Nasib Bandarmologi Bakal Tamat, Ini Dia 2 Alternatif Lain Cara Analisis Saham

654
gaya analisis saham

Keputusan Bursa Efek Indonesia untuk tidak memunculkan kode broker dan jenis investor dalam transaksi real-time memicu kekhawatiran dari pelaku pasar yang menggunakan analisis bandarmologi. Pasalnya, dua komponen itu menjadi alat utama untuk menganalisis ala bandarmologi. Namun, bandarmologi bukanlah satu-satunya cara menganalisis saham. Berikut ini penjelasannya.

Konsep analisis bandarmologi adalah investor ritel mengikuti pergerakan investor besar, yang sering diasosiasikan dengan bandar saham. Pasalnya, investor besar disebut memiliki informasi yang lebih cepat sehingga bisa mempengaruhi aksi transaksi sahamnya.

Untuk itu, konsep analisis bandarmologi menitikberatkan kepada siapa yang melakukan transaksi. Di sini, dua komponen yang bisa dilihat adalah sekuritas dan jenis investornya, asing atau domestik.

Investor asing sering disebut mendapatkan informasi lebih cepat dibandingkan dengan investor lokal. Jadi, ketika investor asing bergerak beli atau jual, itu menjadi sinyal bagi investor yang menganut bandarmologi untuk mengekor di belakangnya.

Baca juga : Investasi Saham vs Emas? Mana yang Lebih Pas untuk Masa Depan

Ada dua istilah yang wajib diketahui dalam analisis saham dengan konsep bandarmologi. Pertama, fase akumulasi, di sini pemain besar disebut mulai membeli saham yang harganya lagi turun secara bertahap. Dengan dana yang besar, aksi beli bertahap ini mulai mengerek harga saham yang sedang turun tadi secara bertahap. Di sinilah, investor penganut bandarmologi akan ikutan gerbong aksi beli pemain besar tersebut.

Kedua, fase distribusi, di sini pemain besar mulai menjual saham yang harganya sudah tinggi secara bertahap. Banyak yang mengartikan, pemain besar sudah mulai mengambil posisi untung di sini dari pembelian akumulasi saat harga rendah. Untuk itu, pemain bandarmologi juga akan mengikuti langkah pemain besar itu untuk mulai melakukan aksi jual. Setelah fase distribusi ini, harga saham pun perlahan akan turun oleh aksi jual tersebut.

Namun, tidak semua saham bisa dianalisis secara bandarmologi, terutama saham berkapitalisasi besar. Penyebabnya, pemain besar sekalipun butuh modal besar untuk menggerakkan harga saham yang memiliki kapitalisasi pasar ratusan triliun rupiah.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Lalu, jika BEI jadi menerapkan penghapusan kode broker dan jenis investor, apakah bakal sulit mendulang cuan lewat saham dalam jangka pendek maupun panjang?  Jawabannya tidak karena ada dua analisis dasar dalam investasi saham yang bisa kamu pelajari selain bandarmologi ini.

Analisis Teknikal

analisis saham

Analisis teknikal adalah analisis saham dengan perangkat statistik mulai dari grafik sampai rumus matematis tertentu. Analisis teknikal akan memperkirakan prospek saham berdasarkan historis grafik harga di masa lalu.

Memang, banyak yang bilang analisis teknikal adalah untuk para trader atau investor jangka pendek. Namun, analisis teknikal juga bisa untuk investor jangka panjang. Nantinya, analisis teknikal akan digunakan untuk masuk di waktu yang tepat dengan target penyimpanan jangka panjang. Nantinya, dia bisa melakukan aksi jual pada saat yang tepat juga.

Ada beberapa komponen dalam analisis teknikal

1.Chart

Tampilan grafik yang menampilkan pergerakan harga saham dalam suatu periode. Dalam analisis teknikal akan muncul juga candle stick dalam grafiknya untuk membantu dalam menganalisis secara teknikal ini.

2. Trend

Trend adalah kecenderungan pergerakan harga saham dalam periode tertentu. Misalnya, salah satu harga saham dinilai dalam trend bullish atau lagi menguat. Lalu, ada juga trend bearish atau lagi turun.

3. Support dan Resistance

Support adalah batasan terendah yang menjaga harga saham tidak akan turun lebih dalam, sedangkan resistance adalah batasan tertinggi yang menjaga harga saham tidak terus naik.

4. Indikator

Indikator adalah alat bantu untuk menentukan waktu masuk dan keluar dari saham tertentu. Beberapa indikator yang sering digunakan dalam analisis teknikal adalah Moving Average, Stochastic, MACD, dan Bollinger Band.

Memang analisis teknikal ini butuh latihan berkali-kali untuk menguasainya. Nah, jika kamu tidak terlalu cocok dengan analisis teknikal. Kamu juga bisa menggunakan analisis fundamental kok.

Analisis Fundamental

analisis saham

Senjata analisis dalam investasi saham lainnya adalah analisis fundamental. Jadi, analisis fundamental adalah menganalisis prospek saham yang dikoleksi berdasarkan fundamental kinerja, posisi valuasi harga saham, sampai kondisi ekonomi makro yang bisa berdampak ke bisnis saham tertentu.

Indikator awal dalam memilih saham secara fundamental adalah mencari yang valuasinya lagi murah. Valuasi harga saham yang murah artinya kinerja keuangannya bagus, tetapi harga sahamnya lagi turun banget gara-gara isu tertentu. Biasanya, saham yang seperti itu disebut saham salah harga.

BACA JUGA: Awas, Bahaya Investasi Saham Tanpa 5 Bekal Ini

Untuk mencari saham salah harga, biasanya indikatornya adalah price to earning ratio (PER) dan price to book value (PBV). Semakin kecil angka PER dan PBV, saham itu makin murah. Biasanya, PER dan PBV suatu saham akan dibandingkan dengan sektor sejenis untuk menentukan apakah saham itu lagi murah atau tidak.

Namun, kecilnya PER dan PBV bukan satu-satunya analisis dalam fundamental. Setelah melihat PER dan PBV, kamu juga harus melihat bagaimana tren profit margin saham itu, kira-kira konsisten atau naik turun.

Lalu, bagaimana penggunaan arus kasnya, apakah arus kas operasinya positif. Artinya bisnis operasional saham itu bisa menghasilkan keuntungan. Lalu, arus kas investasi, apakah negatif atau positif. Jika negatif berarti perusahaan melakukan ekspansi sehingga prospeknya bisa lebih cerah ke depannya, sedangkan kalau positif berarti cenderung menumpuk uang.

Baca juga: Siapkan Dana Darurat, Pilih Reksa dana Pasar Uang atau Emas?

Kemudian, kas pendanaan yang positif dan negatifnya tergantung dari saham itu baru dapat pinjaman, bayar utang, atau bagikan dividen.

Terakhir, dilihat  jumlah utangnya dari utang jangka pendek, jangka panjang, dan rasio utang terhadap modal.

Dari ketiga model analisis saham itu, kira-kira mana yang pernah kamu gunakan?

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu