Mau Mulai Investasi, Pilih Reksa Dana atau Saham?

137
investasi, reksa dana, saham

Mana yang kamu lebih pilih, investasi di reksa dana dulu saja atau langsung ke saham. Mungkin itu bisa jadi dua pilihan yang sulit karena keduanya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Banyak orang yang bilang untuk pemula lebih baik masuk reksa dana dulu saja. Alasannya, investasi di reksa dana, uangnya dikelola oleh manajer investasi profesional. Jadi, kamu tidak perlu pusing lagi mengatur investasi ke saham apa saja yang bagus.

Namun, ada juga yang beranggapan kalau investasi di reksa dana itu keuntungan yang didapatkan kurang optimal. Soalnya, investor tidak punya kendali mengatur aset investasinya. Lalu, ada biaya manajer investasi yang artinya bakal memangkas potensi keuntungan investasimu.

Kalau begitu, mana yang lebih baik?

1. Reksa dana

investasi, reksa dana, saham

Reksa dana memang digadang-gadang instrumen investasi yang cocok untuk pemula. Ada beberapa kelebihan dari reksa dana seperti, dana investasi dikelola oleh manajer investasi profesional, jumlah modal investasi bisa mulai dari Rp100.000, dan banyak pilihan portofolio yang bisa diinvestasikan. Jadi, kamu bisa berinvestasi ke jenis reksa dana yang sesuai dengan profil risikomu.

Baca juga: Mengoptimalkan Investasi di Reksa dana Saham

Jadi, secara umum ada empat jenis reksa dana. Keempat jenis reksa dana itu adalah, pasar uang, pendapatan tetap, campuran, dan saham. Di luar itu, ada lagi jenis reksa dana mulai dari reksa dana dolar AS, reksa dana indeks, exchange traded fund, dan sebagainya.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Namun, untuk pemula kamu cukup tahu 4 jenis reksa dana itu saja. Berikut karakteristik ke-4 jenis reksa dana.

Untuk kamu yang profil risiko konservatif alias tidak siap dengan risiko besar, kamu bisa menempatan dana di reksa dana pasar uang.

Reksa dana jenis ini bisa dibilang rendah risiko. Soalnya, mayoritas uang bakal ditempatkan ke deposito bank. Rata-rata manajer investasi menempatkan ke deposito bank kecil yang bunga simpanannya bisa lebih besar.

Namun, risiko yang rendah berarti tingkat keuntungan juga tidak setinggi di saham.

Selain itu, kalau profil risikomu moderat, artinya sudah siap menerima risiko investasi, tetapi tidak dalam jumlah besar.

Baca juga: Ini Strategi Menyulap Reksa dana Rugi Jadi Untung

Jika kamu sudah masuk tahapan ini, berarti kamu sudah siap untuk investasi ke reksa dana pendapatan tetap dan campuran.

Reksa dana pendapatan tetap itu biasanya berisi produk reksa dana yang mayoritas penempatan investasinya ada di obligasi negara maupun korporasi. Sisanya, dana disimpan ke deposito bank.

Berbeda dengan reksa dana pendapatan tetap, reksa dana campuran mengkombinasikan penempatan di surat utang dengan saham.

Untuk reksa dana saham , mayoritas penempatannya ada di saham. Untuk itu, tingkat risiko investasi di reksa dana saham juga hampir mirip dengan investasi langsung di saham.

Adapun, beberapa kelemahan produk reksa dana adalah penempatan dana investasi kurang transparan. Biasanya, hanya 5 portofolio terbesar yang dipublikasikan ke publik lewat fund fact sheet. Selain itu, ada potongan biaya manajer investasi.

2. Saham

investasi, reksa dana, saham
Robinhood: Commission-free stock trading and investing app

Saham adalah salah satu instrumen investasi primadona, meski cryptocurrency sempat naik daun. Namun, untuk investasi saham, kamu membutuhkan beberapa pengetahuan.

Pengetahuan itu seperti, kemampuan analisis saham secara fundamental dan teknikal sampai membaca laporan keuangan.

Memang, bisa dibilang jika kamu investasi langsung di saham keuntungannya bisa lebih optimal. Misalnya, keuntungan dari kenaikan harga bisa dikombinasikan langsung dengan pendapatan pasif dari dividen. Namun, tetap saja ada beberapa risiko dalam investasi saham.

Baca juga: 8 kesalahan investasi Warren Buffett

Beberapa risiko itu antara lain seperti, floating loss alias kerugian yang belum terealisasi akibat penurunan harga saham. Ini memang hal wajar, tapi kalau penurunannya sangat dalam juga bikin jantungan.

Selain floating loss, risiko investasi langsung ke saham adalah adanya potensi delisting saham yang dikoleksi. Risiko delisting ini bisa diredam jika kamu mampu menganalisis saham lewat laporan keuangannya.

Lalu, investasi saham juga dibutuhkan pengetahuan lebih dalam dari segi teknik analisis dan pemahaman laporan keuangan. Belum lagi, kamu juga harus meluangkan waktu untuk menganalisis saham apa yang cocok.

Nah, setelah membaca tulisan ini, kamu lebih pilih investasi ke reksa dana dulu atau langsung ke saham?

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu