Tips Mencegah Kerugian Membesar Akibat Saham Delisting

34

Selain penurunan harga saham, satu lagi hal yang bisa merugikan investor di bursa efek. Investor harus menghadapi saham delisting yang biasanya menimbulkan kerugian finansial. Walaupun sebenarnya, investor bisa meminimalisir agar tidak terjebak pada saham delisting.

Delisting adalah penghapusan suatu perusahaan terdaftar dari bursa saham. Delisting menyebabkan status perusahaan berubah dari terbuka menjadi tertutup (privat). Akibat yang ditanggung investor adalah, mau tidak mau harus menjual saham perusahaan sebelum proses delisting tuntas.

saham delisting

Ada dua macam delisting, yakni delisting secara sukarela (voluntary delisting) dan delisting secara paksa (forced delisting). Delisting secara sukarela adalah delisting atas keinginan perusahaan itu sendiri dan tanpa paksaan. Saat delisting sukarela dilaksanakan, perusahaan tersebut akan membeli kembali (buyback) saham di publik dengan harga wajar. Salah satu delisting sukarela yang terkenal adalah dari PT Golden Mississippi Tbk (AQUA).

Baca juga:Mengenal ROA dan ROE, Indikator Pencari Saham Berkualitas

Sedangkan delisting secara paksa, bisa dilakukan Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) setelah memenuhi kriteria tertentu. Kriteria penyebab saham delistik antara lain:

  1. Saham mengalami kondisi atau peristiwa yang secara signifikan berpengaruh negatif terhadap kelangsungan usaha perusahaan tercatat, baik secara finansial atau secara hukum.
  2. Perusahaan tercatat tidak dapat menunjukkan indikasi pemulihan yang memadai.
  3. Saham perusahaan tercatat sudah mengalami suspensi di Pasar Reguler dan Pasar Tunai, dan hanya diperdagangkan di Pasar Negosiasi, sekurang-kurangnya selama 24 bulan terakhir.

Baru-baru ini, BEI mengingatkan potensi delisting sejumlah perusahaan. Salah satunya, BEI memperingatkan potensi delisting saham PT Modernland Realty Tbk (MDLN) pada 30 September 2022 apabila suspensi tak kunjung dibuka. Saham MDLN disuspensi pada September 2020 lantaran emiten properti ini tidak mampu membayar kupon obligasi senilai US$ 150 juta. Dalam perkembangan terbarunya, MDLN mendapatkan perpanjangan moratorium pembayaran kewajiban obligasi yang jatuh tempo pada 2021 dan 2024 dari pengadilan Singapura. BEI juga telah mengumumkan bahwa saham PT Mitra Investindo Tbk (MITI) telah disuspensi selama 24 bulan pada tanggal 12 Maret 2021.

Selain dua saham tersebut, berikut daftar saham yang diperingatkan BEI berpotensi delisting beserta tanggal suspensi memenuhi syarat 2 tahun:

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

  • CNKO – Agustus 2022
  • OCAP – September 2022
  • NUSA – Agustus 2022
  • KRAH – Agustus 2022
  • ETWA – Agustus 2022
  • SIMA – Februari 2022
  • SKYB – Februari 2022
  • RIMO – Februari 2022
  • CMPP – Agustus 2021
  • NASA – Agustus 2022
  • HOME – Februari 2022
  • GOLL – Januari 2021
  • SMRU – Januari 2022
  • NIPS – Juli 2021
  • TRAM – Januari 2022
  • IIKP – Januari 2022
  • LAPD – Juli 2022
  • BTEL – Mei 2021
  • MYRX – Januari 2022
  • TRIO – Juli 2021
  • GTBO – Juli 2022
  • COWL – Juli 2022
  • MGNA – Januari 2022
  • SUGI – Juli 2021

Yang harus dilakukan investor

saham delisting

1. Menjual saham delisting di pasar negosiasi

Investor yang masih menyimpan saham delisting bisa menjual saham tersebut melalui pasar negosisasi. Otoritas bursa biasanya memberikan waktu selama masa suspensi (24 bulan) bagi investor untuk menjual kembali saham delisting melalui pasar negosiasi.

Hanya saja, menjual saham delisting melalui pasar negosiasi tidak mudah. Menjual saham delisting juga cenderung merugikan investor. Harga jual saham delisting bisa sangat murah, jauh di bawah harga di pasar reguler. Sebagai gambaran, harga saham yang tersuspen sebelum delisting biasanya hanya Rp 50 per lembar. Di pasar negosiasi, harga saham tersuspen itu selalu di bawahnya, bahkan bisa Rp 1 per lembar.

Baca juga:Cara Merasakan Dividen dari Saham dengan Modal Kecil

2. Menunggu perusahaan delisting membeli sahamnya kembali

Untuk menekan kerugian karena penurunan harga, investor pemilik saham delisting bisa menunggu perusahaan terkait membeli kembali saham tersebut. Saat ini OJK sudah mewajibkan perusahaan delisting membeli sahamnya yang beredar di publik. Kewajiban tersebut tertuang dalam Peraturan OJK (POJK) Nomor 3 Tahun 2021. Dibanding dijual ke pihak lain, menjual saham ke perusahaan yang delisting bisa mendapatkan harga yang lebih tinggi, mendekati harga saham di pasar reguler.

Berdasarkan ketentuan POJK 3/2021, ketentuan buyback wajib diselesaikan oleh emiten paling lambat 18 bulan setelah pengumuman keterbukaan informasi mengenai perubahan status dari perusahaan terbuka menjadi perseroan yang tertutup. Dalam pasal 75 ayat 2 dijelaskan buybak dapat dilakukan sampai jumlah melebihi 10% dari modal disetor sehingga jumlah pemegang saham tidak lebih dari 50 pihak atau jumlah lain yang ditentukan oleh OJK.

3. Menunggu perusahaan relisting kembali

Jika tidak ingin menjual karena harga turun, investor saham delisting bisa tetap menyimpan kepemilikan saham tersebut, sambil menunggu perusahaan tersebut relisting. Meskipun, strategi ini penuh risiko bagi investor. Terutama untuk perusahaan yang terkena delisting paksa oleh BEI atau OJK.

Perusahaan yang delisting secara paksa menurut ketentuan adalah perusahaan dengan kinerja finansial yang negatif atau terlibat hukum. Ada risiko perusahaan yang delisting paksa akan mengalami kebangkrutan. Walhasil, jangan-jangan untuk kembali terdaftar di bursa, untuk bertahan hidup saja terkadang susah.

Oleh karena itu, sebelum memilih strategi ini, investor harus melihat dan memprediksi bagaimana nasib perusahaan ke depan. Setidaknya, hal yang harus dipertimbangkan adalah grup perusahaan terkait dan prospek bisnis ke depan. Jika perusahaan yang delisting tidak berasal dari grup besar serta tidak memiliki prospek bisnis yang cerah, jangan jalankan strategi ini.

Baca juga:Nasib Bandarmologi Bakal Tamat, Ini Dia 2 Alternatif Lain Cara Analisis Saham

4. Mencegah terjebak di saham delisting

Investor cenderung rugi jika memiliki saham yang terkena delisting. Oleh karena itu, investor harus tetap cermat menaruh dana di perusahaan yang listing di BEI. Biasanya, investor terjebak di saham delisting karena tergiur untung besar. Mereka melihat harga saham yang murah dan terbujuk oleh iming-iming potensi kenaikan harga saham besar pada periode mendatang. Namun, investor tersebut tidak menyangka atau mengetahui jika saham tersebut bakal disuspensi dan berujung delisting.

Untuk mencegah terjebak di saham delisting, investor jangan sembarangan membeli saham. Investor juga jangan hanya ikut-ikutan membeli saham murah. Sebelum membeli saham, terlebih dahulu cari informasi mengenai kinerja perusahaan.

Kamu bisa mendapatkan informasi kinerja perusahaan melalui laporan keuangan perusahaan atau lainnya, yang bisa didapatkan dari berbagai sumber seperti melalui situs BEI, surat kabar, atau situs perusahaan. Pilih saham yang memiliki fundamental kuat, seperti dari sisi pendapatan, beban, utang, dll.

Saham delisting ibarat duri dalam daging. Oleh karena itu, cermat membeli saham jangan tergiur keuntungan besar.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu