Jangan Putus Asa Jika Investasi Merugi, Simak Penyebab dan Langkah Perbaikannya

28
Investasi

Setiap investor pasti menginginkan portofolio investasinya menghasilkan keuntungan besar. Harapannya adalah, imbal hasil investasi tersebut bisa menjamin dan memenuhi kebutuhan finansial pada masa depan.

Namun, jalan tak selamanya lurus dan mulus. Terkadang investasi tidak menghasilkan fulus.

Karena investasi juga mirip seperti orang berdagang. Untung bisa diraih, tapi terkadang juga datang rugi yang tidak diundang.

Sudah jelas, tidak ada yang ingin rugi dalam investasi. Oleh karena itu, agar kamu bisa meraih cuan, kenali penyebab kegagalan investasi sebagai berikut:

1. Hanya ikut tren

Layaknya mode berpakaian, ada tren yang berganti-ganti dalam dunia investasi. Seperti saat ini, investasi mata uang kripto atau crypto currency seperti Bitcoin, Ethereum, Degocoin dll sedang naik daun dan menjadi sorotan banyak investor besar. Sebelumnya, ada tren investasi melalui peer to peer lending, saham, reksa dana, dll.

Baca juga : Awas, Bahaya Investasi Saham Tanpa 5 Bekal Ini

Untuk kamu yang masih pemula, jangan berinvestasi hanya mengikuti tren atau ikut-ikut omongan teman dan bujuk rayu iklan. Tanpa mengenali profil dan risiko portofolio investasi tersebut, investasi akan cenderung mendatangkan kerugian dibandingkan keuntungan.

2. Tidak mengenali profil risiko

investasi

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Setiap investor dan produk investasi memiliki profil risiko yang berbeda-beda. Ada risiko rendah, moderat, dan tinggi. Setiap profil risiko berbanding lurus dengan potensi hasil investasi.

Misalnya, investasi dengan risiko rendah seperti deposito memiliki tingkat keuntungan yang rendah, yakni sekitar 4%-5% per tahun. Kemudian, investasi dengan risiko moderat seperti reksa dana memiliki potensi keuntungan yang lebih besar mencapai 5%-10%, tapi juga ada potensi imbal hasilnya lebih kecil dari 5%. Sedangkan profil investasi berisiko tinggi seperti saham, kripto currency memiliki potensi keuntungan di atas 20%, tapi juga bisa merugi jika kondisi bursa saham sedang terpuruk.

Nah, kegagalan investasi sering terjadi karena investor memiliki portofolio yang menjanjikan keuntungan besar, namun tidak siap akan risikonya. Atau mereka tidak diberitahu pihak pengelola investasi mengenai risiko investasi ini saat ditawarkan untuk berinvestasi.

3. Tidak memiliki tujuan investasi yang jelas

Tanpa target yang jelas, investasi yang kamu lakukan tidak ada gregetnya. Dana yang disisihkan untuk investasi cenderung ala kadarnya dan sangat minimal, atau bahkan investasi tidak dilakukan secara rutin, sehingga meski sudah berlangsung cukup lama tidak ada hasil yang terkumpul.

Oleh karena itu, seperti orang bepergian, investasi juga harus memiliki tujuan. Tentukan target yang ingin kamu capai dengan melakukan investasi. Apakah kamu ingin mengumpulkan uang Rp 200 juta untuk biaya pernikahan, membeli mobil, atau kebutuhan lainnya. Targetkan juga jangka waktu yang akan kamu lakukan dalam investasi tersebut.

Adanya target jumlah dana dan jangka waktu, akan memacu investor menyisihkan dananya untuk investasi. Kamu akan termotivasi melakukan investasi jika ada target yang jelas. Pastikan juga kamu konsisten mencapai target tersebut. Disiplinlah memenuhi rencana dan target yang ingin dicapai.

4. Terlalu berharap keuntungan jangan pendek

Umumnya, investasi dalam jangka panjang lebih menguntungkan dibandingkan jangka pendek. Salah satu buktinya adalah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal tahun 2011, tepatnya pada 3 Januari dibuka di level 3.727,52. Setelah 10 tahun, yakni 4 Januari 2021, IHSG berada di level 6.104,89. Dengan demikian, tingkat keuntungan investasi saham dalam jangka 10 tahun hampir 100%.

Namun, investasi jangka panjang membutuhkan kesabaran. Masalah terjadi, karena umumnya investor pemula memiliki kesabaran yang tipis dan berharap keuntungan dalam waktu singkat.

Baca juga : Barang Seni, Investasi Menguntungkan Bagi Para Kolektor

5. Tidak melakukan analisis

Dahulu, orang hanya mengenal produk bank seperti deposito dan tabungan berjangka untuk investasi. Kini portofolio investasi semakin beragam, mulai dari obligasi ritel, saham, reksa dana, logam mulia, mata uang kripto, dll.

Namun, tidak seluruh instrumen investasi tersebut cocok untuk semua orang. Sebelum berinvestasi, teliti dahulu instrumen investasi. Kenali karakterisik dan risiko yang bisa terjadi pada masa datang.

6. Fokus berinvestasi satu tempat, tanpa melakukan diversifikasi

Kata bijak yang selalu disampaikan para perencana keuangan dan pakar investasi adalah jangan menyimpan telur dalam satu keranjang. Maksudnya adalah jangan menaruh seluruh dana investasimu dalam satu instrumen saja. Karena jika keranjang terjatuh, semua telur bisa pecah.

Investasi bisa gagal total, jika kamu hanya memiliki satu instrumen saja. Jika instrumen itu merugi, nilai investasimu bisa anjlok, bahkan hilang total. Oleh karena itu, lakukan diversifikasi dalam berinvestasi. Sebarkan dana investasimu ke berbagai instrumen investasi yang cocok dengan profil risiko.

7. Terlalu fanatik pada perusahaan tertentu

Cinta buta tak hanya terjadi antar sesama manusia. Investor terkadang juga memiliki rasa cinta berlebihan atau fanatik terhadap satu instrumen atau perusahaan tertentu yang membuatnya enggan beralih ke produk lain.

Terlalu fanatik pada perusahaan atau saham tertentu bisa terjadi karena keuntungan yang besar pada tahap awal. Namun, saat imbal hasil investasi menurun, investor tersebut masih mengharap keuntungan bisa kembali besar seperti semula.

Padahal, ketika perusahaan atau saham tak lagi menjanjikan keuntungan yang sama seperti tahap awal saat berinvestasi, jangan ragu mempelajari peluang investasi di perusahaan lainnya. Jangan bertahan hanya karena fanatik.

8. Terlalu percaya diri mengambil risiko

investasi

Terlalu percaya diri sehingga berani mengambil risiko besar adalah kesalahan yang sering mengakibatkan kegagalan investasi. Memang, terkadang kamu harus berani mengambil risiko untuk mencapai target. Namun risiko yang terlalu besar beserta rasa percaya diri berlebihan bisa menjadi pemicu hancurnya investasi kamu.

Lihatlah dalam sebuah pertandingan balap mobil atau motor. Untuk memenangi pertandingan, tidak hanya butuh gas guna memacu kecepatan, tapi juga memerlukan rem. Investor handal harus tahu saatnya mengeluarkan full power dan kapan harus menghentikan investasinya.

Baca juga : Strategi Menghindari Penipuan Berkedok Investasi

Cara menghadapi kegagalan investasi

Risiko investasi selalu berbanding lurus dengan potensi keuntungan yang diberikan. Namun, dibalik risiko yang ada, investasi adalah salah satu cara terbaik untuk mengamankan finansial di masa depan. Oleh karena itu, jika investasi gagal, jangan putus asa. Lakukan hal-hal berikut dalam menghadapi kegagalan investasi:

1. Jangan panik dan stress

Jangan panik dan stres saat investasi yang dilakukan gagal. Tetap tenang, karena kepanikan dan stres menyebabkan orang tidak bisa berfikir dan bisa mendatangkan masalah baru.

2. Evaluasi penyebab kegagalan

Setelah bisa berfikir tenang, segera evaluasi strategi investasi. Temukan apa penyebab kegagalan investasi. Telusuri dan investigasi secara mendetil terhadap sumber masalah kegagalan investasi.

3. Konsultasi kembali dengan para ahli

Jangan sendirian menghadapi investasi yang gagal. Konsultasikan dengan teman atau bahkan para ahli perencana keuangan dan pakar investasi untuk menemukan solusi atas investasi yang gagal. Kepada konsultan tersebut, kamu juga bisa belajar kembali tentang strategi investasi, profil risiko dll sehingga tidak mengulang lagi kegagalan investasi karena permasalahan yang sama.

4. Atur kembali strategi investasi

Ingat, kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Kegagalan adalah awal untuk memulai yang baru. Setelah menemukan penyebab dan solusi atas investasi yang gagal, segera atur kembali portofolio investasimu. Cari alternatif instrumen investasi lainnya agar tidak kembali mengulang kegagalan.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu