Redam Risiko Saham Nyangkut dengan Langkah Berikut

331
risiko saham

Banyak investor saham pemula yang nekat menempatkan seluruh dana investasinya ke satu saham saja atau istilahnya all in. Harapannya, saat harga saham itu naik tinggi keuntungan besar bisa didapat. Namun, investasi saham memiliki karakteristik, semakin tinggi potensi keuntungannya, berarti semakin tinggi juga risikonya.

Salah satu risiko dalam investasi saham adalah capital loss alias penurunan harga saham yang membuat nilai aset yang dimliki juga turun. Namun demikian, kerugian dari penurunan harga tidak akan terealisasi sampai saham itu dijual.

Biasanya, investor akan sabar tidak menjual sahamnya saat harga rugi. Mereka berharap harga saham bisa kembali naik sehingga bisa meraup keuntungan. Fenomena ini sering disebut nyangkut alias tidak bisa keluar dengan untung.

Baca juga : Mengenal ROA dan ROE untuk Cari Saham Berkualitas

Kalau saham yang nyangkut itu di bawah 50 persen dari total aset yang dimiliki, investor tersebut masih tenang. Namun, bagaimana kalau jumlah saham nyangkut itu mencapai 100 persen dari total aset yang dimiliki? Nah, untuk itu, ada beberapa tips investasi agar saham tidak nyangkut.

Beli dan Jual Saham Pada Waktu yang Tepat

risiko saham

Masalah utama dari investor yang melakukan all in di satu saham adalah tidak membeli dan jual di waktu yang tepat. Hal itu membuat hasil investasi sahamnya, meski yang dibeli adalah bluechip dan dikoleksi jangka panjang, tetap mengalami kerugian.

Untuk diketahui semua saham, termasuk saham bluechip sekalipun akan mencapai titik harga tertinggi di mana dalam jangka menengah akan kembali ke harga wajarnya. Jadi, saat kamu masuk pasar (beli) di harga tertinggi, berarti harga sahamnya akan cenderung turun ke depannya, meski itu saham blue chip sekalipun.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Ada beberapa cara menentukan harga beli dan jual yang tepat. Pertama, perhatikan rasio valuasi saham price to earning ratio (PER) dan price to book value ratio (PBV). Semakin tinggi angkanya, berarti harga saham semakin mahal. Bagaimana kita tahu PER dan PBV sebuah saham sudah terlalu tinggi? Caranya, kamu harus membandingkan PER dan PBV sebuah saham dibandingkan dengan saham di sektor yang sama. Saham dengan angka PER dan PBV terkecil akan menjadi yang termurah.

Kedua, kamu bisa melihat historis pergerakan harga sebuah saham. Ingat, harga saham ini terbentuk dari mekanisme pasar. Jadi, ketika harga terlampau tinggi, bakal ada aksi jual untuk ambil untung. Lalu, daya beli saham yang harganya terlampau tinggi juga makin rendah. Setelah itu bakal banyak menjual saham yang terlampau mahal dengan harga murah.

Baca juga : Cara Merasakan Dividen dari Modal Kecil

Akhirnya, secara perlahan harga saham kembali turun ke harga wajarnya. Nah, ini bisa kita lihat dari historis harga saham selama 1 bulan, 6 bulan, dan 1 tahun terakhir. Kamu bisa lihat harga tertinggi dan terendah yang pernah dicapainya.

Harga tertinggi di periode tersebut bisa kamu jadikan target price untuk menjual saham, sedangkan harga terendah bisa dijadikan acuan risiko saat membeli di harga saat ini, apakah selisih antara harga saat ini dengan harga terendah terlampau jauh atau dekat.

Jika harga saat ini lebih dekat dengan harga tertinggi, bisa jadi saat ini bukan jadi waktu yang tepat untuk beli. Nah, untuk memutuskan beli atau tidaknya tergantung dari penilaian risiko masing-masing investor.

Average Down

Salah satu cara untuk meredam risiko nyangkut dalam investasi saham adalah dengan melakukan average down. Jika kamu melakukan all in di satu saham dan mengalami rugi, kamu tidak perlu risau karena bisa menurunkan harga saham rata-rata yang kamu miliki di harga rendah.

Seorang investor saham membeli saham X di harga Rp 400 per lembar dengan jumlah 300 lot pada hari Senin. Sampai sebulan berikutnya harga tidak naik malah makin turun alias menjadi saham nyangkut.

Harga saham tersebut pada Selasa turun menjadi Rp300 per lembar. Namun karena punya modal banyak, investor tersebut secara gigih tetap membeli saham itu di harga Rp300 sejumlah 700 lot.

Kemudian, beberapa hari kemudian, harga saham itu naik lagi ke harga Rp373 dan investor itu kemudian membeli lagi saham tersebut dengan jumlah 127 lot.

Dalam perkembangannya, harga saham X itu terus turun ke harga Rp284. Investor itu kemudian membeli lagi saham tersebut dengan jumlah 20 lot. Investor itu terus membeli saham tersebut meski harganya turun karena yakin bahwa penurunan harga itu hanya sementara.

Setelah beberapa kali melakukan pembelian saham, harga rata-rata pembelian saham itu menjadi Rp334, bukan lagi harga awal Rp400. Dengan begitu, secara perlahan rata-rata harga saham yang kamu miliki juga turun, Jadi, ketika harga saham naik lebih tinggi dari Rp334, kamu bisa mendapatkan keuntungan. Kamu tidak perlu menunggu harga saham lebih dari Rp 400 untuk mendapatkan keuntungan.

Namun, untuk melakukan average down, kamu membutuhkan modal juga. Jika modal di rekening sahammu sudah menipis, maka modal untuk average down bakal terbatas.

Baca juga : Cari Untung dari Saham, Mending Dividen atau Capital Gain? 

Average down secara bertahap adalah dengan investasi berkala secara rutin tanpa memikirkan posisi harga sedang turun atau naik. Dengan begitu, kamu tidak perlu pusing menganalisis di awal apakah membeli di saat yang tepat atau tidak.

Coba Diversifikasi Saham

risiko saham

Salah satu cara yang lazim digunakan untuk meredam risiko nyangkut adalah diversifikasi saham. Namun, ini bukan berarti kamu langsung menjadi anti nyangkut ya, tetapi meredam risiko kerugian dari penurunan harga saham.

Ada beberapa syarat yang harus dilakukan dalam diversifikasi saham seperti, pilih saham dari sektor usaha yang berbeda, kombinasi saham yang berkapitalisasi pasar besar dan menengah, serta perhatikan fundamental saham yang dipilih. Poin terakhir penting karena kalau diversifikasinya ke saham yang kurang likuid, berarti tidak meredam risiko apapun.

Dalam melakukan diversifikasi saham, kamu bisa menargetkan untuk memiliki 5 sampai 10 saham sesuai bujet. Nantinya, secara disiplin, kamu berinvestasi secara berkala ke-5 sampai 10 saham dari sektor yang berbeda tersebut dalam jangka panjang.

Berhubung kamu bakal investasi dalam jangka panjang, kamu bisa memilih saham yang royal bagi dividen. Dengan begitu, kamu juga bisa melakukan top up tambahan dari hasil dividen secara bertahap.

Memang, jika kamu memulai dengan modal kecil, dividen yang diterima juga tidak terlalu besar. Untuk itu, kamu bisa mengumpulkan hasil dividen dari ke-5 sampai 10 saham pilihan itu ke reksa dana pasar uang. Ketika sudah terkumpul untuk bisa ditransaksikan saham, kamu bisa menambah kepemilikan di saham-saham tertentu.

Lalu, ketika harga salah satu atau beberapa saham kamu turun, kamu tidak usah risau. Soalnya, kamu sudah memilih saham dengan kinerja baik dan investasi jangka panjang. Jadi, kamu akan melihat keuntungannya dalam jangka panjang.

Dengan diversifikasi saham lewat investasi berkala, kamu juga tidak perlu pusing masuk di waktu yang tepat atau salah. Soalnya, kamu masuk ke berbagai saham secara berkala dengan posisi yang berbeda-beda. Jadi, tinggal menunggu untung dalam jangka panjang saja

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu