajer investasi terkait untuk reksa dana, atau ke laman sekuritas untuk saham. Dalam situs manajer investasi, biasanya tertera posisi nilai aktiva bersih (NAB) terakhir, lalu nilai modal investasi yang sudah kamu tempatkan, nilai kerugian atau keuntungan investasi dalam nominal dan persentase. Begitu juga untuk saham, kamu bisa cek berapa penurunan harga saham yang kamu miliki dan berapa nilai kerugian yang tertera.

BACA JUGA: Checklist: Seberapa Paham Anda Tentang Investasi Saham?

2. Bandingkan dengan target dana

Tujuan keuangan

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Langkah kedua adalah bandingkan posisi terakhir aset keuangan yang kamu miliki dengan target dana yang tertera dalam rencana keuangan. Misalnya, kamu memiliki rencana keuangan berupa pengumpulan dana persiapan menikah 3 tahun lagi dengan target sebesar Rp100 juta. Rencana itu sudah kamu jalankan dengan investasi rutin di reksa dana pendapatan tetap selama 2 tahun terakhir sebesar Rp. 2,2 juta per bulan. Total modal investasi yang sudah kamu tanam mencapai Rp. 52,8 juta. Investasi kamu sempat mencetak untung (unrealized gain) sebesar Rp. 7,92 juta selama rentang itu.

Namun, akibat pandemi, kinerja reksa dana merosot 15% sehingga posisi terakhir investasi kamu saat ini adalah Rp. 51,61 juta. Angka itu masih jauh dari target dana sebesar Rp. 100 juta yang seharusnya tercapai 12 bulan mendatang. Tujuan keuangan pun terancam gagal bila nilai aset tidak mampu bangkit naik atau malah lebih buruk, semakin turun NAB-nya.

3. Pertimbangkan target waktu pemakaian dana

Apabila target waktu pemakaian dana masih lama, anggaplah 5 tahun lagi atau bahkan 10-20 tahun lagi seperti untuk target dana pensiun, kamu bisa sedikit lebih tenang dengan guncangan yang menurunkan nilai aset investasi tersebut. Sebaliknya, bila target waktu pemakaian dana sudah dekat atau dalam hitungan bulan saja, sedangkan nilai aset menurun hingga target dana terancam gagal, pertimbangkan untuk mengambil langkah strategis seperti cutloss. Ini untuk mengantisipasi kerugian lebih besar.

Segera pindahkan aset ke instrumen yang lebih stabil dan berisiko rendah seperti deposito bank. Sedang kekurangan dana dari target yang telah dicanangkan dapat kamu tambahkan dari dana darurat yang ada. Atau, bila memang memungkinkan, kamu bisa menunda lebih dulu pemakaian dana tersebut atau memperpanjang target waktu pemakaian dana. Misalnya, untuk tujuan keuangan seperti target dana pembelian rumah, itu bisa ditunda hingga dananya benar-benar mencapai target. Sedangkan bila tujuan keuangannya adalah seperti dana uang pangkal sekolah anak di tahun ajaran baru, tentu itu sulit untuk ditunda sehingga keputusan yang taktis perlu ditempuh.

4. Manfaatkan “musim diskon”

Apabila target waktu pemakaian dana masih lama sedangkan prospek aset investasi yang kamu miliki rupanya masih menarik, kamu bisa menimbang untuk melakukan average down. Ini adalah salah satu strategi investasi saham atau reksa dana dengan cara menambah kepemilikan saham tertentu atau reksa dana tertentu yang telah dimiliki sebelumnya kala harganya tengah turun. Average down biasanya ditempuh oleh investor jangka panjang. Penurunan harga dianggap sebagai kesempatan untuk menambah aset investasi dengan harga lebih murah. Dengan catatan, aset investasi tersebut diharapkan akan tumbuh tinggi di masa depan sehingga memberi untung yang optimal.

BACA JUGA: Momentum Diskon dan Bunga Kredit Rendah, Saatnya Investasi Properti?

Tujuan average down adalah supaya harga rata-rata pembelian alias modal investasi menjadi menurun sehingga keuntungan yang dinikmati di depan bisa lebih besar. Contoh, kamu memiliki saham ABCD dengan nilai rata-rata pembelian Rp. 1.000 per lembar. Kala pandemi menerpa, harga saham tersebut menurun ke posisi Rp. 700 per lembar. Karena saham tersebut memiliki fundamental bagus, prospeknya menarik dan target pemakaian dana dari investasi ini masih lama, kamu memanfaatkan penurunan harga itu untuk menambah kepemilikan secara bertahap. Sehingga, nilai rata-rata pembelian kamu lebih rendah, anggaplah menjadi Rp800 per lembar. Jadi, ketika beberapa waktu ke depan harga saham tersebut melesat ke posisi Rp 1.500 per lembar, nilai keuntungan kamu jadi lebih besar.

Nah, sebelum memutuskan average down atau menambah kepemilikan aset investasi, ada baiknya kamu menempuh beberapa langkah berikut. Pertama, lakukan analisis fundemental saham terkait. Cobalah mengecek lagi laporan keuangan perusahaan terkait, hitung indikator keuangan utama, seperti price to earning ratio (PER), price to book value (PBV), dan lain sebagainya. Untuk reksa dana, kamu bisa cek lagi fund fact sheet-nya, dengan mengecek konsistensi tingkat return selama 3, 5 hingga 10 tahun terakhir atau sejak reksa dana tersebut berdiri. Bandingkan dengan return reksa dana sejenis dan benchmark-nya seperti Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bagi reksa dana saham, dan sebagainya.

Kedua, siapkan modal untuk mengantisipasi penurunan harga lebih lanjut. Bila tekanan harga terus berlanjut, kamu tentu tidak mau ketinggalan “momentum diskon” tersebut dengan melewatkan kesempatan berbelanja aset. Maka itu, untuk menempuh average down, siapkan dana modal sesuai kemampuan yang ada. Pastikan modal tersebut bukan berupa dana pinjaman atau dana yang bisa mengganggu arus kas keuangan kamu sehari-hari.

5. Pantau lebih cermat

tujuan keuangan

Kondisi pandemi yang masih belum memperlihatkan titik terang berakhir sedikit banyak akan kerap memicu volatilitas pasar keuangan. Supaya tujuan keuangan kamu tetap bisa dipertahankan peluang keberhasilannya, mau tidak mau kamu perlu menyisihkan waktu lebih untuk memantau secara cermat perkembangan investasi yang sudah berjalan. Tidak perlu setiap hari kamu pantau. Kamu bisa menyisihkan waktu minimal sebulan sekali untuk melakukan adjustment sehingga tujuan keuangan kamu tetap berada di jalur yang tepat. Dengan begitu, peluang mewujudkan target yang telah disusun bisa lebih besar.

Nah, semoga 5 langkah di atas tetap membuat kamu bersemangat mengejar dan mewujudkan berbagai tujuan keuangan, ya. Semoga cuan!

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu