Cara Merasakan Dividen dari Saham dengan Modal Kecil

400
dividen saham

Ketika investasi saham, investor ritel cenderung pesimistis untuk memburu dividen. Mereka justru lebih percaya diri untuk melakukan trading karena menganggap bisa mendapatkan keuntungan dalam jangka pendek dengan modal kecil. Padahal, aksi trading itu lebih berisiko dan bisa menggerus modal kecil para investor ritel.

Dividen dianggap barang mewah karena jika hanya mengoleksi 1 lot alias 100 lembar saham, maka tidak ada artinya dividen dari saham tersebut. Persepsi ini mungkin tidak salah, tapi ada cara agar investor ritel dengan modal kecil bisa mendapatkan dividen yang besar.

Salah satu caranya adalah dengan teknik investasi dollar cost averaging, yakni aksi investasi saham dengan cara terus melakukan top up secara berkala tanpa memikirkan fluktuasi harga saham jangka pendek.

Baca juga: Cari Untung dari Saham, Mending Lewat Capital Gain atau Dividen?

Ada beberapa kelebihan investasi dengan cara dollar cost averaging. Pertama, investor tidak perlu resah setiap detik karena tujuan investasinya adalah jangka panjang.

Kedua, investor memang bisa jadi tidak mendapatkan harga beli termurah, tetapi setidaknya teknik dollar cost averaging bakal bantu meredam risiko beli di harga tinggi. Soalnya, pembelian secara berkala akan membantu meng-average down jika terlanjur beli di harga tinggi.

Lalu, apa hubungan antara dollar cost averaging dengan optimalisasi cuan dividen bagi investor ritel?

Hubungannya adalah dengan teknik dollar cost averaging, kamu bisa mengumpulkan setiap rupiah dividen yang diperoleh untuk diputarkan lagi ke dalam bentuk investasi. Jadi, sekecil apapun hasil dividennya, bisa membantu menambah jumlah aset saham yang dimiliki. Akhirnya, jumlah dividen yang bakal didapatkan bisa bertambah setiap tahunnya.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Lalu, Bagaimana Cara Memilih Saham yang Royal Bagi Dividen?

dividen saham

Ada dua ciri saham yang royal bagi dividen. Pertama, memiliki dividen payout ratio yang besar. Dividen payout ratio menggambarkan seberapa royal emiten berbagi laba bersihnya ke pemegang saham dari pencapaian kinerjanya.

Misalnya, pencapaian laba bersih suatu emiten senilai Rp10 triliun. Lalu, emiten itu bakal membagikan dividen setara dengan 80% dari total laba bersihnya. Artinya, tingkat dividen payout ratio-nya sebesar 80%.

Baca juga: Ini Cara Bisa Dapat Pendapatan Rutin dari Saham

Kedua, memiliki dividen yield yang tinggi. Dividen yield adalah total dividen yang dibayarkan emiten berbanding lurus dengan harga sahamnya.

Dividen yield menjadi penting karena memberikan gambaran ke investor tentang seberapa besar pendapatan pasif yang bisa didapatkan dari dividen yang dibagikan. Dengan dibandingkan lewat modal yang harus keluar saat membeli per lembar saham.

Jadi, dividen yield bisa dibilang gambaran keuntungan dalam satuan per saham.

Nah, saham dengan dividen payout ratio besar belum tentu memiliki dividen yield yang tinggi. Soalnya, dividen yield bakal tergantung jumlah saham yang beredar atau valuasi harga sahamnya sudah sejauh apa.

Semakin banyak jumlah saham yang beredar, meski dividen payout ratio-nya 100%, tetap saja dividen yield bisa terhitung rendah. Begitu juga dengan harga saham yang terlalu tinggi bisa membuat dividen yield tetap rendah, meski dividen payout rationya tinggi.

Pelajaran dari Seorang Janitor

dividen saham

Nah, ngomongin strategi dollar cost averaging dan cara investor ritel modal kecil menikmati hasil dividen, kamu bisa belajar dari seorang tukang bersih-bersih dengan kekayaan Rp112 miliar nih.

Namanya Ronald Read, dia bukanlah investor saham yang termashyur seperti Warren Buffett. Read hanya seorang petugas kebersihan dengan gaji pas-pasan, tetapi dia punya kekayaan sampai 8 juta dolar AS atau setara Rp112 miliar lho.

Baca juga: Indeks Saham yang Membantu Investor Pemula Cari Saham yang Royal Bagi Dividen

Read baru mulai investasi saham pada umur 38 tahun. Kemampuan investasi sahamnya hanya bermodal koran The Wall Street Journal yang dibacanya gratis di perpustakaan.

Setelah memahami investasi saham, Read rajin menyisihkan gajinya yang kecil untuk investasi. Bahkan, hingga akhir hayatnya Read disebut punya 95 koleksi saham yang berbeda.

Sejak 1959-2014, Read tidak pernah menjual saham yang dikoleksinya, malah terus rutin ditambah dari penghasilannya. Dengan strategi itu, Read bisa meredam potensi kerugian akibat gejolak ekonomi sekaligus merasakan pertumbuhan portofolio lewat naiknya harga saham yang dimiliki dalam jangka panjang.

Selain itu, salah satu kuncinya adalah kehidupan Read tetap sederhana, meski dia memiliki harta jutaan dolar AS. Bahkan, akibat terlalu sederhana, banyak orang yang kasihan dengan Read. Namun, Read sadar diri dan selalu menolak bantuan tersebut.

Strategi investasi ala Read itu sampai dipuji oleh investor kawakan Warren Buffett lho. Buffett mengatakan Read adalah pemilih saham yang baik dan berani mengoleksi jangka panjang.

“Hasil investasinya diinvestasikan lagi dan dia mengoleksi perusahaan bagus yang akan membuatnya baik-baik saja sampai 30 tahun lamanya.” ujar Buffett.

Maksud dari Buffett soal hasil investasi yang diinvestasikan lagi adalah Read menggunakan pendapatan dari dividen setiap saham yang dimilikinya untuk membeli saham lagi.

Nah, setelah melihat ini, kira-kira kamu tertarik untuk menjalankan strategi Dollar Cost Averaging dan mengoptimalkan hasil dari dividen untuk meningkatkan jumlah aset yang dimiliki?

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu