Cari Untung dari Saham, Lebih Baik Capital Gain atau Dividen?

463
investasi saham

Lagi ramai dibahas soal investasi di saham bluechip selama lima tahun malah rugi. Hal ini membuat banyak orang mengambil kesimpulan kalau investasi saham bluechip secara jangka panjang belum tentu menguntungkan.

Nah, sebelum kamu ikut memberikan kesimpulan seperti itu, yuk mari kita bahas soal prospek keuntungan dari investasi saham?

Salah satu keuntungan investasi saham yang selalu dikejar oleh banyak orang adalah capital gain alias kenaikan harga. Memang, salah satu keuntungan yang menggiurkan dari investasi saham adalah kenaikan harga yang bisa berubah secara cepat. Dari perubahan harga itu, investor atau trader membeli di harga murah dan menjual di harga mahal.

Baca juga: Bahaya Investasi Saham Tanpa 5 Bekal Ini

Namun, prospek keuntungan yang besar juga berbanding lurus dengan risikonya. Di balik kenaikan harga, maka ada penurunan harga. Di sinilah, jika masuk tidak pada waktu yang tepat, maka mau itu saham blue chip atau second liner, pasti berpotensi rugi karen penurunan harga tersebut.

Ada banyak cara untuk bisa mencatatkan keuntungan dari capital gain, mulai analisis secara fundamental, teknikal, sampai bandarmology. Di sini, peran analisis adalah masuk alias beli pada waktu yang tepat.

Dalam investasi atau trading saham, cara mengetahui waktu beli yang tepat adalah dengan menganalisis pergerakan harga saham entah dengan kinerja, grafik teknikal, sampai dengan pergerakan transaksi investor besar.

Kamu tidak bisa melakukan aksi beli saham tanpa analisis yang matang. Akhirnya, mau masuk di saham bluechip sekalipun, jika masuk di waktu yang salah bisa berakhir dengan kerugian.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Faktor Penggerak Harga Saham

investasi saham

Lalu, apa sih faktor-faktor yang menaikkan dan menurunkan harga saham? kenaikan dan penurunan harga saham dipengaruhi oleh aksi beli atau jual dalam suatu saham. Jadi, ketika harga saham turun, berarti mayoritas investor yang ada memilih lakukan aksi jual terhadap saham tersebut, begitu juga sebaliknya.

Dari sini, akan muncul pertanyaan kenapa investor membeli atau menjual saham tersebut? ada  beberapa faktor yang memicu aksi beli atau jual oleh investor terhadap saham tertentu.

Pertama, kinerja keuangan, ada empat periode rilis laporan keuangan, yakni April (Kuartal I), Juli (Kuartal II), Oktober (Kuartal III), dan Februari-Maret (Tahunan). Setiap periode rilis laporan keuangan itu, harga saham bisa bergerak naik atau turun sesuai dengan pencapaian kinerja saham tersebut.

Baca juga: Mana yang Lebih Baik? Trading, Kerja Sampingan, atau Investasi Pendapatan Tetap?

Kedua, aksi korporasi, ada banyak aksi korporasi yang bisa dilakukan oleh sebuah saham. Dari deretan aksi korporasi itu, ada yang disukai dan tidak disukai investor. Biasanya, yang disukai adalah aksi korporasi yang bisa berdampak positif terhadap kinerja keuangan, sedangkan yang tidak disukai sebaliknya, yang bisa berdampak buruk terhadap kinerja keuangan.

Beberapa aksi korporasi yang bisa menggerakkan harga saham antara lain, akuisisi dan merger, rights issue, pinjaman utang ke bank atau obligasi, pembagian dividen serta aksi korporasi lainnya.

Ketiga, rumor pasar, biasanya rumor bisa bikin harga saham bergerak liar naik turun tidak peduli bagaimana kinerja keuangannya. Rumor pasar sangat  berhubungan dengan aksi korporasi dan prospek kinerja ke depannya. Namun, rumor pasar tidak selalu terealisasi, ada yang benar-benar cuma sekadar rumor belaka.

Keempat, manajer investasi melakukan perubahan portofolio, bisa dibilang manajer investasi adalah investor dengan dana yang cukup besar di pasar saham. Soalnya, mereka mengelola dana masyarakat dalam bentuk reksa dana. Nah, ada beberapa momen, para manajer investasi mengatur ulang portofolionya agar bisa mencatatkan keuntungan lebih besar. Pada periode ini, harga saham bisa bergerak sesuai dengan aksi para manajer investasi tersebut.

Prospek Keuntungan Saham Selain Kenaikan Harga

INVESTASI SAHAM

Kamu harus tahu ada prospek keuntungan saham selain dari kenaikan harga saham, yakni dividen. Keuntungan saham dari dividen adalah bagian dari pencapaian laba bersih sebuah saham untuk para pemegang sahamnya.

Nah, kalau kemarin ada yang curhat protes investasi saham di bluechip 5 tahun tapi masih rugi, sudah menghitung dengan keuntungan dari dividennya belum ya?

Soalnya, tidak semua saham membagikan dividen, biasanya yang rutin bagi-bagi dividen adalah saham dengan kinerja keuangan yang bagus. Jadi, emiten itu bisa menyisihkan sebagian laba bersihnya untuk pemegang sahamnya.

Baca juga: Langkah Awal Investasi Saham, Meracik Trading Plan Sendiri

Di luar itu, pembagian dividen juga tidak cuma setahun sekali, beberapa emiten ada yang bagikan dividen setahun dua kali sampai empat kali. Kelebihan keuntungan dari dividen ketimbang kenaikan harga adalah nilai aset menjadi bertambah tidak sekadar valuasi seperti kenaikan harga saham.

Jadi, jika kamu menginvestasikan kembali hasil pendapatan dari dividen, berarti portofolio investasi kamu akan bertambah secara riil.

Susahnya Cari Untung dari Dividen

Namun, investor ritel memang merasa untuk mendapatkan keuntungan besar dari dividen itu membutuhkan modal yang besar. Jika hanya memiliki saham 1 lot, potensi pendapatan dividennya paling cuma puluhan sampai ratusan ribu per tahun.

Fakta itu memang tidak salah, keuntungan dari dividen sangat bergantung terhadap jumlah saham yang dimiliki. Semakin besar kepemilikannya, potensi pendapatan yang dimiliki juga makin tinggi.

Namun, bukan berarti investor ritel yang punya modal kecil tidak bisa menikmati keuntungan dari dividen. Ada banyak cara buat investor dengan modal kecil bisa mendapatkan pendapatan pasif dari dividen.

Salah satunya adalah dengan melakukan investasi saham berkala ke saham yang memang royal bagi dividen. Misalnya, kamu menganggarkan untuk investasi ke dua saham yang royal bagi dividen masing-masing Rp500.000 per bulan.

Jika rutin investasi berkalanya, berarti kamu sudah mengalokasikan Rp12 juta untuk 2 saham yang royal bagi dividen selama setahun. Dari situ, kamu bakal dapat dividen yang bisa dijadikan tambahan modal untuk investasi secara berkala.

Hingga nanti nilainya makin besar, maka prospek pendapatan pasif yang bisa dimiliki dari dividen juga makin besar.

Jadi, kamu lebih suka dapat untung berupa kenaikan harga atau jadi tim pemburu dividen saja?

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu