Cerita Afidha Fajar Adhitya Pertahankan Detak Bisnis Eboni Watch

75
eboni watch

Pandemi Covid-19 menyebabkan resesi global. Perekonomian terpuruk, banyak perusahaan bangkrut dan pemutusan hubungan kerja (PHK) terjadi dimana-mana. Tak terkecuali di sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Asosiasi UMKM mencatat sebanyak 30 juta UMKM atau hampir setengah jumlah UMKM di Indonesia gulung tikar selama tahun 2020 akibat pandemi Covid-19. Pada tahun 2019 jumlah UMKM di Indonesia berjumlah 64,7 juta.

Salah satu pelaku UMKM, Afidha Fajar Adhitya, pemilik Eboni Watch, jam tangan kayu juga merasakan beratnya tekanan pandemi akibat virus corona. Detak bisnis Eboni Watch yang berdiri sejak Oktober tahun 2014 hampir sempat terhenti saat pemerintah menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) pada awal pandemi Covid-19. “Awal virus corona adalah periode paling berat bagi Eboni Watch,” ucap Afidha.

Covid-19 menghentikan penjualan Eboni Watch

Pada saat itu, toko-toko, pusat perbelanjaan, pasar, tempat wisata hingga perkantoran tutup sementara. Jaringan toko penjualan Eboni Watch pun juga tidak beroperasi. Padahal, toko-toko untuk penjualan jam tangan kayu Eboni tersebar di banyak kota, seperti Jakarta, Bandung, Solo, Yogyakarta, dan Bali.

Segala perjanjian bisnis yang sudah didapat Eboni Watch batal saat pandemi Covid-19. Sejumlah pesanan dari instansi pemerintah maupun swasta untuk pembuatan cindera mata jam tangan kayu pun batal. Agenda pameran dan bazaar yang menjadi salah satu sumber Eboni Watch menjual jam tangan kayu pun batal terlaksana. Akibatnya, produsen jam tangan kayu dari Bayat, Klaten, Jawa Tengah ini pun tidak bisa mengantongi penjualan.

Baca juga : Gitta Amelia, Pengusaha Milenial Termuda Penerima Penghargaan Forbes

Alumnus Universitas Gajah Mada, Yogyakarta ini pun sempat menghentikan kegiatan operasional bisnisnya saat awal Covid-19 melanda. Belasan karyawan pun terpaksa berhenti bekerja untuk sementara. Afidha terpaksa mengambil strategi ini demi mengamankan arus kas perusahaan.

Bersamaan dengan penghentian kegiatan operasional, pengeluaran yang memakan biaya pun ditutup rapat-rapat. Belanja iklan dihentikan, begitu juga pembelian bahan baku jam kayu disetop total.

Bangkit dengan strategi baru

eboni watch

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Di tengah penghentian sementara operasional bisnis, Afidha berpikir keras, mencari cara menghidupkan penjualan yang mati. “Saya melakukan riset dan mengamati perilaku perubahan konsumen dalam berbelanja dari offline ke online, terutama melalui market place dan Twitter,”

Oleh karena itu, bersamaan dengan penerapan New Normal, Afidha mulai membangkitkan bisnisnya. Pemenang penghargaan People’s Choice di Indonesia Good Design Selection (IGDS) 2020 ini mengubah total strategi pemasaran.

Dari awalnya mengandalkan penjualan melalui jaringan toko dan pameran, Afidha memilih jalur online. Tahap awal, Afidha memanfaatkan media sosial, baik Instagram, Facebook dan Twitter untuk menjual jam tangan kayu Eboni. Lalu, selangkah demi selangkah, pemenang Golden Pin Design Award 2020 di Taiwan ini menambah jaringan pemasaran melalui e-commerce.

Baca juga: Peran Perempuan dalam Bisnis UMKM, Keuntungan dan Tantangannya

Ia membuat akun di banyak e-commerce agar bisa memperluas jaringan pemasaran. Dari marketplasce warna hijau, orange, biru, merah dll, ada akun Eboni untuk menjual jam tangan kayu.

Pelan tapi pasti, seiring perubahan pola belanja konsumen di tengah new normal, strategi ini memberi hasil positif. Detak bisnis Eboni Watch mulai berbunyi. Permintaan jam tangan kayu mulai berdatangan melalui pemasaran digital.

Bahkan, bagian produksi pun mulai kembali bekerja pada awal puasa tahun 2020. Bersamaan itu, seluruh karyawan Eboni Watch juga kembali masuk kerja dengan konsep new normal pasca Lebaran 2020.

Untuk memacu penjualan digital, Eboni juga memanfaatkan jasa endorsement. Umumnya, Eboni mengendorse para selebgram yang memiliki pengikut belasan ribu atau lebih. Sejumlah nama tenar juga diendorse Eboni Watch seperti presenter Debby Permata.

Menurut Afidha, endorsement termasuk strategi penting dalam penjualan jam tangan kayu. Tak heran, Eboni Watch berani membagikan ribuan jam tangan kayu untuk endorsement. Rata-rata, ruang produksi Eboni Watch di Bayat, Klaten, Jawa Tengah sanggup memproduksi antara 12.000 jam sampai 15.000 jam setahun. Sebanyak 10% dari jumlah produksi ditujukan untuk kepentingan endorsement.

Pilihan strategi ini terbukti jitu. Setiap bulan, penjualan jam tangan kayu Eboni Watch terus meningkat. Puncak penjualan terjadi pada bulan Desember 2020 bisa menembus 1.500 unit jam. Sepanjang tahun 2020, hampir seluruh produksi jam tangan kayu Eboni Watch juga ludes terjual, kecuali untuk kepentingan endorsement.

Selalu berinovasi dan memperhatikan arah pasar

eboni watch

Selain perubahan strategi pemasaran, Afidha menyebutkan keberhasilan membangkitkan kembali detak bisnis Eboni Watch karena kombinasi berbagai formula. Pertama, untuk mengatasi krisis seperti akibat pandemi Covid-19 adalah tetap beradaptasi dengan kondisi yang ada. Saat pemerintah menjalankan kebijakan PSBB, mau tidak mau bisnis harus terhenti.

Namun, saat new normal dimulai, Eboni ikut beradaptasi menyesuaikan kondisi yang ada. Jika umumnya, produsen jam tangan kayu menggunakan mesin CNC untuk mengolah bahan baku, Eboni Watch pilih memakai mesin bubut. Harga mesin bubut lebih murah dibandingkan CNC. Biaya perawatan mesin bubut juga lebih murah.

Kedua, Eboni Watch selalu berusaha mengenal siapa dan apa keinginan pasar yang disasar dan mengikuti apa saja permintaan pasar. Saat ini, ada banyak pelaku UMKM di Tanah Air yang memproduksi jam tangan kayu. Namun, umumnya harga jam tangan kayu tersebut cukup mahal dan memiliki ukuran yang lebih besar dari biasanya. Konsumen Eboni Watch ingin mendapat jam tangan kayu dengan harga lebih murah dan ukuran lebih kecil.

Baca juga : Memaksimalkan Investasi Reksa Dana Saham

Eboni Watch menjawab tantangan itu dengan menciptakan jam tangan kayu berbagai model dan ukuran. Dengan inovasi, Eboni Watch mampu menyediakan jam tangan kayu model baru yang variatif, lucu, elegan, hingga mewah setiap bulan. Harga jam tangan kayu Eboni Watch juga murah, sekitar Rp 500.000 hingga Rp 700.000 per unit.

Tak hanya itu, Afidha juga memberikan fasilitas lain bagi Ebonian, sebutan untuk pembeli jam tangan kayu Eboni Watch. Eboni Watch memberikan layanan ganti baterai gratis seumur hidup. Garansi mesin, body dan kaca selama setahun penuh. Konsumen juga bisa meminta grafir nama di bagian dial, strap, backcase dan box kayu.

Ketiga, ulet dan pantang menyerah. Menurut Afidha, setiap pengusaha tidak boleh gampang menyerah dalam kondisi apapun. Bagi Afidha, hal ini juga sesuai dengan makna nama bisnisnya, Eboni, yakni nama kayu dari Makassar yang merupakan kayu terkuat dan bisa tahan, tidak lapuk hingga puluhan tahun.

Kayu eboni memang sempat menjadi bahan baku pembuatan jam tangan kayu oleh Afidha. Namun, setelah pemerintah melarang penggunaan kayu Eboni yang terancam punah pada tahun 2015, Afidha mengalihkan bahan baku ke kayu sonokeling (rosewoood) dan maple dari limbah pabrik gitar di Sukoharjo.

Ke depan, Afidha optimistis bisnis jam tangan kayu bakal terus tumbuh dan berkembang. Oleh karena itu, Eboni Watch berkomitmen akan terus memperluas pasar, khususnya di dalam negeri agar jam tangan kayu bisa dinikmati semua kalangan masyarakat. Meskipun, saat ini Eboni Watch juga sudah menyasar pasar ekspor seperti ke Jepang, Afrika Selatan, dan Eropa. “Targetnya, setiap bulan mampu memacu penjualan hingga tumbuh 5%,” kata Afidha.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu