Punya Gaji Rutin dari Saham dengan Strategi Income Investing

393
saham dividen

Investasi saham sudah makin akrab menjadi salah satu pilihan mengembangkan dana demi masa depan lebih sejahtera. Di kalangan generasi muda yang kerap disebut milennial, saham jadi pilihan favorit selain reksa dana.

Lihat saja data yang dirilis oleh Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) yang mencatat kurang lebih 70% investor saham domestik usianya masih di bawah 40 tahun. Saham makin jadi favorit karena diyakini bisa efektif membantu tercapainya tujuan keuangan yang diidamkan.

Nah, apakah kamu sudah memulai investasi saham? Supaya investasi saham bisa menguntungkan, tentu jangan asal beli dan jual begitu saja. Ada banyak strategi investasi yang bisa kamu terapkan supaya investasi saham bisa berjalan efektif dan menguntungkan.

Beberapa jenis pilihan strategi investasi saham yang banyak dikenal antara lain value investing, growth investing, daily trading hingga income investing. Setiap strategi dapat kamu pilih sesuai time horizon investasi, tujuan keuangan dan profil risiko.

Baca juga: Awas, Bahaya Investasi Saham Tanpa 5 Bekal Ini

Walau trading saham belakangan makin banyak dipilih investor muda, strategi income investing juga tak kalah favorit terutama di kalangan investor pemula yang ingin mendapatkan pendapatan rutin dari investasi saham. Secara sederhana, strategi income investing berarti strategi berinvestasi dengan memfokuskan pembelian saham-saham penghasil dividen.

Harapannya, investor bisa mendapatkan pendapatan rutin dari saham-saham tersebut pada periode tertentu. Penasaran apa saja langkah yang perlu kamu ambil bila ingin menerapkan strategi income investing? Simak lebih jelas berikut.

Mengenal dividen

Mungkin kamu sudah sering mendengar istilah saham dividen. Apa, sih, artinya dividen saham itu? Secara definitif, dividen adalah sebagian dari laba bersih yang berhasil dicetak oleh perusahaan, yang dibagikan kepada para pemegang saham.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Baca juga: Dividen – Dibagikan Atau Tidak Tergantung pada Hal Ini

Idealnya, bagian laba bersih yang akan dibagikan sebagai dividen itu sudah diperhitungkan oleh manajemen perusahaan, yakni biasanya setelah dikurangi kebutuhan belanja modal untuk membiayai ekspansi di waktu mendatang agar kinerja perusahaan terus melaju.

Dividen ada dua jenis, yaitu dividen interim dan dividen final. Dividen interim yaitu dividen yang dibagikan sebagian pada taun yang sama untuk kinerja perusahaan di tahun yang sama. Adapun dividen final adalah sisa dividen yang akan dibayarkan pada tahun berikutnya. Ada beberapa istilah penting yang perlu kamu ketahui seputar dividen saham, berikut di antaranya:

  • Cum date, yaitu tanggal di mana investor yang tercatat pada tanggal tersebut memegang saham terkait, memiliki hak mendapatkan dividen.
  • Ex date, yaitu tanggal atau hari pertama di mana pemegang saham sebuah perusahaan tidak berhak lagi mendapatkan dividen. Biasanya ex date ini dijadwalkan satu hari kerja setelah tanggal cum date dividen.
  • Recording date, yaitu tanggal pencatatan di mana dividen sudah bisa dicatat sebagai pendapatan kendati pembayaran belum diterima (biasanya hal ini penting bagi investor institusi).
  • Payment date, yaitu tanggal dividen uang tunai dibayarkan kepada pemegang saham.

Strategi Income Investing dalam 5 Langkah

Strategi income investing tepat bagi kamu yang menginginkan pendapatan rutin dari saham. Kamu bisa menempuhnya dengan pendekatan buy and hold, bila ingin lebih fokus pada pendapatan dividen ketimbang memburu keuntungan dari capital gain. Minimal kamu memegang sahamnya hingga cum date dividen.

Bisa juga memilih jurus buy and sell yakni membeli saham yang hendak membagikan dividen, lalu menjualnya ketika dividen telah diterima dan tentu saat harga jual saham sudah lebih tinggi dari harga beli. Supaya lebih jelas kamu bisa ikuti beberapa trik mudah berikut:

1. Pilih saham pemberi dividen terbaik

saham dividen

Di Bursa Efek Indonesia, ada banyak indeks saham yang bisa kamu gunakan sebagai acuan, termasuk dalam memilih saham pemberi dividen yang tepat. Dalam hal ini, indeks yang bisa kamu gunakan adalah IDX High Dividen 20. Ini adalah indeks yang mengukur pergerakan harga 20 saham yang membagikan dividen tunai dalam 3 tahun terakhir dan tercatat memiliki dividend yield cukup tinggi. Indeks ini diperbarui setiap bulan Januari dan Juli.

Berikut ini daftar saham yang tercatat dalam IDX High Dividen 20 untuk periode Januari-Juli 2021: ADRO, ASII, BBCA, BBNI, BBRI, BMRI, CPIN, DMAS, HMSP, INDF, INTP, ITMG, KLBF, PGAS, PTBA, TLKM, TOWR, UNTR, UNVR dan WSBP.

2. Perhatikan Dividend Yield

Apakah saham yang menarik dikoleksi dalam strategi income investing adalah saham yang memiliki dividend yield tinggi? Secara sederhana, dividend yield bisa diketahui dengan cara membagi dividen dengan harga saham. Misalnya, saham ABCD harga terakhir adalah Rp1.000 per lembar dan akan membagikan dividen sebesar Rp100 per saham. Dengan demikian, dividend yield saham ABCD adalah 10%. Ada juga saham EFGH yang harganya ditransaksikan Rp1.000 per lembar dan akan membagikan dividen Rp25 per saham, dengan begitu dividend yield saham tersebut 2,5%.

Bila kamu ingin mengoptimalkan pendapatan dari dividen, saham ABCD yang memiliki dividend yield lebih tinggi tentu lebih layak dipilih. Walau begitu, rasio dividend yield jangan kamu jadikan sebagai satu-satunya variabel penting dalam berinvestasi dengan strategi ini. Tren harga saham ke depan juga perlu kamu perhatikan.

Misalnya, bila kamu sekadar ingin mendapatkan dividennya dan berencana melepas saham tersebut begitu dividen diterima, maka ada risiko penurunan harga saham. Itu karena aksi jual saham sering ditempuh pada investor begitu dividen telah diterima. Jadi, boleh jadi strategi buy and hold saham dividen lebih tepat kamu pilih dengan catatan prospek harga saham ke depan lebih prospektif.

Pendapatan dividen dikenakan pajak final sebesar 10% bagi investor individu. Sedangkan bagi investor berbadan hukum atau investor institusi akan dikenakan pajak sebesar 15%. Dengan memperhitungkan potongan pajak, maka menghitung pendapatan dividen bersih berarti besar dividend yield dikurangi pajak final.

3. Hitung DPOR juga

Besar laba bersih setelah pajak yang dibagikan dalam bentuk dividen dikenal dengan istilah Dividend Pay Out Ratio (DPOR). Sebagai contoh, suatu perusahaan ABCD mencetak laba bersih sebesar Rp200 miliar, sedangkan DPOR-nya diputuskan sebesar 30%. Adapun jumlah saham beredar mencapai 1 miliar lembar saham.

Dengan demikian, bagian laba bersih yang akan dibagikan sebagai dividen untuk pemegang saham adalah sebesar Rp200 miliar x 30% = Rp60 miliar. Besar dividen yang akan didapatkan oleh setiap pemegang saham adalah Rp60 miliar dibagi 1 miliar lembar saham = Rp60 per lembar. Bila seorang investor memiliki 100.000 lembar saham ABCD, maka ia berhak menerima dividen sebesar Rp6 juta.

Saham dengan DPOR tinggi belum tentu lebih layak pilih dibanding saham dengan DPOR rendah. Umumnya, investor dengan time horizon jangka panjang lebih nyaman dengan emiten yang memiliki DPOR relatif rendah. Pasalnya, DPOR yang tidak terlalu tinggi diasumsikan bahwa perusahaan tersebut mementingkan pemakaian laba bersih untuk ekspansi jangka panjang sehingga menjanjikan pertumbuhan modal yang lebih tinggi bagi pemegang saham.

Baca juga: Mencari Prospek Cuan Lebih di Saham Second Liner

Sebaliknya, investor saham yang tidak berniat investasi jangka panjang, cenderung memilih perusahaan dengan DPOR tinggi karena ia tidak mementingkan peluang pertumbuhan modal dalam jangka panjang.

4. Cek tren dividen

Ada perusahaan yang rajin membagi dividen, ada juga yang tidak. Kamu bisa mencermati tren pembagian dividen sebuah saham, apakah mencatat tren kenaikan yang konsisten setiap tahun atau tidak. Bila ada konsistensi kenaikan, maka bisa dibaca bahwa emiten tersebut konsisten mencetak dan menaikkan laba bersih mereka setiap tahun. Ini bisa dinilai sebagai poin penting bahwa emiten tersebut prospektif di masa mendatang dan layak kamu koleksi dalam jangka panjang.

saham dividen

Dengan begitu, ketika saham tersebut mengalami koreksi harga karena sentimen jangka pendek, kamu bisa memanfaatkannya untuk average down sehingga peluang keuntungan di masa mendatang semakin besar. Tentu selain memperhatikan tren dividen, kamu tetap perlu mempertimbangkan variabel lain seperti price earning ratio (PER) atau price book value (PBV) dan faktor-faktor lain untuk memastikan saham tersebut memang layak koleksi dalam jangka panjang.

5. Investasikan lagi dividen

Ketika kamu mendapatkan pembagian dividen dalam jumlah lumayan, kamu bisa menginvestasikan lagi dana tersebut agar bisa membantu kamu mencetak cuan berlipat-lipat. Misalnya, kamu dapat menggunakannya untuk membeli saham bagus yang harganya masih murah atau bisa menginvestasikannya lagi di instrumen yang memberikan pendapatan tetap seperti obligasi ritel atau deposito. Dengan begitu kamu bisa menikmati compounding interest atau bunga berbunga dari pendapatan dividen yang kamu peroleh.

Itulah strategi investasi income investing yang dapat kamu terapkan bila berkeinginan memiliki pendapatan rutin dari dividen saham. Semoga cuan, ya!

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu