Gagal di Bangku Kuliah, Surya Aditya Putra Sukses Ekspor Kerajinan Perak

80
Sweda, cincin perak, perhiasan perak

Pendidikan adalah salah satu jalan untuk menuju kesuksesan. Namun, kegagalan menyelesaikan pendidikan bukan berarti pintu kesuksesan tertutup. Sudah banyak pengusaha yang membuktikan bahwa gagal mencapai pendidikan tinggi tak menghalangi jalan untuk menjadi pengusaha sukses.

Seperti yang dialami Surya Aditya Putra yang tak berhasil meraih gelar sarjana di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Meski pendidikan kesenian yang ia jalani tidak lulus tapi jiwa seni Surya sudah diakui pasar luar negeri dan para pesohor.

Dalam akun LinkedIn, Surya mengakui ia drop out dari ISI Yogyakarta. Kegagalan Surya secara akademis ini bukan lantaran ia tak mampu mengikuti mata kuliah. Ternyata, pria asal Kotagede Yogyakarta ini sibuk merintis bisnis industri kreatif yang mengabungkan potensi di tanah kelahirannya dan jiwa seni di dalam tubuhnya.

Baca juga: Cerita Afidha Fajar Adhitya Pertahankan Detak Bisnis Eboni Watch

Kotagede merupakan salah satu kecamatan di Yogyakarta yang terkenal sebagai pusat kerajinan perak. Sedangkan Surya yang kala itu menjadi mahasiswa ISI, Yogyakarta suka menggambar dan membuat desain.

Awalnya, Surya memang gemar memakai cincin perak. Namun, karena desain cincin perak yang dihasilkan para perajin di sekitar tempatnya tinggalnya tak memuaskan, Surya memilih membuat rancangan sendiri. Setelah gambar jadi, Ia meminta pengrajin di sekitarnya untuk merealisasikan desain rancangannya menjadi cincin.

Ternyata, banyak teman kuliah yang menyukai cincin perak milik Surya. Teman-teman kuliah itu juga meminta Surya membuatkan cincin perak dengan desain tersendiri. Peluang bisnis ini tak disia-siakan oleh Surya.

Sweda, cincin perak, perhiasan perak

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Meskipun, langkah Surya menekuni bisnis pengrajin perak sempat mendapat keraguan dari pihak keluarga. Alasannya, meskipun tinggal di kota yang terkenal dengan kerajinan perak sejak dulu, tapi tidak ada aliran darah sebagai perajin perak dalam keluarga Surya. Setidaknya, sampai kakek buyutnya Surya tidak ada yang bergelut di bisnis kerajinan perak.

Apalagi, bisnis kerajinan perak di Kota Gede kala itu tengah lesu. Selain faktor penjualan yang melemah, nasib kelangsungan industri perak di Kota Gede terancam kandas karena regenerasi perajin yang tersendat. Banyak anak muda enggan meneruskan bisnis kerajinan perak milik orang tuanya.

Namun, pria kelahiran 1994 ini bersikukuh menekuni bisnis kerajinan perak. Surya bersama-sama saudara dan teman-temannya, Ardyan Bagas Marestu, Syah Rizal Anwar, dan Taufik Hidayat meluncurkan Sweda Kustom Ring. Produk yang dihasilkan menggunakan brand singkat, Sweda.

Kata Sweda berasal dari bahasa Jawa yang berarti jari tangan. Hal ini lantaran, fokus awal bisnis Sweda adalah menghasilkan cincin perak. Meskipun kemudian, Sweda juga membuat beragam produk aksesoris lain yang juga berbahan perak.

Membidik Pasar Luar Negeri

Sadar dengan kondisi bisnis kerajinan perak di Kotagede tengah lesu, Surya menyiapkan beragam strategi yang berbeda. Umumnya, pengrajin perak di kota yang terletak di wilayah tenggara Yogyakarta itu menjual sebagian besar produknya ke pasar domestik. Sweda memilih mengoptimalkan penjualan di pasar luar negeri.

Baca juga: Gitta Amelia, Pengusaha Milenial Termuda Penerima Penghargaan Forbes

Alasannya, konsumen luar negeri lebih menghargai hasil kerajinan tangan. Terutama pembeli dari Amerika Serikat dan Eropa bersedia membayar mahal produk kerajinan tangan. Biasanya, Sweda menjual satu cincin dengan harga USD 150 hingga USD 250 atau sekitar Rp2,1 juta hingga Rp3,6 juta untuk pasar ekspor. Perbedaan harga tergantung detail dan kompleksitas desain. Sedangkan untuk pasar domestik, harga cincin Sweda lebih murah, mulai Rp800.000 hingga Rp2 juta.

Sweda memasang harga cincin perak cukup mahal karena seluruh tahapan produksi berlangsung secara tradisional. Untuk mengukir cincin, para pengrajin menggunakan teknik tatah yang hanya bisa dilakukan oleh orang berpengalaman. Teknik tradisional ini memberikan jaminan kualitas dan detail produk yang lebih baik dibandingkan cincin buatan pabrik dengan metode pembuatan cor.

Medsos untuk branding dan marketing

Selain itu, Sweda juga mengembangkan pemasaran secara online. Berbeda dengan pengrajin perak di Kotagede, pemasaran hanya berlangsung offline atau menjual langsung di lokasi dan pameran-pameran. Sedangkan Sweda memanfaatkan media sosial untuk branding dan marketing, terutama melalui akun instagram, sweda.co.

Akun ini ibarat pameran online selama 24 jam nonstop. Di akun ini, Sweda memamerkan seluruh karyanya dengan menggandeng tokoh terkenal sebagai peng-endorse. Selain itu, Sweda juga menunjukkan proses pembuatan cincin secara tradisional ke netizen sebagai edukasi bagaimana semua karya dibuat secara handmade. Tentu saja, akun ini berperan penting terhadap penjualan Sweda. Pasalnya, pengikut akun sweda.co cukup banyak, mencapai 17.900 followers.

Kolaborasi dengan brand dan tokoh ternama

Sweda, cincin perak, perhiasan perak

Untuk menembus pasar luar negeri, Sweda mencoba memasarkan produknya melalui berbagai cara. Salah satunya dengan menggandeng brand internasional untuk berkolaborasi. Yang pertama berhasil dirangkul adalah brand Us Versus Them dari California, Amerika Serikat sekitar tahun 2019. Awalnya, Sweda mengirimkan sampel cincin dan video cara pembuatannya ke Us Versus Them. Usaha ini mendapat respons positif, sehingga Sweda dan Us Versus Them berkolaborasi dengan sistem pre-order untuk membuat 200 pieces cincin.

Keberhasilan kolaborasi dengan Us Versus Them mempermudah Sweda menembus pasar Amerika Serikat. Oleh pemilik Us Versus Them, Sweda direkomendasikan untuk memasarkan produknya ke berbagai komunitas yang menggemari produk perak. Hasilnya, sejumlah komunitas di Amerika Serikat seperti Mongol Motocycle Club dan Vijietos Car Club menjadi konsumen Sweda.

Tentunya, Sweda juga memanfaatkan nama besar brand dan komunitas tersebut untuk memacu penjualan. Menggunakan media sosial, foto-foto produk Sweda beserta brand dan komunitas itu dipamerkan secara online. Sweda juga terus berusaha menggandeng musisi terkenal yang menggemari silver jewerly untuk meningkatkan penjualan.

Terbukti, pemasaran secara online ini menarik sejumlah public figure dan musisi besar seperti OG Slick, Bone Thug N Harmony, Machine Gun Kelly dan rapper Joey Bada$$, serta atlet skateboard Christian Hosoi untuk membeli produk Sweda. Bahkan, brand ternama Tribal malah menghubungi Sweda sendiri untuk memesan produk secara langsung.

Strategi ini berhasil memacu penjualan Sweda di luar negeri. Hampir 80% penjualan Sweda adalah penjualan ke luar negeri, khususnya Amerika Serikat. Setiap bulan, omzet Sweda sebesar Rp 100 juta sampai Rp 200 juta.

Selalu berinovasi

Pada dasarnya, ada dua jenis produk yang dihasilkan Sweda, yakni original dan custom design. Yang dimaksud produk original adalah produknya dihasilkan dihasil dan didesain langsung oleh para pengrajin di Sweda. Sedangkan custom design adalah produk yang didesain sendiri oleh konsumen maupun saat kolaborasi.

Baca juga: Membantu Milenial Membangun Hunian Impian: Inilah Profil Aruna Harsa, Sosok di Balik Dekoruma

Dari dua jenis produk tersebut, Sweda selalu menekankan adanya inovasi. Di setiap kolaborasi dengan tokoh atau brand terkenal, Sweda selalu memiliki konsep dan berinovasi membuat produk yang berbeda.

Inovasi juga jadi kunci Sweda untuk memperluas bisnis. Sweda membuat usaha turunan yakni Brassco by Sweda. Label ini membuat kalung pendan, aksesori kendaraan, dan aksesori lainnya seperti pengait dompet hingga bros. Hasilnya, Brassco by Sweda bisa mendatangkan omzet Rp 80 juta hingga Rp 150 juta dalam sebulan.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu