Mengenal ROA dan ROE, Indikator Pencari Saham Berkualitas

78
roa dan roe

Bagi para investor saham pemula, pasti kamu pernah mendengar istilah Return on Assset (ROA) dan Return on Equity (ROE). Namun, sering sekali diabaikan pemula karena masih belum paham atau tidak mau berusaha mengerti kedua indikator tersebut. Padahal keduanya bisa menjadi salah satu indikator untuk melihat fundamental saham lho.

Kedua indikator ini mencerminkan tingkat efektivitas manajemen perusahaan dalam menggunakan aset maupun ekuitas untuk menjadi keuntungan. Semakin tinggi persentase ROA dan ROE, tentu kinerja manajemen makin efektif alias mencerminkan fundamental perusahaan cukup baik.

Apa Itu Return on Assets (ROA)?

ROA dan ROE

ROA adalah indikator yang mencerminkan seberapa optimal perusahaan mengelola aset yang dimilikinya untuk menghasilkan laba bersih. Aset di sini gabungan antara aset yang dimiliki perusahaan dan juga liabilitas seperti utang dan sebagainya.

Jika persentase ROA tinggi, berarti perusahaan bisa mengoptimalkan seluruh aset yang dimilikinya untuk menjadi laba bersih. Namun, tidak semua perusahaan bisa mencatatkan ROA yang tinggi.

Rendahnya ROA membuat aset perusahaan bukannya memberikan keuntungan, malah menjadi beban jika mayoritas dalam bentuk utang dan operasional yang tidak menghasilkan uang. Soalnya, keuangan perusahaan malah sibuk untuk bayar utang dan biaya operasional dengan keuntungan yang tipis.

Baca juga: Cara Investor Kecil Menikmati Dividen Saham

Sebagai contoh, dari 10 saham dengan kapitalisasi pasar terbesar pada Maret 2021. Ada tiga saham yang memiliki ROA tertinggi, yakni PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) sebesar 34,89 persen.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Kalau dilihat, kinerja laba bersih UNVR sepanjang 2020 mengalami sedikit penurunan, yakni turun 3,1 persen menjadi Rp7,16 triliun dibandingkan dengan Rp7,39 triliun pada 2019. Namun, tingkat ROA UNVR masih tinggi, artinya UNVR bisa menghasilkan 28% dari total aset yang dimiliki.

Apa itu Return on Equity (ROE)? 

ROA dan ROE

ROE bisa dibilang saudaranya ROA, bedanya ROE menghitung efektivitas manajemen dalam memanfaatkan modal disetor pemegang saham untuk dijadikan keuntungan. Jadi, bisa dibilang melihat program ekspansi dan operasional perusahaan dengan modal pemegang saham ini bisa diubah jadi keuntungan seberapa banyak.

Sama seperti  ROA, semakin tinggi rasio ROE, berarti fundamental perusahaan makin bagus.

Lalu, dari 10 saham big caps, UNVR menjadi yang paling besar ROEnya, yakni 145,09 persen. Nah, nilai ROE Unilever bisa melejit jauh lebih tinggi dibandingkan dengan ROAnya karena perseroan memiliki tingkat liabilitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan ekuitasnya.

Baca juga: Cari Untung dari Saham Mending Capital Gain atau Dividen?

Sampai akhir 2020, total liabilitas UNVR senilai Rp15,59 triliun, sedangkan ekuitasnya cuma Rp4,93 triliun. Artinya, tingkat Debt Equity Ratio (DER) Unilever sudah lebih dari 100%.

DER adalah rasio utang dibandingkan dengan modal. Semakin tinggi DERnya, berarti perusahaan memiliki jumlah utang yang lebih banyak dibandingkan setoran modal dari pemegang saham. Artinya, potensi gagal bayar utang juga cukup tinggi karena modal setoran pemegang saham tidak bisa menutupi jumlah utang yang ada.

Namun, untuk rasio DER mengecualikan saham sektor bank yang pasti memiliki tingkat rasio yang tinggi. Hal itu disebabkan bank memiliki bisnis menghimpun dana masyarakat dalam bentuk tabungan, giro, dan deposito. Lalu, semua tabungan masyarakat itu masuk ke dalam liabilitas sehingga tingkat DER saham sektor bank pasti tinggi.

Lalu, apakah UNVR dengan DER yang tinggi itu berarti jelek? tidak juga karena melihat ROA dan ROEnya yang tinggi. UNVR cukup efektif mengonversi pinjaman menjadi keuntungan yang jauh lebih besar sehingga risiko gagal bayar mungkin sedikit teratasi.

Namun, ROA dan ROE Bukan Indikator Tunggal

Namun, kamu tidak bisa menjadikan ROA dan ROE sebagai indikator tunggal dalam memilih saham. ROA dan ROE hanya bisa dijadikan salah satu cara untuk menyeleksi saham yang layak dikoleksi dari sekitar 700-an saham di bursa.

Setelah itu, kamu bisa mencari lagi saham dengan ROA dan ROE yang bagus, tapi harga sahamnya lagi murah secara valuasi. Di sini, kamu bisa melihat indikator lainnya, yakni price to earning ratio  (PER) alias harga saham dibandingkan dengan laba bersih perusahaan, dan price to book value ratio (PBV) alias harga saham dibandingkan dengan nilai buku perusahaan.

Baca juga: Dua Cara Analisis Saham yang Harus Kamu Ketahui

Dengan indikator PER dan PBV, kamu bisa melihat peluang mendapatkan capital gain dari masuk saham dengan ROA dan ROE tinggi tersebut. Berbeda dengan ROA dan ROE, indikator PER dan PBV akan semakin baik kalau nilainya semakin kecil. Artinya, semakin kecil nilainya, semakin murah harganya.

Dengan PER dan PBV kamu bisa masuk ke saham bagus di waktu yang tepat. Soalnya, kalau kamu nekat masuk di saham yang punya ROA dan ROE tinggi, tetapi harganya sudah mahal secara valuasi. Artinya, kamu harus siap menanggung risiko mengalami capital loss, padahal sudah investasi di saham bluechip.

Jadi, siap untuk jadi value investing?

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu