Cara Mudah Beternak Uang Melalui Pasar Modal

343
cara investasi, pasar modal

Jalan menuju kaya raya semakin banyak dan terkadang tidak harus dengan banting tulang memeras keringat. Kini, orang yang tinggal di rumah saja pun bisa menjadi kaya raya. Bukan karena pelihara babi ngepet, kamu bisa menjadi orang kaya namun dengan beternak uang melalui pasar modal. Di pasar modal, kamu bisa mengembangbiakkan uangmu agar beranak menjadi lebih banyak.

Ya, sejak beberapa tahun terakhir, masyarakat semakin menggemari cara beternak uang melalui pasar modal. Jumlah investor ritel di Bursa Efek Indonesia terus bertambah setiap tahun. PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat per akhir tahun 2018 hanya terdapat 1.619.372 investor pasar modal. Setahun kemudian atau akhir tahun 2019, jumlah investor pasar modal meningkat 53,41% menjadi 2.484.354.

Jumlah investor pasar modal kembali meningkat sebesar 56,21% menjadi 3.880.753 pada akhir tahun 2020. Kemudian, hingga Mei 2021 terjadi pertumbuhan jumlah investor pasar modal sebesar 38,43% menjadi 5.372.094. Artinya, kurang dari tiga tahun, jumlah investor pasar modal meningkat hampir 3x lipat.

Kenaikan jumlah investor terutama berasal dari anak-anak muda. Bahkan kini generasi milenial mendominasi jumlah investor pasar modal Indonesia. Berdasarkan data KSEI per Mei 2021, persentase investor muda dengan usia di bawah 30 tahun mencapai 58,09%.

Lalu, berdasarkan profesi, kalangan pelajar yang menjadi investor di pasar modal mencapai 27,68%. Kemudian, ada ibu rumah tangga yang juga menjadi investor pasar modal dengan kontribusi 4,57%.

Data ini menunjukkan, untuk menjadi investor pasar modal tidak perlu harus menunggu usia matang. Sejak di bangku sekolah/universitas, sudah bisa beternak uang di pasar modal. Menjadi investor pasar modal juga tidak butuh kepandaian khusus, karena ibu rumah tangga pun bisa.

Modal untuk menjadi investor pasar modal juga tidak besar. Kini, hanya dengan dana Rp 100.000 bisa menjadi investor dengan membeli reksa dana atau saham.

Saham dan reksa dana adalah portofolio investasi yang paling populer di masyarakat. Jumlah investor reksa dana adalah terbanyak kedua setelah investor saham di pasar modal. Hingga Mei 2021, jumlah investor reksa dana mencapai 4.695.428, naik 47,87% dibanding akhir tahun 2020 yang hanya 3.175.429. Jumlah investor reksa dana saat ini juga meningkat hampir 5x lipat dibandingkan akhir tahun 2018 yang baru sebanyak 995.510.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Kamu bisa beternak uang melalui banyak instrumen investasi di pasar modal. Agar kamu lebih paham portofolio investasi yang tersedia di pasar modal, simak penjelasannya sebagai berikut

  • Saham

cara investasi, pasar modal

Saham adalah surat berharga sebagai tanda penyertaan modal seseorang atau pihak (badan usaha) pada suatu perusahaan atau Perseroan Terbatas. Harga saham dihitung per lembar, tapi untuk pembelian saham di Bursa Efek Indonesia minimal 1 lot (100 lembar).

Baca juga: Apa Sih Perbedaan Saham Syariah dengan Saham Biasa?

Investasi saham memiliki risiko tinggi tapi juga bisa memberikan keuntungan besar. Keuntungan bisa didapat jika harga jual saham meningkat di atas harga pembelian. Namun jika harga jual saham turun di bawah harga pembelian, investor rugi. Oleh karena itu, investasi saham cocok untuk investor dengan profil risiko agresif.

Dalam investasi saham, investor dapat dibedakan dalam tiga kategori berikut, berdasarkan panjang waktu penyimpanan aset:

1. Trader, adalah para investor yang tidak menyimpan asetnya, biasanya dalam satu hari yang sama aset yang dibeli sudah dijual lagi. Hal ini membutuhkan keahlian mendalam dalam menganalisa saham yang hendak diperjualbelikan

2. Swing Investor, adalah para investor yang menyimpan asetnya hingga suatu waktu tertentu ketika target keuntungannya diperoleh.

3. Long term investor, adalah para investor yang menyimpan asetnya dalam jangka waktu yang panjang untuk memiiliki bagian dari perusahaan tersebut.

Baca juga: Cara Merasakan Dividen dari Saham dengan Modal Kecil

  • Reksa dana

Sesuai Undang-undang (UU) Pasar Modal Nomor 8 Tahun 1995 Pasal 1 ayat 27, reksa dana adalah suatu wadah yang digunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal yang selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh Manajer Investasi (MI) yang sudah mendapat izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Oleh karena itu, reksa dana terdiri dari bermacam-macam jenis, yaitu:

1.Reksa Dana Pasar Uang (Money Market Funds), yang memiliki kebijakan berinvestasi 100% pada efek bersifat utang dengan jatuh tempo kurang dari 1 (satu) tahun, seperti: tabungan, deposito, giro, Obligasi Ritel Indonesia (ORI) atau sukuk ritel. Produk ini cocok bagi kamu yang memiliki profil sangat konservatif.

2.Reksa Dana Pendapatan Tetap (Fixed Income Funds), dengan kebijakan melakukan investasi sekurang-kurangnya 80% dalam bentuk efek bersifat utang. Disebut pendapatan tetap karena surat utang secara konsisten mendapatkan pembayaran bunga yang tetap dari penerbitnya. Reksa dana ini memiliki risiko yang relatif lebih besar daripada reksa dana pasar uang. Karenanya cocok bagi kamu yang memiliki profil konservatif.

3.Reksa Dana Campuran (Discretionary Funds), dengan kebijakan berinvestasi sekurang-kurangnya 79% pada instrumen saham, obligasi, dan pasar uang secara sekaligus/ tidak diperbolehkan melakukan kombinasi terhadap 2 instrumen saja. Meskipun begitu, porsi masing-masing instrumen boleh beragam, cocok bagi kamu kamu yang memiliki profil moderat.

Baca juga: Ini Strategi Menyulap Investasi Reksa Dana yang Rugi Menjadi Untung

4.Reksa Dana Saham (Equity Funds), dengan kebijakan berinvestasi sekurang-kurangnya 80% dalam bentuk saham. Merupakan jenis produk dengan kebijakan paling agresif karena sebagian besar investasinya dilakukan pada saham, dimana risikonya lebih tinggi dari tiga jenis Reksa Dana sebelumnya. Meskipun begitu, reksa dana saham bisa menghasilkan tingkat pengembalian yang tinggi. Produk ini cocok bagi kamu yang memiliki profil agresif.

  • Obligasi

Obligasi adalah surat utang yang diterbitkan perusahaan atau negara (pemerintah) dalam jangka waktu tertentu. Obligasi merupakan portofolio investasi berpendapatan tetap yang cocok untuk investor dengan profil risiko kecil (konservatif) atau sedang (moderat). Karena, obligasi memberikan pendapatan tetap bagi investor.

Ada banyak obligasi yang bisa menjadi sarana beternak uang di pasar modal, yakni:

1. Obligasi korporasi yang merupakan obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan swasta nasional termasuk BUMN dan BUMD.

2. Surat Utang Negara (SUN) atau surat berharga yang diterbitkan oleh pemerintah sesuai dengan UU No.24/2002, antara lain obligasi dengan kupon tetap (seri FR- Fixed Rate), obligasi dengan kupon variable (seri VR –Variable Rate), termasuk juga obligasi ritel Indonesia (ORI) dll.

3. Sukuk korporasi yang merupakan instrumen berpendapatan tetap yang diterbitkan berdasarkan prinsip syariah sesuai ketentuan Bapepam & LK Np. IX.A.13 tentang Efek Syariah.

4. Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) yang merupakan surat berharga yang diterbitkan oleh pemerintah berdasarkan syariah Islam sesuai dengan Undang-Undang No.19/2008 Tentang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN).

5. Efek Beragun Aset (EBA) yang merupakan efek bersifat utang yang diterbitkan dengan Underlying Aset sebagai dasar penerbitan atau agunan. Misalnya EBA BTN dimana investor mendapatkan pemasukan dari tagihan KPR yang telah dibeli oleh penerbit EBA dari Bank BTN. Aset yang diagunkan adalah tagihan KPR yang perform atau pembayarannya lancar.

Sumber keuntungan investasi di pasar modal

cara investasi, pasar modal

Dengan menaruh uang di beragam portofolio investasi di atas, investor bisa mendapatkan keuntungan dari sejumlah hal, yakni:

  • Capital gain

Capital gain adalah selisih antara harga beli dan harga jual suatu saham atau reksa dana. Kamu bisa mendapatkan capital gain jika bisa menjual saham atau reksa dana lebih mahal dibandingkan harga beli. Misalnya, awal tahun 2020 kamu membeli saham ABCD pada harga Rp 5.000 sebanyak 100 lot (1 lot = 100 lembar), sehingga total dana yang diinvestasikan adalah Rp 5.000 x 10.000, yakni Rp 50 juta. Setahun kemudian, kamu menjual saham tersebut saat harga saham ABCD naik menjadi Rp 6.000. Dengan demikian, nilai penjualan seluruh saham yang kamu dapatkan adalah Rp 6.000 x 10.000, yakni Rp 60 juta. Jadi, capital gain yang kamu dapatkan Rp 10 juta.

  • Dividen

Dividen adalah pendapatan perusahaan yang dibagikan kepada para pemegang saham secara regular. Perusahaan biasanya membagikan dividen setahun sekali atau dua kali. Oleh karena itu, hanya investor yang memiliki saham sebelum cum date saja yang bisa mendapatkan dividen. Cum date atau singkatan dari cumulative date merupakan tanggal penentuan bagi para investor yang berhak mendapatkan dividen dari perusahaan tersebut.

Besaran dividen dihitung per lembar saham. Misalnya, saham ABCD membagikan dividen sebesar Rp 500 per saham. Maka, dengan pemilikan saham sebesar 100 lot, kamu bisa mendapatkan dividen Rp 500 x 10.000 yakni Rp 5 juta.

  • Kupon

Kupon juga sering disebut tingkat bunga obligasi, yakni imbal hasil dalam nilai tertentu yang akan diterima para pemegang obligasi. Kupon ini dibayarkan secara periodik, mulai dari bulanan, kuartal, semester hingga tahunan.

Ada dua jenis kupon obligasi yakni fixed coupon ataupun floating coupon. Fixed coupon adalah besaran kupon yang diberikan tetap sepanjang masa penerbitan obligasi hingga jatuh tempo. Floating coupon adalah besaran kupon yang berubah-ubah menyesuaikan indikator tertentu, misalnya suku bunga Bank Indonesia (BI).

Bagaimana, banyak sekali bukan instrumen investasi di pasar modal yang bisa kamu gunakan untuk mengembangkan kekayaan? Pilihan ada di tangan kamu dengan tetap memperhatikan prinsip investasi: High Risk High Return dan Jangan Menaruh Semua Telur di Satu Keranjang atau jangan menempatkan semua danamu di satu aset saja ya.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu