Beli Rumah dengan DP 0% Apakah Layak Dipertimbangkan?

304
beli rumah

Dengan adanya pelonggarkan aturan loan to value/financing to value (LTV/FTV) terbaru untuk pembelian properti dari Bank Indonesia (BI), maka Anda bisa saja menerima fasilitas kredit pemilikan rumah (KPR) dengan uang muka (DP) 0%. Apakah hal ini menjadi peluang baik untuk membeli rumah?

Peluang atau tidak, membeli rumah dengan DP 0% tentu harus dilakukan dengan sangat berhati-hati. Hal itu disebabkan karena, pokok utang dari KPR tentu akan menjadi semakin besar. Walau nilai rumah akan terus naik, tetap saja beban keuangan kita akan menjadi semakin besar.

Baca juga:Momentum Diskon dan Bunga Kredit Rendah, Saatnya Investasi Properti?

Bila terbersit di diri Anda untuk membeli rumah dengan metode DP 0%, pertimbangkanlah beberapa hal di bawah ini.

Cicilan per bulan belum tentu sesuai dengan penghasilan

Seperti yang dijelaskan di atas, DP 0% mengakibatkan besarnya pokok utang dari rumah KPR Anda. Hal itupun secara tidak langsung akan berpengaruh pada cicilan bulanan Anda.

Mari kita ambil contoh, Bapak Anton hendak membeli rumah di kawasan Bekasi di harga Rp 500 juta dengan DP 0%, serta tenor 15 tahun (180 bulan). Berikut perhitungannya dengan menggunakan asumsi suku bunga 10% flat.

Harga rumah : Rp 500 juta

DP 0% : Rp 0

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Pokok Utang : Rp 500 juta

Besaran bunga : Rp 500 juta x 10%/12 = Rp 4,16 juta

Angsuran pokok : Rp 500 juta / 180 bulan = Rp 2,77 juta

Angsuran bulan pertama : Rp 4,16 juta + Rp 2,77 juta = Rp 6,94 juta

Apa yang terjadi ketika Bapak Anton membayar DP 20% dari total harga rumah? Tentunya dengan asumsi suku bunga yang sama dan tenor 15 tahun. Perhitungannya pun berubah menjadi:

beli rumah

Harga rumah : Rp 500 juta

DP 20% : Rp 100 juta

Pokok Utang : Rp 400 juta

Besaran bunga : Rp 400 juta x 10%/12 = Rp 3,33 juta

Angsuran pokok : Rp 400 juta / 180 bulan = Rp 2,22 juta

Angsuran bulan pertama : Rp 3,33 juta + Rp 2,22 juta = Rp 5,55 juta

Semakin besarnya DP yang dibayarkan, maka semakin kecil pula pokok utang dari KPR yang Anda ajukan.

Dalam perencanaan keuangan, besar cicilan utang (Debt Service Ratio) maksimal ditetapkan di 30% dari penghasilan bulanan. Apabila cicilan bulanan Bapak Anton adalah Rp 5,55 juta, maka dengan penghasilan bulanan Rp 15,5 juta dia sudah dinyatakan layak mengkredit rumah ini.

Namun, jika dia mengambil dp 0%, maka dengan cicilan Rp 6,9 juta dipastikan penghasilan minimum Bapak Anton harus di atas Rp 23 juta.

Bila cicilan Anda sampai 50% penghasilan, Anda sulit berinvestasi

beli rumah

Lembaga pemberi kredit bisa saja menyetujui permohonan Anda, meski besarnya cicilan KPR ternyata setara dengan 50% penghasilan. Tanpa disadari, cicilan itu akan semakin memberatkan Anda ke depan.

Anggap saja, dengan biaya hidup yang juga setara dengan 50% penghasilan Anda tidak akan lagi memiliki sisa nilai kas bersih dari pemasukan. Anda pun akan semakin kesulitan dalam berinvestasi demi masa depan.

Baca juga: Investasi Emas Atau Saham? Mana yang Lebih Pas untuk Masa Depan

Cicilan KPR, terutama di bank konvensional cenderung bersifat float

Patut diketahui pula, bila Anda berniat mengambil KPR di bank konvensional, maka suku bunganya akan cenderung float (naik) dalam periode yang telah ditentukan. Lain halnya dengan syariah yang memberlakukan marjin bagi hasil tetap.

Pelunasan dipercepat yang ada di KPR bank konvensional juga akan memunculkan biaya penalti bagi Anda. Akhirnya, Anda pun akan mengeluarkan uang yang lebih banyak untuk membeli hunian ini.

Itulah pertimbangan yang harus Anda pikirkan sebelum mengajukan KPR dengan metode dp 0%. Intinya, ketahuilah terlebih dulu beban bunga secara keseluruhan terhadap pembelian rumah ini.

Baca juga: Membantu Milenial Membangun Hunian Impian: Inilah Profil Aruna Harsa, Sosok di Balik Dekoruma

Ketika cicilan menjadi semakin berat, maka mau tidak mau Anda pun harus memotong pengeluaran Anda. Memotong pengeluaran tanpa perhitungan jelas bisa mengurangi kualitas hidup Anda ke depan.

Selain memahami beban bunga, jangan lupa pula untuk mengetahui segala macam biaya yang akan muncul di awal, dan pastikan Anda telah melakukan perencanaan sebelum membeli rumah.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu