Berniat Resign di tengah Resesi? Yuk Baca Ini Dulu!

69
resign

Pandemi Covid-19 sudah berlangsung lebih dari setahun dan kita sama-sama tahu betapa dahsyat dampak wabah ini ke segala sendi kehidupan. Hingga 28 Februari, catatan World Health Organization (WHO), virus Covid-19 sudah menginfeksi 113,46 juta orang di seluruh dunia di mana sebanyak 2,5 juta orang di antaranya meninggal dunia karena virus ini.

Di Indonesia, angka kematian bahkan sudah menembus lebih dari 36.000 jiwa. Pandemi ini juga menyeret perekonomian banyak negara ke jurang resesi. Pertumbuhan ekonomi Indonesia terkontraksi sebesar minus 2,07% sepanjang tahun 2020. Angka pengangguran meledak menembus angka 10 juta orang dan mungkin akan terus bertambah bila pandemi ini tak juga usai.

Di tengah kondisi yang serba memprihatinkan, memfokuskan energi untuk menjaga kesehatan dan stabilitas keuangan adalah hal yang lumrah. Namun, bagaimana bila di tengah pandemi yang berat, niat resign sulit untuk ditahan?

Riset yang digelar oleh SilkRoad Technology di Amerika Serikat beberapa waktu lalu, mengungkapkan, 2 dari 5 pekerja di negeri paman sam itu berniat resign dan mencari pekerjaan baru karena kecewa dengan kebijakan kantor mereka dalam merespon pandemi.

Baca juga: Checklist Finansial agar Keuangan Kamu Tetap Kuat Hadapi Pandemi

Sebagian lagi terdorong resign karena kewalahan menghadapi tuntutan kerja dan urusan domestik sekaligus selama kebijakan social distancing diberlakukan. Misalnya, mengurus anak yang sekolah dari rumah, ketiadaan asisten rumah tangga yang terpaksa dipulangkan karena pandemi, dan lain sebagainya.

Bila kamu saat ini terpikir untuk resign atau mundur dari pekerjaan kamu sekarang, jangan tergesa-gesa. Ada banyak faktor yang perlu kamu pertimbangkan supaya keputusan tersebut tidak berbalik menjadi boomerang yang mengancam stabilitas kehidupan kamu. Apa saja yang perlu dipikirkan sebelum memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaan? Simak di bawah ini:

1. Pikirkan lagi matang-matang

resign saat pandemi

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Pandemi yang telah menjungkirbalikkan kehidupan kita tidak disangkal telah mengancam kesehatan mental. WHO melaporkan, 83% dari 130 negara yang disurvei mencatat permintaan terhadap layanan kesehatan mental selama pandemi meningkat secara dramatis. Gangguan kecemasan, pandemic fatigue, depresi hingga pikiran bunuh diri dilaporkan banyak muncul gara-gara wabah terparah dalam 100 tahun terakhir ini.

Jadi, bila kamu saat ini merasa letih, sering cemas dan kewalahan sepanjang waktu menjalankan aktivitas di tengah pandemi, itu adalah hal yang sangat wajar. Apabila hal itu memunculkan keinginan kamu untuk resign, sebaiknya kamu memastikan dulu apakah keinginan itu murni karena masalah pekerjaan atau karena keletihan pandemi? Jangan-jangan yang kamu butuhkan sebenarnya adalah jeda atau cuti sementara dari rutinitas pekerjaan sehari-hari.

Untuk mengetahuinya, kamu bisa mencoba menjawab pertanyaan sebagai berikut:

  • Bila pekerjaan yang kamu jalankan saat ini ditawarkan padamu saat kamu tidak bekerja, apakah kamu akan menerimanya? Bila iya, mungkin resign bukanlah keputusan yang bijak karena sebenarnya kamu masih menyukai pekerjaan itu.
  • Bayangkan seperti apa kehidupan kamu 10 tahun lagi dan bagaimana strategi kamu untuk mewujudkannya? Apakah resign dari pekerjaan saat ini akan memudahkan hal itu tercapai atau justru akan memberatkannya?

2. Rencana lanjutan

Memutuskan melepas pekerjaan di tengah situasi perekonomian yang berat, perlu kehati-hatian ekstra. Apabila keputusanmu bulat ingin resign dari pekerjaan saat ini, apakah kamu berniat berhenti bekerja sepenuhnya atau pindah kerja ke tempat lain yang lebih menjanjikan? Juga, apakah pekerjaan pengganti itu sudah ada? Atau, kamu berniat banting setir berwirausaha?

Baca juga: 5 Hal yang Harus Kamu Lakukan agar Tujuan Keuangan Tidak Gagal karena Pandemi

Apabila kamu berniat resign untuk berhenti bekerja sepenuhnya, itu akan menjadi keputusan yang sangat besar. Di tengah resesi, memiliki pekerjaan dan pendapatan tetap sejatinya adalah sebuah kemewahan. Yakin hendak melepasnya? Bila kamu berniat merintis langkah sebagai wirausahawan, pastikan kamu memiliki backup plan apabila usaha yang kamu rintis tidak berjalan sesuai harapan.

Sedang bila kamu sudah memiliki pekerjaan baru yang sudah pasti, seberapa sustainable pekerjaan itu nanti dalam mendukung stabilitas finansial kamu? Pekerjaan bergaji besar belum tentu bisa memberikan kelanggengan karir.

Begitu juga sebaliknya. Ingat, di tengah resesi, hampir semua korporasi juga berjuang untuk tetap bertahan dengan menempuh efisiensi besar-besaran. Jadi, semua kalangan sejatinya tengah struggling agar bisa bertahan melewati tahun-tahun pandemi ini.

Di sisi lain, apabila keinginan resign tersebut belum diikuti dengan “kepastian” kamu mendapatkan pekerjaan baru, sebaiknya pikirkan lagi secara matang dan rasional. Karena jika pekerjaan kamu saat ini menjadi sumber pendapatan utama untuk membiayai berbagai kebutuhan hidup, terbuka risiko besar terhadap stabilitas finansial kamu.

3. Dana darurat sudah memadai?

Dana darurat sudah memadai

Keputusan berhenti dari pekerjaan atau berpindah ke pekerjaan baru termasuk keputusan besar yang akan berdampak signifikan pada banyak segi kehidupan, terutama finansial. Supaya keputusan resign tak sampai membuat kondisi finansial ikut terguncang, pastikan kamu sudah lebih dulu mengamankan dana darurat ke level ideal.

Dalam kondisi normal, dana darurat yang memadai minimal sebesar enam kali nilai pengeluaran rutin bulanan kamu. Di tengah pandemi dan resesi, kamu sebaiknya memiliki dana darurat lebih dari 6 kali nilai pengeluaran rutin. Ini sebagai antisipasi terhadap guncangan finansial yang lebih besar.

Dana darurat akan meminimalisir guncangan keuangan pribadi kamu manakala muncul kebutuhan-kebutuhan darurat yang membutuhkan dana tunai segera di tengah kondisi tidak ada pemasukan tetap. Dalam konteks keputusan resign, dana darurat bisa menjadi sumber pendapatan sementara di kala kamu masih mencari pekerjaan baru pasca resign atau saat kamu masih menjalankan masa probation di tempat kerja baru. Dana darurat juga bisa menjadi “pegangan” kala usaha yang kamu rintis masih belum menghasilkan pendapatan yang signifikan.

4. Amankan tujuan keuangan jangka pendek

Selain memastikan nilai dana darurat memadai, penting juga bagi kamu untuk lebih dulu mengamankan tujuan keuangan jangka pendek sebelum memutuskan resign dari pekerjaan. Tujuan jangka pendek merupakan tujuan keuangan yang perlu kamu penuhi kurang dari setahun ke depan.

Baca juga: Prinsip Personal Finance Pasca Pandemi, Apa Saja yang Berubah?

Misalnya, kamu harus membayar uang pangkal sekolah anak 4 bulan lagi, atau kamu harus membayar uang sewa rumah yang jatuh tempo beberapa bulan ke depan, dan lain sebagainya. Keperluan-keperluan tersebut harus sudah aman dananya sebelum kamu memutuskan resign yang berisiko menimbulkan guncangan finansial.

5. Ajak bicara significant others

Kadangkala keinginan resign muncul ketika seseorang merasa kelelahan, kewalahan atau bosan dengan rutinitas. Seringkali juga karena seorang pekerja merasa mentok dengan kemajuan karir di tempat kerja saat ini. Sebelum terburu memutuskan, cobalah untuk mengajak diskusi atau meminta pandangan dari orang-orang yang kamu kenal dekat. Misalnya, pasangan, sahabat dekat atau mentor yang selama ini sering kamu ajak diskusi tentang karir.

Seringkali diskusi bisa membantu kamu mendapatkan perspektif baru yang lebih bijak dalam memandang sebuah persoalan atau kondisi. Termasuk perihal keinginan resign. Walau tentu saja, keputusan akhir tetap ada di tangan kamu.

Pada akhirnya, apapun keputusan yang akan kamu ambil akan membawa konsekuensi yang juga harus mampu kamu tanggung. Jadi, pastikan kamu sudah berpikir dan menimbang secara matang sebelum bulat menyerahkan surat resign, ya!

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu