Tiga Indikator Utama Cari Saham Diskon

197
indikator saham diskon

Ada beberapa cara dalam mencari saham yang murah. Sejauh ini, ada tiga indikator utama yang sering dijadikan acuan untuk mencari saham murah.

Ketiga indikator itu antara lain, price to earning ratio (PER), price to book value ratio (PBV), dan EV per Ebitda. Mana yang paling ampuh?

1. Price to Earning Ratio (PER)

indikator saham diskon

Secara makna, PER adalah indikator yang membandingkan harga saham dengan pencapaian laba bersih per saham. Artinya, jika harga saham naik, sedangkan laba bersihnya tetap, berarti angka PER akan menjadi tinggi. Ketika angka PER menjadi tinggi, berarti harga saham sudah dinilai terlalu mahal.

Lalu, apa saja yang bisa menyebabkan PER menjadi turun atau rendah sehingga bisa dibilang murah?

BACA JUGA: Berikut 8 Keputusan Investasi Warren Buffett yang Berujung Penyesalan

Pertama, harga saham tetap, tapi laba bersih melejit. Namun, kejadian ini jangan langsung berkesimpulan kalau harga saham murah itu adalah emiten yang bagus.

Kamu harus menelisik lebih dulu apa yang menyebabkan kenaikan laba. Soalnya ada dua kemungkinan kenaikan laba, karena faktor pertumbuhan bisnis atau penjualan aset.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Faktor yang kedua yang bisa menjebak para investor dalam menilai sebuah saham.

Namun, indikator PER cukup membantu untuk screening saham yang laba atau rugi. Kalau PER sebuah saham minus, berarti emiten itu sedang mengalami kerugian.

2. Price to Book Value Ratio (PBV)

indikator saham diskon

PBV adalah indikator untuk value investing dengan membandingkan harga saham terhadap nilai buku.

Nilai buku bisa dibilang adalah modal investasi yang harus dikeluarkan oleh seorang investor untuk mendapatkan aset perusahaan. Intinya, nilai buku adalah harga per saham dari total nominal modal disetor.

Biasanya, angka nilai buku selalu lebih rendah dibandingkan dengan harga saham. Artinya, semakin rendah PBV berarti harga saham bakal lebih murah.

BACA JUGA: Untuk Para Newbie, Bagaimana Cara Menilai Harga Saham?

Namun, indikator PBV ini sering menjebak juga. Soalnya, rata-rata perusahaan dengan PBV kurang dari 1 adalah perusahaan kecil, perusahaan yang bisnisnya lagi lesu, atau perusahaan bermasalah. Penilaian dari PBV pun tidak mutlak, seperti halnya penilaian dengan PER.

Selain menggunakan rasio PBV, ada juga rasio PBV standard deviation band, yakni ketika PBV sebuah saham berada di area -2 standar deviation. Artinya, saham itu masih murah. Sebaliknya kalau PBV ada di area +2 standard deviation, berarti PBV sudah terhitung mahal.

3. EV/Ebitda

EV per Ebitda adalah rasio yang menghitung Enterprise Value dan Ebitda. Indikator Ebitda adalah laba kotor sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi.

Lalu EV adalah angka yang menunjukkan besarnya value dari suatu perusahaan. Namun, EV ini berbeda dengan kapitalisasi pasar.

Kalau kapitalisasi pasar itu mengkalikan jumlah saham beredar dengan harga saham, sedangkan EV adalah nilai kapitalisasi pasar ditambah utang dan dikurang kas.

Sebenarnya, bisa dibilang EV/Ebitda ini hampir mirip dengan PER. Namun, pola perhitungannya memang agak berbeda.

BACA JUGA: Apa Bedanya Saham Syariah dengan Bukan?

EV/Ebitda bakal sangat efektif untuk menghitung valuasi perusahaan yang memiliki utang besar. Biasanya, perusahaan besar yang punya utang jumbo, PERnya tidak bisa dihitung.

Intinya adalah, ketiga indikator ini tidak ada yang mutlak bisa menentukan harga murah atau tidak. Soalnya, dengan formula yang berbeda, hasil interpretasi data juga berbeda. Satu hal yang pasti, ketiga indikator itu memiliki fungsinya masing-masing.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu