Jangan Ditiru, Inilah Penyebab Investor Pemula Gagal Raih Cuan di Saham

44
investor pemula

Investor senior di pasar saham Indonesia, Lo Kheng Hong dipastikan panen dividen milyaran rupiah pada tahun ini. Salah satunya, Lo Kheng Hong mendapat dividen Rp 23,5 miliar dari investasi di saham kontraktor pertambangan PT Petrosea Tbk (PTRO).

Lo Kheng Hong merupakan salah satu investor ritel sukses di bursa saham Indonesia. Keberhasilan Lo Kheng Hong turut mendorong banyak orang ikut bermain saham dalam beberapa tahun terakhir. Ditambah lagi, munculnya aplikasi trading saham juga turut memudahkan masyarakat menjadi investor di bursa efek.

Menurut data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per akhir April 2021, jumlah single investor identification (SID) pasar modal mencapai 5.088.093 investor. Jumlah investor tersebut meningkat 31,11 persen dari posisi akhir 2020 yang sebanyak 3.880.753 SID. Dengan demikian, sepanjang 4 bulan pertama tahun 2021 ini ada penambahan 1.207.340 investor baru yang masuk ke pasar modal Indonesia.

Jika melihat beberapa tahun terakhir penambahan jumlah investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan peningkatan yang signifikan. Pada akhir 2018 lalu, jumlah investor saham hanya mencapai sebanyak 1,61 juta investor. Kemudian, per akhir tahun 2019, jumlah investor saham tumbuh 53,41 persen menjadi sebanyak 2,48 juta investor. Selanjutnya pada tahun 2020, jumlah investor pasar modal tumbuh 56,21 persen menjadi 3,88 juta.

Tentu saja, tidak semua investor saham bisa langsung mencapai kesuksesan seperti Lo Kheng Hong. Terutama investor pemula, banyak yang mengalami kegagalan dan harus merelakan kehilangan dana akibat harga saham terjun bebas. Agar tidak mengalami nasib yang menyedihkan, simak beberapa faktor yang sering menyebabkan investor pula gagal meraih cuan.

1. Menunda investasi

Kegagalan investasi yang fatal dilakukan investor pemula adalah menunda-nunda investasi. Terutama anak-anak muda yang baru mulai bekerja biasanya mengulur-ulur waktu untuk investasi. Ada saja alasan untuk menunda investasi, seperti menunggu waktu yang tepat, menanti gaji naik, ingin bersenang-senang dulu, dll.

Padahal semakin lama menunda waktu berinvestasi, semakin sempit juga waktu untuk mencapai tujuan keuangan pada masa mendatang.Terlalu lama menunda investasi juga semakin besar hilangnya potensi keuntungan yang bisa didapatkan.

Oleh karena itu, setelah kamu memiliki pendapatan, segera sisihkan untuk investasi. Apalagi saat masih muda dan kebutuhan hidup belum banyak, ini ada saat tepat untuk berinvestasi. Sebagian besar pendapatanmu bisa digunakan untuk investasi.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

2. Tidak memiliki tujuan dan target investasi yang jelas

Ini adalah kesalahan yang sering dilakukan investor pemula. Banyak investor yang sekadar melakukan investasi tanpa menetapkan target dan tujuannya. Secara gampang, investor pemula menganggap investasi untuk masa depan. Padahal, ada banyak kebutuhan di masa depan. Setiap kebutuhan membutuhkan biaya yang beragam dan portofolio investasi berbeda.

Baca juga : Langkah Awal Investasi Saham, Meracik Trading Plan Sendiri

Tujuan investasi sangat berkaitan dengan jumlah uang yang bisa terkumpul pada masa mendatang, potensi imbal hasil dan tingkat risiko. Jika kamu ingin mengumpulkan uang untuk biaya liburan atau beli handphone baru dalam 1 tahun ke depan, janganlah berinvestasi di saham atau reksadana saham. Investasi saham atau reksadana saham lebih cocok untuk jangka panjang. Untuk investasi jangka pendek, pilihan portofolio investasinya antara lain deposito, reksadana pasar uang, atau peer to peer lending.

3. Memiliki harapan terlalu tinggi

investor pemula

Kesuksesan Lo Kheng Hong sebagai investor saham memang menakjubkan. Wajar saja, banyak investor pemula memiliki harapan yang besar untuk mendapatkan banyak dividen seperti Lo Kheng Hong.

Hanya saja, banyak investor pemula tidak menyadari, mengharapkan keuntungan investasi besar juga sebandingkan dengan risikonya. Masalahnya, risiko yang besar tersebut tidak atau belum masuk dalam perhitungan investor pemula. Saat harga saham turun, investor pemula sudah khawatir dan ketakutan.

Atau dalam kasus lain, investor pemula menginginkan keuntungan yang besar, tapi mereka takut mengambil risiko. Investor pemula hanya berinvestasi di portofolio yang berisiko kecil. Oleh karena itu, tingkat keuntungan yang didapatkan jauh dari ekspektasinya.

4. Salah pilih saham murah

Ada ratusan saham yang ditransaksikan di BEI dengan harga saham dari 50 perak hingga puluhan ribu rupiah per lembar. Nah, seperti transaksi perdagangan pada umumnya, seseorang menginginkan harga beli yang murah lalu dijual dengan mahal. Pun demikian di bursa efek, investor ingin membeli banyak saham murah, dengan harapan bisa menjual lebih mahal.

Namun, banyak investor pemula salah memahami strategi investasi ini dengan membeli saham harga murah namun sejatinya memang saham tersebut berasal dari perusahaan yang tidak bagus. Bukannya untung, harga saham tersebut tidak naik-naik atau bahkan malah turun.

Sebenarnya, pengembalian tingkat investasi saham tidak hanya bergantung pada berapa banyak jumlah lembar saham yang kamu miliki, tapi bagaimana masa depan perusahaan tersebut. Kamu bisa mendapat keuntungan lebih besar jika membeli sedikit saham prospektif daripada membeli ribuan saham recehan.

Baca juga : Mengenal ROA dan ROE, Indikator Pencari Saham Berkualitas

5. Tidak berani mengambil risiko

Perekonomian selalu berubah-ubah seperti halnya sebuah roda. Terkadang, ekonomi berada di bagian atas yang berarti sedang dalam kondisi bagus. Namun, ekonomi juga bisa berada di bawah, yang artinya sedang terpuruk atau mengalami krisis.

Saat ekonomi krisis, pasar saham tertekan. Harga saham juga rontok (bearish), sehingga menimbulkan kekhawatiran bagi sebagian investor. Harga saham yang berjatuhan menyebabkan nilai asetnya turun. Krisis ekonomi menimbulkan pesimisme bagi investor pemula. Biasanya, investor pemula menyikapi krisis ekonomi melalui dua cara, yakni melepas saham karena takut harga semakin jatuh lagi atau menahan (hold) saham sambil menunggu pasar kembali bangkit.

Sedangkan bagi investor berpengalaman, krisis ekonomi merupakan saat yang tepat untuk menambah investasi saham. Harga saham sedang jatuh sehingga menjadi lebih murah dibandingkan biasanya. Investor berpengalaman berani mengambil risiko dengan berbelanja saham saat krisis sehingga bisa mendapatkan keuntungan besar ketika ekonomi pulih.

6. Mudah terpengaruh fluktuasi harian

investor pemula

Faktor lain penyebab investor pemula gagal berinvestasi saham adalah terlalu sering mengecek pergerakan nilai portofolio yang dimilikinya. Padahal, harga saham sangat fluktuatif setiap hari. Terlalu sering melihat pergerakan harga saham bisa berdampak negatif terhadap perilaku dan kepercayaan diri investor pemula.

Saat harga saham naik, tentu menjadi kabar yang menyenangkan. Namun, ketika harga saham turun, bisa menurunkan kepercayaan diri investor pemula. Bahkan, bisa menimbulkan kepanikan sehingga investor pemula melupakan strategi dan target investasi yang ditetapkan.

Untuk mencapai target investasi, investor pemula harus fokus dan rutin berinvestasi. Boleh melihat nilai saham dari portofolio yang dimiliki, tapi jangan berlebihan. Lebih baik abaikan fluktuasi nilai investasi harian dari saham yang kamu miliki jika belum melakukan analisis dan evaluasi lebih lanjut.

Baca juga : Checklist: Seberapa Paham Anda Tentang Investasi Saham?

7. Tidak ada diversifikasi saham

Terpaku pada satu atau dua saham saja dan tidak melakukan diversifikasi ke saham lain juga merupakan faktor kegagalan yang sering dilakukan investor pemula. Tingkat keuntungan yang bisa diperoleh dari berinvestasi pada satu atau dua saham bisa sangat besar, tapi risikonya juga tinggi.

Pepatah mengatakan, jangan menyimpan semua telur dalam satu keranjang. Karena jika keranjang terjatuh, semua telur bisa pecah.

Sebarlah investasimu pada saham di berbagai sektor. Karena, dalam kondisi krisis pun, tidak semua sektor ekonomi terpuruk. Oleh karena itu, jika ada saham dari sektor tertentu yang terpuruk, saham dari sektor lain diharapkan bisa memberikan keuntungan yang bisa menutup kerugian tersebut.

8. Tidak mengevaluasi strategi investasi secara teratur

Faktor lain penyebab kegagalan investor pemula adalah membiarkan portofolio investasinya berjalan sendiri tanpa kendali. Padahal, ibarat kendaraan yang berjalan, ada kalanya sopir harus menginjak gas dengan kencang atau dilepas sambil menekan rem.

Memang investasi dilakukan untuk persiapan dana di masa depan. Namun, investor harus mengevaluasi strategi investasinya secara teratur. Investor harus mengevaluasi portofolionya secara periodik sesuai kondisi kinerja perusahaan dari saham tersebut dan perekonomian. Dengan demikian, investor bisa mengetahui kapan saat tepat untuk menambah kepemilikan saham atau menjualnya agar meraih keuntungan optimal.

9. Tidak sabar dan mudah putus asa

Tidak sabar dan mudah putus asa juga termasuk faktor penyebab kegagalan investor pemula. Investor pemula biasanya hanya melihat satu sisi dari keberhasilan orang lain. Seperti contoh keberhasilan Lo Kheng Hong, investor pemula melihat hanya sisi manisnya saja yakni saat mendapatkan jatah dividen.

Padahal, ada unsur kesabaran dan kegigihan Lo Kheng Hong dalam mencapai keberhasilan tersebut. Untuk saham PTRO, investor kawakan tersebut mengaku sudah memilikinya lebih dari 10 tahun. Ia sendiri lupa sejak kapan memiliki saham PTRO. Catatan BEI menyebut, Lo Kheng Hong tercatat sebagai pemilik saham PTRO di atas 5% sejak tahun 2013. Artinya, ia sangat sabar melewati fluktuasi harga selama bertahun-tahun.

Siapkah kamu bersabar untuk mendapat cuan besar?

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu