Memaksimalkan Investasi Reksa Dana Saham

126
reksa dana

Hallo Valbury, nama saya Venny. Saat ini saya berinvestasi di reksa dana saham di sebuah manajer investasi. Namun saya kurang puas dengan kinerjanya karena sejak berinvestasi lima tahun lalu rata-rata hanya memberi return 3 persen per tahun sementara saya ingin return yang melebihi deposito di bank.

Pertanyaan saya:

Bagaimana memilih manajer investasi yang bagus yang bisa mengelola reksa dana saham sehingga return melebihi bunga deposito?

Lalu apa acuan kinerja reksa dana saham, apakah acuannya bunga deposito atau indeks IHSG?

Berapa tahun sekali saya perlu mengevaluasi reksa dana saham sehingga saya pada kesimpulan perlu berpindah manajer investasi?

Cara mana yang lebih baik dalam berinvestasi di reksa dana saham, investasi berkala tiap bulan (dollar cost averaging), ataukah investasi dalam jumlah besar (lump sum) di awal peluncuran reksa dana karena NAB masih 1000?

Bisa dijelaskan lewat ilustrasi, perbandingan return reksa dana lewat skema dollar cost averaging dengan skema lump sum?

Jawaban

Hi Venny, terima kasih atas pertanyaannya. Kami akan mencoba menjawab. Untuk memilih Manajer Investasi (MI) yang baik kamu terlebih dahulu harus memastikan bahwa MI tersebut sudah terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Daftar MI yang sudah teregistrasi di OJK dapat dilihat pada website https://reksadana.ojk.go.id/Public/ManajerInvestasiList.aspx. Dengan terdaftarnya MI di OJK menunjukkan MI tersebut telah mendapatkan izin dan legal beroperasi di Indonesia serta mendapat pengawasan langsung dari OJK.

Baca juga: Checklist – Seberapa paham Anda dengan Reksa Dana?

Pada hakikatnya reksa dana memang bertujuan memberikan return di atas bunga deposito. Namun dalam prosesnya ada risiko juga yang menyertai ekspektasi return yang lebih tinggi tersebut. Sehingga investor harus memahami dahulu bahwa semakin besar return maka semakin besar juga risikonya.

Jika ingin melihat kinerja reksa dana saham bagus atau tidak kinerjanya, kamu bisa membandingkan dengan acuan kinerja reksa dana saham yaitu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan atau indeks acuan lainnya. Contohnya, untuk reksa dana saham yang tematik: LQ45, IDX80, JII70, dll sesuai dengan alokasi asset pada reksadana tersebut.

Baca juga: Mana yang Lebih Menguntungkan: Investasi Saham Langsung atau Reksa Dana Saham?

Untuk melakukan evaluasi kinerja reksa dana sebaiknya dilihat dahulu jenis reksa dananya. Kami menyarankan untuk reksa dana pasar uang atau money market, evaluasi dilakukani setelah 1 tahun, sementara reksa dana pendapatan tetap (fixed income) evaluasi dilakukan 1-3 tahun. Untuk reksa dana berimbang (balance fund), sebaiknya dievaluasi di atas 3 tahun, dan reksa dana saham (equity fund) di atas 5 tahun.

Strategi investasi di reksa dana ada dua: dollar cost averaging (DCA) dan lump sum (LS). Kedua strategi investasi baik itu dollar cost averaging dan lump sump ini memiliki keunggulan dan kelemahan (dlm hubungannya dengan reksadana saham) masing-masing. Dalam bagan berikut kami jelaskan:

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Ket: Illustrasi reksa dana saham ketika tahun 2008 IHSG bearish (turun) terlihat DCA lebih kecil persentase penurunannya, sementara LS relatif sama dengan IHSG. Hal yang sama juga akan terjadi pada saat IHSG dalam trend bullish yaitu DCA akan lebih kecil kenaikannya dibanding dengan LS.

Baca juga: Prinsip Penting agar Investasi Reksa Dana Berhasil Mencapai Target

Kesimpulan: Strategi DCA cocok utk investor pemula dengan tipe konservatif dan dana yang terbatas; yang dengan cara ini dapat mengurangi resiko gejolak pasar, sedangkan LS biasanya dilakukan oleh investor yang sudah berpengalaman dan telah memahami resiko gejolak pasar.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu