Apa Sih Perbedaan Saham Syariah dengan Saham Biasa?

52
saham syariah

Banyak asumsi yang menganggap investasi saham itu seperti judi. Padahal, investasi saham sudah mendapatkan fatwa dari MUI terkait kehalalannya. Apalagi, di Bursa Efek Indonesia juga ada beberapa saham berstatus syariah. Memang, apa bedanya saham syariah dengan non-syariah?

Investasi saham di Bursa Efek Indonesia sudah mendapatkan 17 fatwa DSN-MUI terkait transaksi pasar modal syariah. Tiga diantaranya antara lain, pedoman pelaksanaan investasi untuk reksa dana syariah, penerapan prinsip syariah di pasar modal, dan prinsip syariah dalam mekanisme perdagangan efek bersifat ekuitas di pasar reguler.

Lalu, saham syariah adalah saham yang model bisnisnya tidak bertentangan dengan prinsip syariah di pasar modal. Ada dua jenis saham syariah, yakni saham syariah yang sesuai dengan kriteria dan penerbitan daftar efek syariah, serta saham yang dicatatkan saham syariah oleh emiten sesuai aturan POJK no.17/POJK.04/2015.

Seluruh saham syariah akan dikumpulkan ke dalam Daftar Efek Syariah (DES) yang diterbitkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara berkala setiap Mei dan november.

Kriteria Saham Syariah

saham syariah

Ada beberapa syarat sebuah saham bisa masuk ke dalam daftar efek syariah yang diterbitkan OJK.

Pertama, dari sisi kegiatan usaha emitennya. Kegiatan usaha emiten bukan usaha judi. Kedua, tidak melakukan perdagangan yang dilarang menurut syariah seperti perdagangan yang tidak disertai dengan penyerahan barang atau jasa dan perdagangan dengan penawaran dan permintaan palsu.

Baca juga: Seberapa Paham Kamu dengan Investasi Saham Syariah?

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Ketiga, usaha di luar kegiatan jasa keuangan yang ribawi seperti bank dan perusahaan pembiayaan berbasis bunga juga tidak bisa masuk ke dalam daftar efek syariah. Keempat, tidak melakukan jual beli risiko mengandung unsur ketidakpastian seperti asuransi konvensional.

Kelima, tidak memproduksi, memperdagangkan, atau menyediakan barang atau jasa yang haram dan barang atau jasa yang bisa merusak moral seperti minuman keras (miras). Keenam, tidak melakukan transaksi yang mengandung unsur suap.

Ketujuh, emiten yang masuk daftar syariah harus memenuhi beberapa syarat rasio keuangan seperti, total utang berbasis bunga tidak boleh lebih dari 45 persen dari total aset. Lalu, total pendapatan bunga dan tidak halal maksimal 10% dari total pendapatan.

Daftar Efek Syariah

Sampai November 2020, 424 dari 700-an saham yang ada di BEI berstatus syariah. Ketentuan saham-saham itu adalah syariah sesuai dengan 7 syarat dari BEI dan OJK tersebut.

Selain 424 saham yang sudah melantai di BEI, ada 12 saham yang sudah terbuka, tetapi tidak listing di BEI. Ke-12 saham itu antara lain, PT Grha165 Tbk., PT Langen Kridha Pratyangga Tbk., PT Pondok Indah Padang Golf Tbk., PT Bank Muamalat Indonesia Tbk., PT Indo Setu Bara Resources Tbk., PT Intinusa Selareksa Tbk., PT Jasa Angkasa Semesta Tbk., PT Menara Capital Nusantara Tbk., PT Panasia Filament Inti Tbk., PT Singleterra Tbk., PT Sofyan Hotel Tbk., dan PT Taisho Pharmaceutical Indonesia Tbk.

Emiten ini mempublikasikan ke publik mengenai laporan keuangannya secara periodik per kuartal di situs mereka, juga semua aksi korporasi mereka namun belum melakukan IPO di Bursa sehingga sahamnya tidak dimiliki investor publik dan ditransaksikan di BEI.

Indeks Saham Syariah

Saham Syariah

Nah, kalau jumlah seluruh saham syariah ada sekitar 424 saham. Kamu yang mau koleksi saham syariah jadi bingung dong, kira-kira mana yang menarik nih. Nah, untuk itu, BEI sudah menyediakan 3 indeks saham syariah yang bisa bantu kamu melakukan filter untuk memilih saham berkualitas nih.

Baca juga: Apa Bedanya Asuransi Syariah dengan Konvensional? 

Berikut tiga indeks saham syariah yang bisa kamu jadikan acuan untuk koleksi saham syariah

1. ISSI (Indeks Saham Syariah Indonesia)

Kalau daftar efek syariah itu berisi seluruh saham syariah yang sudah listing maupun tidak listing. Nah, Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) berisi hanya saham yang sudah listing di BEI yang sudah diluncurkan sejak 12 Mei 2011.

Sampai April 2021, ada sekitar 435 saham berstatus saham syariah. Teranyar, saham PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG) yang masuk ke dalam ISSI. Setiap saham yang baru initial public offering (IPO) seperti TAPG bisa langsung masuk ke indeks ISSI jika sudah sesuai dengan syarat syariah.

2. JII (Jakarta Islamic Index)

Berbeda dengan ISSI, JII adalah indeks saham yang berisi 30 saham syariah yang sudah diseleksi BEI dengan beberapa indikator tertentu. Indeks ini sudah meluncur sejak 3 Juli 2000.

Ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi emiten agar masuk indeks ini. Pertama, harus berstatus saham syariah dan sudah tercatat di ISSI minimal 6 bulan terakhir. Kedua, BEI akan melihat 60 saham syariah dengan rata-rata kapitalisasi pasar tertinggi selama 1 tahun terakhir. Ketiga, dari total 60 saham syariah dengan kapitalisasi pasar tertinggi itu, akan dipilih 30 saham syariah dengan rata-rata nilai transaksi harian di pasar reguler yang tertinggi.

Baca juga: 5 Peluang Bisnis Syariah Nan Menjanjikan 

Nah, 30 saham syariah yang tersisa itu bakal menjadi anggota JII selama periode tertentu. JII melakukan evaluasi sebanyak 2 kali dalam setahun.

3. JII 70

JII70 adalah indeks saham syariah beranggotakan 70 emiten yang sudah lolos seleksi dengan indikator perhitungan dari BEI. Perbedaan antara JII dengan JII 70 adalah kamu berpotensi menemukan saham syariah second liner alias kapitalisasi pasar menengah yang potensial.

Indikator perhitungan JII dengan JII 70 hampir sama, yang membedakan hanyalah jumlah saham yang dikumpulkan. Jika JII hanya mengumpulkan 60 saham dengan rata-rata  kapitalisasi pasar tertinggi, sedangkan JII70 mengumpulkan 150 saham dengan rata-rata kapitalisasi pasar tertinggi. Dengan begitu, saham kapitalisasi pasar menengah bisa berpotensi masuk ke indeks ini.

Dari total 150 saham syariah yang lolos seleksi kapitalisasi pasar, BEI bakal memangkasnya jad 70 saham syariah di indeks JII70 dengan indikator rata-rata transaksi harian tertinggi di pasar reguler.

Nah, setelah mengetahui tips memilih saham syariah yang mudah ini, kamu siap koleksi deretan saham syariah?

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu