Tren Impact Investing di Kalangan Milenial, Berikut Faktanya

495
impact investing

Impact investing tidak hanya mulai tren di kalangan institusi besar saja, tetapi juga sudah menjamah segmen perorangan dari kalangan milenial. Sebenarnya, apa sih impact investing tersebut?

Impact investing adalah aktivitas investasi yang tidak sekadar mencari keuntungan semata, tetapi juga melihat aspek dampak positif investasi yang dilakukan ke masyarakat. Dampak positif itu mencakup keberlanjutan hingga tata kelola yang baik.

Perbedaan impact investing dengan investasi biasa adalah investor rela menerima keuntungan yang sedikit, tetapi memiliki dampak positif yang besar.

Indonesia pun disebut memilliki potensi impact investing yang besar. Dari data Mekar Indonesia, potensi investasi di sektor energi diperkirakan sekitar Rp65 triliun, sektor agribisnis Rp46 triliun, dan sektor perairan Rp31 triliun.

Di luar itu, ada pula potensi impact investing yang dinilai cukup besar lainnya, yakni sektor pebisnis UMKM dari kalangan perempuan. Dari data ANGIN, pelaku usaha mikro dari kalangan perempuan disebut bisa berkontribusi sebesar 135 miliar dolar AS untuk Produk Domestik Bruto (PDB) tahunan.

Namun, potensi investasi di sektor yang memiliki dampak ke masyarakat yang cukup besar itu kerap terpinggirkan dari lembaga formal. Alasannya, sektor-sektor itu dinilai memiliki risiko yang tinggi dengan potensi keuntungan yang cenderung lebih rendah.

Geliat Milenial Jadi Impact Investor 

Impact investing

Perkembangan teknologi telah membuka akses bagi para millennial untuk memilih instrumen investasi, salah satunya impact investing. Salah satu instrumen yang membuka peluang milenial untuk melakukan impact investing adalah lewat peer to peer lending (p2p lending).

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Skema platform p2p lending yang mempertemukan orang yang butuh dana ke orang yang punya uang telah membuka akses  pendanaan untuk sektor berdampak lebih mudah. Bahkan, beberapa p2p lending ada yang benar-benar fokus di sektor berdampak potensial seperti, agribisnis dan perairan.

Dari studi yang dilakukan oleh PT Amartha Mikro Fintek dalam Social Accountability Report (SAR) pada 2019, 68 persen jumlah investor atau pemberi pinjaman di platform p2p lending itu adalah milenial, 19 persen generasi X, 10 persen generasi Z, dan 3 persen oleh Baby Boomers.

Baca juga: Tips Menghindari Underinsurance, Demi Uang Premi Tidak Sia-sia

Adapun, dampak yang muncul dari pendanaan yang diberikan oleh para anak muda itu lewat p2p lending yang fokus di pembiayaan produktif adalah membantu para pengusaha untuk meningkatkan pendapatannya. Dari data Amartha, mitranya yang mendapatkan pendanaan bisa mencatatkan pertumbuhan pendapatan dari 2 kali lipat hingga 7 kali lipat.

Platform p2p lending pun membantu untuk impact investor memilih portofolio bisnis yang dinilai bisa memberikan dampak positif ke masyarakat. Dalam platform itu, setiap debitur yang ingin mencari pemberi pinjaman dana harus mengungkapkan secara transparan secara umum untuk apa uangnya digunakan.

Selain itu, platform p2p lending juga menyediakan data tingkat risiko investasi ke setiap debitur.  Jadi, impact investor bisa menganalisa terkait risiko dan kontribusi bisnis yang butuh modal terhadap dampaknya ke masyarakat. Dengan begitu, investor bisa  memilih impact investing yang sesuai dengan kebutuhan.

Instrumen Impact Investing Lainnya

impact investing

Selain p2p lending, ada  beberapa instrumen investasi lainnya, yakni equity dan securities crowdfunding, saham, reksa dana, dan green bonds.

Khusus equity dan securities crowdfunding bisa dibilang tergolong baru. Ibaratnya, equity dan securities crowdfunding bisa memberikan kemudahan akses impact investor untuk menanamkan uangnya dengan tetap bisa memberikan dampak seperti p2p lending.

Bedanya, equity dan security crowdfunding pendanaannya bukan dengan meminjamkan uang, melainkan membagi kepemilikan bisnis hingga penerbitan surat utang. Namun, platform ini juga memberikan akses bagi impact investor untuk berinvestasi ke sektor berdampak yang sangat potensial.

Baca juga: Peluang dari Podcast, Ini Kiprah Pangeran Siahaan dengan Box2Box

Untuk saham dan reksa dana, impact investing bisa dilakukan lewat indeks Sri-Kehati alias Sustainable and Responsible Investment (SRI-Kehati). Jadi, setiap saham yang tergabung dalam indeks itu adalah saham yang memiliki prinsip keberlanjutan, tata kelola yang baik, dan kepedulian terhadap lingkungan.

Jadi, kamu bisa menjadi impact investor dengan berinvestasi ke beberapa saham yang tergabung dalam indeks SRI-kehati. Ada sekitar 25 saham di BEI yang termasuk ke dalam indeks SRI-kehati tersebut. Beberapa saham big caps yang masuk ke dalam indeks itu antara lain, ASII, BMRI, BBRI, BBCA, TLKM, dan UNVR.

Untuk reksa dana, impact investor  bisa berinvestasi ke reksa dana indeks dan exchange trade fund (ETF) yang mengacu ke indeks SRI-kehati. Selain itu, impact investor juga bisa memilih reksa dana pendapatan tetap yang memiliki eksposur penempatan dana di obligasi hijau.

Green bonds atau obligasi hijau adalah surat utang yang diterbitkan untuk bisnis yang berwawasan lingkungan. Jadi, kamu yang berinvestasi di sana turut membantu berikan dampak untuk lingkungan yang lebih baik.

Untuk saat ini, cara pemain ritel untuk bisa masuk ke green bonds yang paling memungkinkan adalah lewat reksa dana pendapatan tetap.

Dari sini, kita bisa lihat impact investing tidak selalu menawarkan risiko dan keuntungan kecil. Buktinya saja, dengan pendanaan di reksa dana dan saham di indeks SRI-Kehati, risiko investasi bisa diredam dan potensi keuntungan tetap di atas rata-rata instrumen konservatif.

Baca juga: 5 Bekal Sebelum Memulai Investasi Saham

Impact investing di fintech juga memberikan potensi keuntungan yang di atas rata-rata instrumen konservatif dengan risiko yang terukur lewat penentuan grade atau kualitas debitur.

Di sisi lain, ada beberapa perbedaan signifikan antara impact investing di fintech (p2p lending, equity & securities crowdfunding) dengan saham dan reksa dana. Salah satunya impact investing di fintech bisa memberikan dampak secara langsung ke penerima dana investasinya, sedangkan penerima dana investasi dalam saham dan reksa dana tidak merasakannya secara langsung.

Meskipun tidak secara langsung, tetapi pelaku investasi dalam saham dan reksa dana yang memperhatikan impact dari setiap transaksinya tetap memberikan dukungan dengan melakukan aksinya tersebut.

Jadi, kamu siap untuk menjadi impact investor?

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu